
Tidak hanya satu atau dua kali Arsen menemui klien, tapi dia sudah berulang kali menemui klien dan membahas kerja sama untuk perusahaan mereka. Banyak dari kalangan atas yang mau bekerja sama dengan perusahaan Arsen. Mereka sudah sangat mengakui kemampuan Arsen dalam menjalankan perusahaan dan mereka berharap setelah bekerja sama dengan Arsen, bisnis mereka juga akan menjadj lancar. "Untuk keuntungan kita bagi dua, perusahaan saya lima puluh persen dan perusahaan anda juga lima puluh persen. Bahkan jika mengalami kerugian pun kita harus menanggungnya bersama." Arsen mengambil sesuatu dari dalam tas nya kemudian memberikannya pada orang yang ada di hadapannya itu. "Jika anda setuju silahkan tanda tangani berkas ini?" ucapnya.
Stevan langsung mengambil bolpoinnya dan memberinya tanda tangan. Dia sudah percaya dengan Arsen. Stevan adalah pemilik perusahaan yang bekerja di bidang jasa. Jika perusahaan Arsen adalah usaha di bidang penerbitan maka bisa di bilang perusahaan Stevan adalah perusahaan yang selalu mengambil antisipasi untuk pendidikan. Banyak sekolah dan tempat kursus yang sudah dibuat oleh perusahaan mereka. Dan mereka sengaja membuatnya dengan harga yang lumayan murah agar semua orang tertarik. Tapi meskipun begitu mereka tetap memberikan kualitas terbaiknya. "Saya harap kerja sama ini dapat menguntungkan kita" Arsen mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Stevan. "Saya senang akhirnya saya bisa juga bertemu dengan anda, saya pikir saya bahkan tidak akan pernah bisa menyebut nama anda" ucap Stevan
Arsen tertawa sedikit untuk mengurasi rasa canggung itu. "Saya juga sangat senang bisa bertemu dengan anda, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" dalam sepanjang sejarah baru kali ini Arsen menawarkan klien nya untuk makan siang bersama, karena selama ini Arsen yang selalu ditawari dan dirinya yang selalu menolak. Kali ini Arsen benar benar ingin menjalin hubungan yang baik dengan kliennya tersebut. "Boleh, kebetulan jadwal saya kosong selama beberapa jam ke depan" jawab Stevan sambil tersenyum. Arsen mengangguk lalu kemudian dia berdiri. "Kalau begitu mari kita pergi"
.
.
Hari ini Max sedang tidak ada di rumah, dia akan lembur di kantor. Oleh sebab itu dia mengundang semua teman teman Arini dan menyuruh untuk menginap di rumahnya agar Arini tidak kesepian. sedangkan Arini pada saat itu sedang tidur siang di kamarnya dan tidak sadar kalau teman temannya datang. Via yang sudah diberitahu oleh Max tadi langsung masuk ke dalam bersama mereka. Shila hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat posisi tidur Arini yang jauh dari kata normal, bagaimana tidak Arini hampir saja tidur tengkurap dan menekan perutnya tapi untung saja mereka datang. Dan Shila segera memperbaiki posisi Arini. "Nih anak gak bisa apa kalau tidur diam dulu. Kasian dede bayi nya" dumel Shila ketika Arini kembali lagi pada posisi semula.
"Bangunin aja deh, Arini tuh tetap gitu gitu aja kalau tidur. Diperbaiki bukannya diam malah balik lagi." usul Via. Gabriel mengangguk ikut menyetujui apa yang dikatakan oleh Via. "Tapi dia tidurnya pulas banget, masa kita bangunin" di antara mereka yang paling tidak tegaan adalah Shila. Ngebangunin orang yang lagi tidur saja dia tidak tega apalagi yang lainnya. Via berpindah tempat, dia sudah berada di samping kasur Arini. Dengan lembut Via membangunkan Arini. "Rin, bangun Rin. Arini bangun yokk itu kamu tidurnya nindihin perut kamu sendiri. Coba kamu perbaiki posisinya dulu" Arini yang merasa ada suara di dekatnya langsung membuka matanya secara perlahan. Pandangannya masih mengabur ketika baru pertama kali membuka mata tapi setelah beberapa menit kemudian barulah dia tahu kalau mereka adalah teman temannya.
Setelah selesai mencuci wajah, Arini kembali lagi ke kamarnya. Dia sudah tidak mengantuk lagi, karena disini ada teman temannya. Jadi Arini pasti tidak akan kesepian lagi. "Kalian hari ini gak kuliah?" tanya Arini. "Udah pulang kali Rin, eh tapi Rin lo tau gak sih kakak tingkat cewek yang namanya Granita itu?" itu adalah suara Gabriel. Dia adalah orang yang paling semangat di antara mereka kalau disuruh menggosip apalagi tentang keburukan orang lain. "Granita apaan sih Gab, Genita kali bukan granita. Lo pikir dia minuman apa" Sewot Via.
"Ya samain ajalah" Arini mengangkat sebelah Alisnya. "Kak Genita? Ohh iya tau gue dia itu kan cewek yang dirumorkan iri sama gue. Emang kenapa sama tuh orang?"
"Dia ngata-ngatain lo dan menyebarkan fitnah, untung aja kita segera bertindak. Kita bertiga udah ngasih pelajaran buat dia. Gak tau kapok apa enggaknya yang penting kasih pelajaran dulu" jawab Shila. lalu kemudian Via melihat ke arah Arini. Kemudian dia mendekatkan bibirnya di samping telinga Arini kemudian membisikkan sesuatu. Arini menerbitkan senyum nya kemudian mengacungkan jempolnya. "Siap deh"
"Kalian bisikin apa?" tanya Gabriel dan Shila bersamaan.
"Nanti kalian akan tau sendiri" jawab Via.