Hot Daddy

Hot Daddy
Siap siap



Sepulang dari tempat Velin, Arsen langsung pulang dengan membawa tiga buket bunga yang ia beli dari gadis kecil itu. Meskipun bunga itu sudah layu tapi wanginya masih tetap terasa. Arsen ingin memberikan bunga itu kepada Arini. Arsen memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah milik orang tuanya dan meletakkan di tempat yang seharusnya. Arsen turun dari mobil kemudian menutup pintunya kembali dengan cepat. Dengan bermodalkan tiga buket bunga Arsen ingin membicarakan sesuatu dengan Arini dari hati ke hati. Dia tidak ingin berbicara menggunakan emosi lagi karena Arsen sadar bahwa saat ini dirinya yang salah.


Saat Arsen masuk ke dalam rumah, kebetulan Garda dan Mila sedang menonton televisi. Mila langsung menolehkan kepalanya ketika melihat Arsen datang. "Dari mana?" tanyanya. Arsen memilih untuk duduk bersama mereka terlebih dahulu sebelum menghampiri Arini. "Menyiapkan semua hal yang diperlukan ketika menikah besok, semuanya sudah siap. Tempat dan yang lainnya akan ada orang yang mengatur semunya." Garda meletakkan kembali buku yang ia pegang kemudian beralih pada Arsen. "Lalu untuk apa kamu membeli bunga yang layu itu?" matanya tertarik pada tiga buket bunga yang dipegang oleh Arsen. Tentu saja Garda heran, jika Arsen bisa membeli beberapa truk bunga segar kenapa dia harus memilih tiga buket bunga layu.


"Oh ini, tadi aku membelinya di jalan. Bunga ini memang layu tapi bukan itu yang menjadi berarti. Bunga ini adalah lambang perjuangan dari seorang anak kecil yang ingin mengobati ibunya dengan menjual bunga ini. Dan sekarang aku juga akan memberikan bunga ini kepada Arini, aku akan membuktikan kalau aku juga akan berjuang bersamanya dan anak kita nanti" Arsen menggenggam ketiga buket bunga itu dengan hati hati, tidak mau merusaknya karena benda itu sangatlah berharga. Garda dan Mila saling menolehkan kepalanya, kemudian menganggukkan kepalanya masing masing.


"Ya sudah, lebih baik kamu sekarang masuk ke dalam dan jelaskan semuanya pada Arini. Sedari tadi dia merasa gelisah karena kamu yang tidak pulang pulang" Ucap Garda. Arsen menganggukkan kepalanya lalu beranjak dari sofa dan pergi menuju kamar Arini. Kamar Arini terletak di lantai paling bawah, Mila sengaja menyiapkannya disitu agar Arini tidak perlu bersusah payah untuk naik tangga dalam kondisi hamil seperti itu. Arsen berpapasan dengan Max yang baru saja keluar dari kamar mandi. Max memegang perutnya sambil terus meringis kesakitan. Arsen berhenti berjalan dan melihat ke arah Max. "Kenapa?" tanya nya ingin tahu.


Max menggelengkan kepalanya lalu tiba tiba wajahnya membeku, Max kembali masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya dengan keras. Sedangkan Arsen, hidungnya sedikit bergerak karena dia mencium bau yang sangat familiar sekali. "Sial, ternyata dia lagi diare" Gumam Arsen sambil menutup hidungnya dan melanjutkan pergi ke kamar Arini.  Sedangkan di dalam kamar mandi, "Engghhhhhh enghhhhhhh" Max bernafas lega saat emasnya sudah keluar dari lubang harta karunnya, dia sudah capek karena terus bolak balik dari kamar mandi dan ini terjadi selama dua jam. Ini semua akibat dia makan banyak cabe, Max lagi kesal dengan Via yang tidak kunjung mengangkat telfonnya hingga tanpa sadar dia memakan cabe mentah mentah dan menelannya dengan kasar.


"Sekarang sudah lihat kan, sekarang Arini masuk lagi" Arini akan menutup pintunya kembali jika saja Arsen tidak menahannya. "Ada apa lagi?" tanya Arini. Arsen membuka pintunya lebih lebar lagi dan masuk ke dalam. Dia juga menarik tangan Arini bersamanya. "Sini duduk, ada yang mau Daddy bicarakan sama kamu"


Arini menurut saja dia langsung duduk di samping Arsen dan melipat kakinya di atas kasur. "Daddy bawa apa?" tanya Arini ketika melihat bunga yang Arsen beli. Seketika Arsen langsung tersadar kalau dia juga membawa Bunga. "Oh iya, ini bunga untuk kamu. Memang layu tapi bunga itu memiliki perjuangan tersendiri. Mungkin kalau orang lain yang menyebutnya mereka akan menyebut bunga ini sebagai bunga keberuntungan" Arsen menyerahkan tiga buket bunga itu pada Arini. Arini mengambilnya satu kemudian mencium Aromanya. "Hmmm Wangi Dad, aku suka" Gumam Arini.


Arsen tersenyum tipis lalu dia mengambil salah satu tangan Arini dan menggenggamnya. Pada saat itu juga Arini langsung menatap Arsen dengan bingung. "Selain itu Daddy juga minta maaf kalau kamu berpikir yang tidak tidak terhadap Daddy, Daddy bukannya tidak ingin menikahimu. Hanya saja, Daddy terlalu khawatir kehilanganmu. Tapi Daddy sadar, sikap Daddy salah. Maka dari itu kita akan menikah besok, Daddy tidak akan menundanya lagi. Ini semua demi kebaikan kamu, aku dan anak kita" Mulut Arini tidak bisa berkata kata, biasanya Arsen tidak mungkin bicara panjang lebar seperti inj.


"I Love tou So Much Arini putri Casanovia, So, Will You Marry me?" Arsen langsung berlutut di depan Arini sambil mengeluarkan cincin yang ia beli. Tanpa berpikir apapun lagi Arini langsung mengiyakan, hatinya sedang berbunga bunga saat ini karena Arsen melakukannya. Arsen memakaikan cincin itu di jari manis Arini kemudian menatap Arini sambil tersenyum. Arini langsung saja memeluk Arsen dengan erat. "Thank you and i love you Dad" Gumam Arini. Arsen hanya mengangguk kemudian mencium kening Arini sebagai balasannya