
Sementara itu di kediaman Arsen, Via dan Max sibuk mendiskusikan sesuatu. Itu adalah hal yang paling ditunggu oleh Via namun juga paling gugup untuknya. Sebab minggu depan Max akan datang untuk melamarnya di depan orang tuanya. Hati Via senang bukan main, akhirnya Max benar benar menunjukan keseriusan terhadapnya. "Makasih Mas" berulang kali Via memeluk Max sambil terus mengecupi pipinya. Max hanya menggelengkan kepalanya. Max sudah meyakinkan dirinya untuk segera menikahi Via karena jika tidak dia bisa saja kehilangan Via. Dan Max tidak menginginkan hal itu.
Nichole dan Sunshine yang melihat itu hanya bisa terdiam saja, sebenarnya Nichole juga sangat lama ingin melamar Sunshine, tapi Sunshine menolak. Dia masih ingin menikmati dunia lajang dulu sebelum masuk ke dunia pernikahan. Sunshine tidak ingin menikah di umur yang sangat muda seperti itu. "Mereka sepertinya sangat bahagia sekali, kita kapan?" bisik Nichole di samping telinga. Bisikan itu tidak hanya didengar oleh Sunshine tapi juga Max. Sunshine langsung mencubit lengan Nichole. "Jangan bahas itu dulu atau aku akan marah lagi" kemudian Sunshine menoleh pada Max dan melemparkan senyum kakunya. Max hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh lalu fokus kembali pada kekasihnya.
Sementara itu Arini baru saja terbangun dari tidurnya, tangannya mencari keberadaan Arsen namun kosong. Dia tidak menemukan siapa siapa di sampingnya. Kemudian Arini membuka matanya dan sudah melihat kalau Arsen tidak ada. Itu Artinya pada saat dia tidur Arsen sedang pergi. Pergi kemana dia? Itu adalah hal yang selalu dipertanyakan oleh Arini karena Arini takut Arsen akan mengulangi hal yang sama. Arini mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi. Dia bahkan langsung membuat panggilan Video call dengan Arsen agar bisa mengurangi kecurigaaannya. Dalam dering pertama telefonnya gak diangkat, dering kedua juga tidak diangkat. Tapi saat dering ketika baru lah telefonnya terjawab.
Saat itu Arini langsung melihat ke layar ponselnya dan disana ia hanya melihat Arsen yang duduk di sebuah restoran sendirian. "Kamu dimana Mas?" tanya Arini sambil memperbaiki posisi duduknya. "Aku masih di restoran, ini lagi pesen makanan kesukaan kamu. Kamu tunggu sebentar ya sebentar lagi aku pulang kok" Arsen berusaha untuk tersenyum dan bersikap biasa saja pada Arini, kalau tidak Arini pasti akan curiga terhadapnya. "Hmm iya deh, tapi sebenarnya aku tidak mau makanan Mas. Aku boleh gak nitip es krim sama sosis panggang?"
"Enggak, kamu lagi hamil sayang. Jangan makan makanan seperti itu. Lebih baik Mas pesankan kamu soto ya bukannya kamu juga menyukai soto" ucap Arsen. Arini menggelengkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya, tingkahnya ini seperti bocah yang merengek minta permen pada ibunya. "Tapi aku maunya sosis dan es krim Mas, aku gak mau yang lain. Kalau aku gak dibelikan itu yaudah aku gak mau makan" dengan kesal Arini langsung mematikan telfonnya dan melemparkan ke kasur. "Dasar suami pelit masa beli sosis sama es krim aja dilarang, kan dedek juga pengen. Iya kan nak?" ucap Arini sambil mengelus perutnya.
"Saya ingin mengabarkan kalau kita sudah berhasil menemukan Klan Vercigo dan mereka juga masih menghadapi anak buah kita. Tapi Tuan, ada satu masalah yang belom kami selesaikan" mimik wajah Arsen mulai berubah, dia berubah menjadi serius dan mengerutkan keningnya. "Apa itu?" tanya nya. "Pemimpin Klan Vercigo tidak ada di tempat saat ini, disini hanya ada para anak buahnya"
Arsen mengepalkan tangannya dengan kuat tapi dia masih bisa mengontrolnya sedikit. Lalu setelah kemarahannya agak mereda Arsen kembali melanjutkan pembicaraannya. "Kalian jangan bodoh, pemimpinnya masih ada disitu. Di ruang bawah tanah, saya tahu dia bersembunyi karena mengetahui kedatangan kalian. Dengarkan saya baik baik" Arsen dengan cepat menjelaskan kepada Willy tentang apa yang mereka perlu lakukan. Meski tidak bisa kesana setidaknya Arsen banyak mengeluarkan strategi untuk mereka. Sepuluh menit kemudian. "Kamu paham?" tanya Arsen. Willy menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Paham pak'
"Bagus, sekarang cepat laksanakan rencana itu" tepat setelah Arsen mematikan ponselnya, pelayan yang tadi baru saja kembali dan mengembalikan kartu milik Arsen. "Ini pak, terima kasih atas kunjungan anda hari ini" ucap pelayan itu dengan ramah. Arsen tersenyum lalu mengangguk setelah itu dia langsung menuju mobilnya dan pergi dari situ.