
Satu jam setelah Arini dibawa ke UGD akhirnya dokter keluar dari dalam ruangan. Orang yang pertama kali berdiri adalah Arsen, dia langsung menghalangi Dokternya dan bertanya tentang keadaan Arini. "Dok gimana keadaan istri saya? " Tanya Arsen. Dokter yang bername tag Hermawan itu langsung melepas masker medisnya kemudian melihat ke arah Arsen. "Ini hanya pendarahan biasa, ibu Arini dalam keadaan baik baik saja. Fisik pasien tidak kuat untuk melahirkan secara normal. Saya sarankan untuk dia melakukan operasi caesar. Untuk yang lainnya tidak ada masalah" Semuanya langsung bernafas lega setelah mendengar bahwa Arini baik baik saja. Tapi tidak dengan Arsen, dia masih mengkhawatirkan keadaan Arini.
"Kalau begitu saya permisi dulu, pasien akan segera kami pindahkan ke ruang rawat biasa. Setelah Dokter itu pergi Arsen berniat untuk masuk ke dalam tapi seorang suster melarangnya untuk masuk. " Maaf Pak untuk saat ini pasien tidak dapat diganggu, bapak boleh melihatnya nanti ketika pasien sudah dipindahkan" Suster menutup pintu UGD dengan perlahan lalu pergi dengan membawa data data rumah sakit Arini. "Arsen, sudah berapa kali papa bilang sama kamu. Kamu harus menjaga istrimu bukan mengabaikannya. Kalau seandainya istrimu meminta sesuatu itu jangan dilarang. Ibu hamil memang suka begitu. Papa tahu kamu tidak suka dibohongi dan papa tahu kamu juga pergi ke restoran. Tapi alasan kamu meninggalkan Arini saja sudah salah. Kamu sudah dewasa jangan bertingkah kekanak kanakan. Umurmu sudah 36 tahun sedangkan istrimu masih dua puluh satu. Dia masih labil apalagi dalam keadaan hamil seperti itu" Ucap Garda.
"Jangan egois, untung saja Arini tidak kenapa napa. Coba kamu pikir seandainya saja Arini kenapa napa kamu malah kehilangan harta yang paling berharga dalam hidup kamu. Yaitu ketiga anak anakmu atau bahkan Arini juga" Max benar benar kesal dengan Arsen. Sehingga dia memberinya nasehat sekaligus sindiran yang telak buat Arsen. "Aku tahu aku salah" Arsen tidak mengelak lagi dia sudah mengakui kalau dirinya bersalah. Mila berjalan menghampiri Arsen kemudian mengelus pundaknya. "Mama harap kamu belajar dari kejadian hari ini" Arsen mengangguk. Matanya terus menatap ke arah pintu ruangan UGD itu.
Sementara di dalam ruangan, Arini hanya termenung. Dia sudah sadar sejak tadi hanya saja dia masih belum diperbolehkan bergerak oleh dokter. Arini terus memegang perutnya, dia takut akan kehilangan calon anak anak yang ada di dalam perutnya tersebut. Arini mengingat kejadian yang membuatnya seperti ini. Dia akan mengejar Arsen tapi tiba tiba saja perutnya terasa sakit dan dia mengalami pendarahan. Ini adalah kali pertama Arini merasakan pendarahan karena selama ini dia tidak pernah mengalami hal yang seperti ini.
Gabriel dan Shila yang mendengar berita Arini masuk rumah sakit, mereka langsung bergegas untuk menjenguknya. Bahkan mereka sampai membolos mata kuliah terakhir. Rasa khawatir mereka lebih penting dari mata kuliah mereka. Tapi setibanya disana ternyata mereka masih tidak diperbolehkan masuk terlebih dahulu. Dikarenakan Arini akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Jadi mereka berdua harus menunggu untuk bisa menemui Arini. "Ceritanya gimana sampai Arini mengalami pendarahan seperti itu? " Tanya Gabriel Pada Via. Via melirik ke arah Arsen sebentar kemudian mulai menceritakan semuanya pada Shila dan, Gabriel. Shila dan Gabriel mengangguk begitu saja setelah mendengar cerita dari Via.
.
.
Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, yang pertama kali masuk adalah Arsen. Arsen membuka pintu dengan perlahan dan melihat Arini yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Arsen mendekat pada Arini dan menggenggam kedua tangannya. "Maaf" Arsen menciumi tangan Arini berkali kali. Tapi Arini hanya menoleh sebentar kemudian kembali menatap ke arah lain. "Maafin Daddy ya? Daddy janji gak akan mengulangi lagi" Ucap Arsen pada perut Arini. Seandainya yang dikatakan Max benar mungkin Arsen akan menjadi orang yang paling hancur karena kehilangan semua harta berharganya