
Arsen menggeliat dalam tidurnya dan mencium sesuatu yang lezat. Arsen segera bangun dan pergi ke dapur. Arsen yakin ini adalah bau masakan Bi Mina. Tapi ini tidak seperti biasanya, karena setiap Bi Mina memasak baunya tidak sampai masuk ke dalam kamar Arsen.
Saat Arsen akan masuk ke dapur, ia mencegah langkahnya dan melihat Arini yang tengah memasak sambil bersenandung kecil. Tangannya dengan cekatan menggoreng dan mencampurkan semua bahan makanan yang telah disiapkan. "Langkah pertama untuk memperjuangkan seseorang adalah dengan memberikannya hasil masakanmu" gumam Arini. Arini mencicipi semua hasil masakannya satu persatu, rasanya sudah pas. Semuanya enak.
"Lho Tuan ngapain kesini?" Ucapan Bi Mina sangat mengagetkan Arsen tapi untung saja Arini masih fokus memasak. "Aku kira Bibi yang masak" ucapnya dengan salah tingkah. Bi Mina tersenyum mengetahui apa yang dilakukan majikannya itu. "Tunggu di meja makan saja tuan, biar saya sama Non Arini yang menyiapkannya. Tadi saya sudah melarang non Arini untuk memasak tapi Non Arini tetap memaksa. Katanya dia mau memasak untuk Tuan"
Arsen menganggukkan kepalanya. Lalu ia menunggu di meja makan. "Bi, tolong bantuin Arini bawa makanan ini ke meja makan ya" ucap Arini yang telah selesai memasak. "Siap Non" jawab Bi Mina. Bi Mina segera melakukan perintah Arini dengan cepat, ia membawa semua masakan Arini ke meja makan.
Setelah mencuci tangannya dengan bersih, Arini menyusul ke meja makan. "Selamat pagi Daddy" Arini tersenyum cerah seperti tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Dan Arsen bersyukur, mungkin Arini tidak menyukainya lagi. "Pagi sayang, kamu tumben masak hari ini?" Arsen juga mencoba bersikap seperti biasanya.
Arini tersenyum. "Iya dong Dad, kan Arini mau masak buat Daddy. Selama ini kan Daddy cuma makan makanan Bi Mina terus. Nah sekarang giliran Daddy makan masakan Arini." Arini duduk di meja makan dan berhadapan langsung dengan Arsen.
"Kamu kenapa kelihatan bahagia banget hari ini?" Arsen bingung saja karena Arini tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Arini menjaga ekspresinya kembali agar Arsen tidak curiga. "Perasaan Daddy aja kali, Arini biasa aja tuh. Mungkin karena lagi semangat kali ya makanya Daddy ngiranya bahagia"
Max baru muncul dari kamarnya dan menyela pembicaraan mereka. "Ada apa ini? Apa aku ketinggalan sesuatu?" Max menaik turunkan alisnya pada Arini. Max melirik Arini kemudian mengedipkan sebelah matanya. "Tidak ada, cepat duduk dan sarapan"
Max mengangguk lalu ia duduk di samping Arini. "Kamu sudah memulai rencanamu eh?" goda Max. Arini mengangguk. Ia berbicara sepelan mungkin agar Arsen tak mendengarnya. "Iya, Uncle nanti bantuin perjuangan Arini ya. Sebagai imbalannya aku akan melukis wajah Via buat uncle"
Max tersenyum lalu mengangguk. "Gampang itu, yang penting jangan lupa lukisan Via nya." Masih ingat dengan Max yang berbicara tentang lukisan? Max meminta Arini untuk melukis wajah Via untuknya. Arini akan memberikan fotonya saja tapi Max menolak. Menurutnya foto itu terlalu klasik. Max lebih memilih lukisan karena bisa dipajang di kamarnya dan bisa dilihat setiap mau tidur.
