Hot Daddy

Hot Daddy
Kabar dari Via



Setelah selesai mandi, Arsen menyuruh Max untuk pergi ke luar membeli makanan. Karena tiba tiba saja Arini menginginkan Sushi, meskipun hari sudah malam Max tetap pergi untuk membelikan sushi untik Arini. Sebenarnya tadi Arsen yang ingin membelikannya sendiri tapi Arini menolak. Dia menginginkan Max yang membelikannya. Max yang tidak tahu apa apa pun terpaksa mengangguk ketika Arsen menyuruhnya membeli sushi. "Mau apa lagi sekarang?" tanya Arsen pada Arini setelah Max baru saja tiba dengan membawa bungkus makanan sushi. "Mau disuapin Uncle Max" jawab Arini sambil tertawa kecil.


Max menggelengkan kepalanya ketika Arsen menatapnya dengan tajam. "Uncle masih ada pekerjaan, kamu disuapin sama suami kamu dulu ya." Max berharap dalam hati kalau Arini akan menyetujui permintaannya, tapi sayangnya Arini malah menolak permintaannya. Arini lebih memilih disuapi olehnya daripada suaminya sendiri. Sedangkan dari tadi mata Arsen terus menatapnya dengan ganas. "Gak mau, ini dedek bayinya sendiri yang minta suapin sama Uncle, kok Uncle tega sih" mata Arini berkaca kaca dan sebentar lagi mungkin air matanya akan jatuh.


"Suapi dia" Arsen kembali memberikan Sushi itu pada Max, kemudian dia pergi ke kamarnya dalam keadaan kesal. Max hanya bisa pasrah dengan semua ini, Arsen yang mungkin akan membogemnya atau Arini yang akan marah kalau dia tidak menuruti permintaannya. "Ayo uncle" ucap Arini sambil menepuk sofa di sebelahnya. Tidak tahu saja dia kalau saat ini suaminya sedang menahan kesal sendirian di dalam kamar. "Sebentar, Uncle mau ngambil piring dulu" Tanpa menunggu jawaban Arini, Max langsung berjalan menuju ke dapur.


Arini mengambil ponselnya dan memulai panggilan Video call dengan ketiga sahabatnya itu. "ARINIIIIIIIIIIIIIII" Suara teriakan heboh itu tentu saja sangat familiar sekali di telinga Arini. Dia bahkan menutup telinganya terlebih dahulu sebelum memulai panggilan vjdeo call itu. Karena Arini sudah tahu apa yang akan terjadi. "Shila, bisa gak sih lo gak usah teriak teriak, berisik tahu gak" Oceh Gabriel yang saat itu Arini lihat wajahnya tertekuk karena Shila. "Biasa Gab, mulut Mak Rombeng emang gitu" tambah Via.


"Lo apa kabar Rin? Udah lama banget ya lo gak ngabarin kita. Terus lo kapan pulang? Kita dibawain oleh oleh gak? Apa.....hmmmppphhhh" Via langsung menyumpal mulut Shila dengan buah apel dan lihatlah sekarang Shila benar benar kesulitan bahkan untuk berbicara saja. "Kalian apa kabar?" akhirnya Arini berbicara juga setelah menyaksikan perdebatan konyol teman temannya itu. Via tersenyum kemudian dia mengangkat tangannya dan memamerkan sesuatu di balik jari manisnya itu. "Apa itu?' tanya Arini


"Dari Mas Max, dia juga pakai cincin seperti ini. Kalo lo nggak percaya coba aja cek di tangannya. Dan kamu tahu dia bilang apa saat ngasih gue cincin ini?" Shila mulai membuka mulutnya untuk berbicara tapi Gabriel malah menutupnya kembali dengan tangannya. Dia tidak akan membiarkan Shila merusak obrolan Arini dan Via. "Diam bisa gak sih? Lama lama bukan cuma mulut lo yang gue sumpel, mata lo juga bisa gue congkel" Gabriel benar benar gregetan dengan sahabat bocahnya itu. "Buset, Mak lampir marah' gumam Shila.


"Lo bilang apa tadi?" tanya Gabriel pada Shila dengan geram. "Tidak bilang apa apa kok, gue cuma bilang kalo mak lam eh maksud gue mama gue galak gitu" Alibi Shila dengan cepat, dia tidak mau menjadi bahan amukan Gabriel lagi. "Hmm" balas Gabriel. Kembali lagi pada Via dan Arini, Arini menutup mulutnya dengan tidak percaya karena apa yang dikatakan Via.


"Tapi kemarin kemarin Uncle Max sibuk Vi, mana mungkin dia sempat melakukan ini buat lo" Arini terus melihat ke tangan Via yang memang sudah melingkar cincin yang indah dan memang Arini juga pernah melihat Max memakai itu. "Kalau lo gak percaya, lo bisa tanya sendiri sana" ucap Via. Kemudian mereka mengakhiri video call, Max sudah kembali dari dapur. Dia keheranan ketika melihat Arini yang terus menatapnya sedari tadi. "Kenapa?" tanya Max.


"Uncle sudah tunangan?"