
Arsen terbangun di tengah malam ketika ia mendengar suara isakan kecil dari kamar sebelah. Arsen yang saat itu sudah tidur pulas terpaksa harus membuka matanya dan turun dari kasur untuk mengecek siapa orang yang tengah menangis di malam malam begini. Langkah kakinya membawanya pada kamar di sebelahnya, dan itu adalah kamar Arini. Arsen mengernyitkan dahinya sesaat lalu membuka pintunya secara perlahan. Tapi di dalam kamar tidak ada seorang pun. Arsen membuka pintunya lebih lebar lagi dan sekarang barulah ia melihat dengan jelas. Kalau di dalam kamar itu Arini sedang meringkuk di kasur sambil mengeluarkan isakan kecil.
Arsen langsung menghampiri Arini. Dia menyentuh lengan Arini lalu membalikkan tubuhnya secara perlahan. Betapa terkejutnya Arsen saat melihat wajah Arini yang dipenuhi dengan keringat. Arsen menempelkan tangannya di kening Arini dan merasakan panas yang sangat luar biasa. "Kamu demam sayang" Arsen yang tadinya masih mengantuk sekarang rasa kantuknya hilang begitu saja dan berganti dengan kekhawatiran. Arini terus melenguh dan terisak kecil, dia menangis dalam kondisi tidur.
Dalam keadaan seperti ini Arsen langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Dokter dengan cepat. Dia berlari ke luar kamar dan mengambil air hangat dengan beberapa kompresan. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar Arini, Arsen meletakkan baskom kecil itu di samping tempat tidur Arini. Dengan telaten Arsen memasukkan handuk kecil kemudian memerasnya. Arsen menempelkan handuk itu di atas kening Arini dan membiarkannya untuk sejenak. Arsen mengelus rambut Arini dengan perlahan. Raut wajah Arini nampak sekali kalau dia sedang kelelahan.
Arsen melirik jam di dinding kamar Arini yang menunjukkan pukul dua malam, Dokter yang dihubungi Arsen sedang tidak bisa hadir maka dari itu Arsen memilih cara yang biasanya Bi Mina lakukan ketika ia demam. "Kalau seandainya aku pulang ke indonesia terlebih dahulu, pasti disini Arini menunggu dengan status yang tidak jelas. Aku sudah menjanjikan untuk menikahinya dengan cepat dan sekarang hampir saja aku melupakan Janji itu." Arsen merasa bersalah kepada Arini. Dia mengambil posisi di samping Arini lalu ikut tidur di sampingnya.
.
.
Di pagi harinya, Matahari mulai memancarkan sinarnya. Arini merasakan beban yang berat di perutnya, saat dia membuka matanya, Arini terbelalak saat melihat Arsen yang sedang memeluk dirinya dengan kondisi yang tidak memakai baju. Arini langsung mengecek pakaiannya dan ternyata masih lengkap. Arini mengambil handuk kecil yang menempel di keningnya. "Kenapa aku memakai ini?" Gumamnya. Arini menoleh pada sampingnya dan menemukan satu baskom kecil lagi.
Tapi tiba tiba perutnya terasa mual, Arini menutup mulutnya lalu melepaskan tangan Arsen dari pinggangnya. Arini mencari sandal jepitnya kemudian berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan kuat. "Hoeekkkkk" Arsen membuka matanya saat ia mendengar suara itu. Arsen tahu itu adalah suara Arini. Arsen langsung bangun dan kenuju ke kamar mandi. "Arini, kamu baik baik saja?" Arsen menggedor pintu kamar mandi. Ia takut terjadi sesuatu pada Arini
Arini menggelengkan kepalanya. Lalu membasuh mukanya dengan air. Dengan sabar Arsen memapah tubuh Arini dan membawanya kembali ke kasur. "Kamu istirahat aja ya. Hari ini kamu tidak boleh kemana mana. Kalau butuh sesuatu kamu bilang Daddy saja, daddy akan menyiapkan semuanya untuk kamu" Akhirnya arini mengangkat kepalanya dan menatap wajah Arsen. "Aku sudah hamil Dad, sampai kapan Daddy akan menunda pernikahan kita. Om..ah tidak mama sama papa juga sudah merestui kita. Dan sekarang Daddy menunggu apa lagi?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang?" Arsen menatap arini dengan penuh kelembutan.
"Arini sudah mendengar semua pembicaraan Daddy dengan baik, Arini tahu kalau Daddy masih ragu untuk menikahi arini. Tapi Dad, haruskah Daddy berkata seperti itu. Daddy seperti tidak bisa menghargai diriku. Aku bahkan merelakan diriku untuk Daddy sehingga hamil lseperti sekarang, aku kira Daddy akan menepati omongan Daddy. Ternyata aku salah. Daddy adalah orang egois yang pernah aku temukan lagi" Arini langsung menaikkan selimutnya dan tidur membelakangi Arsen.
"Arini dengerin dulu penjelasan Daddy, kamu salah paham sayang" Arini tak bergeming dia masih tidak bisa menerima penjelasan apapun. Hormon kehamilannya yang membuat dirinya menjadi seperti ini. "Sayang, maksud Daddy bukan sepertu itu. Kamu salah paham. Waktu itu Daddy hanya mengatakannya setengah karena setengahnya lagi Daddy mengatakan iya untuk pernikahan kita'
"Daddy berbohong lagi, Arini sudah berada di sana sampai Daddy pergi ke kamar dan Daddy juga tidak mengatakan apapun saat itu. Lebih baik sekarang Daddy keluar dulu. Arini mau istirahat. dan Daddy sepertinya juga harus berpikir lagi" Arsen dibuat bungkam seribu bahasa oleh Arini, hari ini arsen benar benar dikuasai oleh nafsunya sehingga bisa kalah seperti ini. "Baiklah, kalau begitu kamu istirahat ya. jangan memikirkan apapun. Daddy sayang kamu"
Arsen memberikan Arini satu kecupan di keningnya lalu segera keluar meninggalkan Arini sendirian. "Daddy egois" batin Arini.