"Cepetan ambilin makanan buat dia, kamu harus menarik perhatiannya terlebih dahulu" bisik Max. Arini mengacungkan jempolnya lalu berdiri. "Daddy mau makan apa? Arini bantu siapin dulu. Sebagai seorang anak sudah sewajarnya ia melayani ayahnya kan?" Arsen menatap Arini sejenak. "Iya, tumben kamu dewasa. Gak manja manja lagi"
Max terkekeh dalam hati, seandainya Arsen tahu rencana Arini mungkin dia akan menertawakannya. "Arini baru sadar kalau umur Arini udah dua puluh tahun. Jadi gak wajar lagi kan buat manja manjaan" Arsen tertawa. "Pintar sekali, oh iya hari ini udah sebulan kan dihukumnya. Daddy akan mengembalikan lagi mobil dan kartu kreditmu. Nanti malam Daddy akan memberikan kunci mobilnya. dan Mulai sekarang kamu bebas pergi ke mana pun asal jangan ke club lagi. Mengerti"
"Mengerti say...eh maksudnya mengerti Daddy"
"Tidak" jawab Max sambil menghentikan tawanya.
Kemudian Arini segera mengambilkan makanan untuk Arsen. Ia mengambilkan makanan sesuai dengan permintaan Arsen. "Selamat makan Daddy" ucapnya sambil melemparkan senyuman terbaiknya. "Iya, sekarang kamu cepat makan gih. Kamu kuliah kan hari ini?"
Arini mengangguk. "Aku boleh kan berangkat sama Daddy, kebetulan Rendi gak bisa jemput. Uncle Max juga gak bisa karena habis ini ada urusan penting. Baru saja Arsen akan mengiyakan ponselnya bergetar, Arsen mengambil ponselnya terlebih dahulu.
Mesin rusak: Hari ini aku mau ke kantor kamu, tapi jemput. Mobilku sedang mogok" Arsen menghela nafasnya kemudian mengetikkan balasannya.
"Kalau tujuan kamu datang ke kantor cuma buat merusuh aku yang lagi kerja, mending tidak usah. Lagi pula aku mau mengantar putriku ke kampus." Arini tersenyum penuh arti, ia tahu Arsen membalas pesan dari siapa.
Arini tak peduli apa yang mereka bicarakan melalui pesan, ia lebih memilih menghabiskan makanannya dengan cepat. "Uncle udah selesai, uncle berangkat dulu. Good luck" Max mencium kening Arini dengan cepat. "Thank you uncle, hati hati nyetirnya jangan sampe mikirin Via mulu" balasnya sambil terkikik geli.
"Tahu aja kamu" setelah Max hilang dari pandangan mata, baru Arsen mengantongi ponselnya kembali. "Pesan dari siapa Dad?" tanya Arini basa basi. Arsen menatap Arini sebentar lalu menjawab. "Dari calon istri Daddy, dia minta dijemput tapi kan Daddy harus nganterin kamu terlebih dulu'
Arini hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian makanan mereka telah habis. Arini memanggil Bi Mina kembali untuk membereskan semua makanannya. "Ayo kita berangkat" ucap Arsen. "Tunggu Dad, aku mau ngambil tas sama buku dulu di atas"
Arsen mengangguk, setelah itu Arini naik ke atas kamarnya dan mengambil barang barang yang dibutuhkannya. Setelah itu ia kembali turun ke bawah. "Sudah siap semuanya?" lagi lagi Arini mengangguk. "Tapi kayaknya Daddy yang belum siap deh" Arini berjalan mendekati Arsen dan memperbaiki dasinya yang masih berantakan.
"Arini pernah diajarin sama Bunda dulu gimana cara masangin dasi, Bunda bilang suatu saat Arini harus makein Dasi buat Daddy tiap hari" Arini senang bisa sedekat ini bersama Arsen, ia menyukai Aroma tubuh Arsen yang maskulin. Pantas saja calon istrinya yang kemarin selalu menempel sama Arsen. Selesai mengikat dasinya Arini tersenyum lalu mengecup pipi Arsen singkat. "Yuk Dad, kita berangkat"
Arsen tersenyum tipis. Sifat Arini hampir sama dengan mendiang istrinya. Sifat keduanya sama sama tidak bisa ditebak. dan sekarang Arsen harus berterima kasih pada mendiang istrinya karena sudah mengangkat Arini sebagai anak mereka berdua. meskipun Arsen tidak senang dengan keputusan mendiang istrinya yang dengan seenaknya menyuruhnya menikahi Arini. Bagi Arsen, menikah dengan putrinya sendiri itu merupakan hal yang mustahil. Arsen menyusul Arini yang sudah menunggunya di dalam mobil.