Hot Daddy

Hot Daddy
Salahmu



Arini mulai menguap, sedari tadi ketiga sahabatnya tidak membiarkannya tidur siang walau hanya sejenak. Mereka terus memaksa Arini untuk bercerita. Hingga akhirnya mengalirlah ceritanya untuk mereka. Mulai dari Arsen yang berpikir ia gendutan hingga Arini yang memeriksakan dirinya pada dokter kandungan disana. "Jadi begitu ceritanya, gue juga gak nyangka kalau gue bisa hamil seperti ini" Arini mengelus perutnya yang masih rata. Kehamilannya masih berusia satu minggu dan tentu saja masih belum ada perubahan selain tubuh Arini yang sedikit gemuk.


"Seharusnya lo sih gak kaget ya Rin, lo aja udah  dijebol beberapa kali sama om Arsen" ucap Gabriel dengan mulut kurang ajarnya itu. Shila dan Via terkikik geli. Meski Arini tidak mengatakannya tapi mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan kisah asmara mereka. Apalagi mereka tinggal satu rumah, siapapun pasti bisa berpikir ke hal yang negatif seperti yang dikatakan Gabriel tadi. "Eh btw gimana Rin rasanya? Enak gak?" Shila menaik turunkan sebelah alisnya menggoda Arini yang sekarang pipinya sudah seperti kepiting rebus.


"Udah lah, gue ngantuk mau tidur byeee" Arini memutuskan sambungan telfonnya dan melempar ponselnya ke atas kasur. Arini langsung merebahkan dirinya di atas kasur sambil menatap langit langit kamar. Hari ini ia merasa sangat bahagia sekali, karena Mila dan Garda juga sudah memberinya restu untuk menikah dengan Arsen, ditambah lagi Arsen junior yang sekarang berada dalam kandungannya. Arini baru saja akan menutup matanya tapi tiba tiba saja pintu langsung terbuka. Arsen masuk ke dalam lalu berjalan dan duduk di samping kasur Arini.


"Udah tidur sayang?" Arini membuka matanya kembali lalu segera mengambil posisi duduk. "Belum, tapi Arini baru saja mau tidur" Arsen mengangguk lalu ia naik ke atas kasur dan merentangkan lengan sebelah kanannya. "Ayo tidur disini" ucap Arsen dengan tersenyum. Arini langsung menyambutnya dengan senang hati, perlahan kepalanya sudah berada di atas lengan Arsen. Arsen menaruh tangannya di pinggang Arini dan semakin membuat tubuh mereka berdekatan. Arini bisa merasakan nafas hangat Arsen di wajahnya. "Dad" panggil Arini.


"Hmm?" Arini mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Arsen. "Daddy tidak akan meninggalkan aku kan?" Arsen menurunkan pandangannya dan berhenti saat menemukan objek bicaranya. "Kenapa kamu sampai berpikir seperti itu?" nada Arsen mulai sedikit mendingin. "Arini hanya takut saja Daddy ninggalin Arini, apalagi sekarang Arini sudah hamil anak Kita. Tubuh Arini juga pasti semakin gendut. Arini takut kalau Daddy kepincut wanita yang lebih cantik dari Arini dan...." Arini tidak bisa melanjutkan kata katanya lagi karena sekarang Arsen sudah menyumpal mulutnya dengan bibirnya.


Arsen tidak memberikan Arini kesempatan untuk berbicara lagi, dia terus ******* dan menggigit bibir Arini disertai remasan kecil di bagian dada Arini. Meskipun masih sedikit terkejut tapi Arini sedikit terbuai. Arini tidak membalas ciuman Arsen. Tapi tiba tiba kemudian "ASTAGA ARSEEEEEEEEEEEEN"


"Sakit Ma" ucap Arsen. Dia sedikit sangsi saja karena telinganya di tarik oleh ibunya sendiri. Wibawa Arsen sebagai seorang Mafia sekarang sudah hilang. "Sakit sakit, Mama tahu kamu sudah lama menduda jadi bawaannya pengen mesum mesum dulu sama pasangan kamu. Tapi kalian masih belum menikah Arsen, status kalian masih belum jelas." Arsen melepaskan tangan Mila dari telinganya kemudian beralih menatap wajah sang ibu. "Arsen tahu, tapi ini bukan salah Arsen"


Mila mengernyitkan dahinya sejenak. "Lalu kesalahan siapa?" tanya nya. Arsen berdiri lalu merapikan bajunya yang sedikit tersingkap tadi. Baru setelah itu dia menjawab pertanyaan Mila. "Ini salah Mama yang membuatku terlahir sebagai pria mesum, jangan jangan dulu Mama ngidamnya suka yang mesum mesum makanya aku jadi mesum seperti ini" rasanya Mila ingin menjambak rambut Arsen, tapi dia tahan. Lagi pula mereka sudah lama tidak pernah bertemu, Mila tidak boleh melakukan itu.


"Arsen pamit dulu" Mila mengangguk lalu kembali berfikir sebentar. Tapi saat teringat dengan tujuannya yang untuk mengantarkan susu Mila mengurungkan niatnya untuk berpikir. Mila meletakkan nampan yang diatasnya terdapat susu kemudian Mila menatap wajah Arini yang sebenarnya hanya pura pura tidur saja. "Semoga kamu bisa menggantikan peran bundamu sayang" bisik Mila sambil menyelimuti Arini.


Setelah semuanya selesai Mila kembali keluar dan menutup pintu kamar Arini kembali. Arini langsung membuka matanya dengan spontan.  Arini bangun dari tidur kepura puraannya. Matanya terus menatap ke arah pintu. Dalam hati dia membatin.  "Aku tidak bisa jadi pengganti bunda karena sampai saat ini aku masih belum bisa menggantikan peran Bunda" batinnya.