Hot Daddy

Hot Daddy
Dompet



Tiga jam kemudian, Arsen membuka matanya dengan perlahan dan menemukan dirinya berada di kamarnya sendiri. Merasa ada sesuatu yang janggal di kepalanya ia memegang kepalanya yang tadi diperban oleh Dokter Angel. Arsen mengernyitkan keningnya ketika melihat dompet wanita di samping tempat tidurnya, baru saja ia akan mengambilnya Arini sudah masuk duluan. "Daddy? Sudah lama bangunnya?" tanya Arini. Arsen tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Baru saja. Oh iya apa ini dompet kamu?" tanya Arsen sambil menunjukkan keberadaan dompet itu


"Dompet?" Arini balik bertanya. "Iya, ini dompet kamu bukan?" Arini melihat Dompet wanita yang berwarna cokelat sedang berada di samping kasur Arsen, itu bukan Dompetnya. Tapi sepertinya Arini tahu milik siapa Dompet itu. Itu adalah Dompet milik Dokter Angel yang mungkin saja ketinggalan disini tadi. "Kok bengong, ini dompet kamu kan Arini?" tanya Arsen sekali lagi. "Ahh...ii..iya itu dompet Arini" Arini dengan cepat mengambil dompet itu. Dan menyembunyikannya di belakang punggungnya setelah meletakkan nampan yang berisi makanan untuk Arsen.


"Arini ke luar sebentar Ya Dad? Itu makanan buat Daddy Arini sudah siapin, jangan lupa dimakan." tanpa menunggu persetujuan Arsen lagi Arini langsung keluar dengan membawa dompet itu. "Kenapa dia tiba tiba aneh begitu?" tanya Arsen. Dan pada akhirnya ia mengendikkan bahu nya acuh tak acuh lalu mulai memakan makanannya.


Arini berjalan menuju ke kamarnya dan mengunci pintunya, setelah itu ia mulai membuka dompet itu. Bukan maksudnya untuk lancang tapi Arini hanya ingin tahu saja siapa sebenanrnya Angel itu. Di dalam dompet itu hanya ada satu Ktp, dua Kartu kredit dan beberapa lembar uang. Tidak ada yang spesial, semuanya sama saja dengan dompet pada umumnya. Hanya saja Arini sedikit tertarik pada foto itu. Foto dimana dua anak remaja yang saling berangkulan satu sama lain.


Yang perempuan remaja itu Arini bisa menebak kalau itu adalah Angel, sedangkan pria di sebelahnya, sepertinya ia pernah melihatnya. Tapi siapa dia? Arini membalikkan foto itu dan menemukan sebuah tulisan usang. 


Ar (Love) An. "Mungkin ini mantannya Dokter itu kali ya?" batin Arini. Setelah itu ia memasukkan kembali fotonya ke dalam dompet. Arini berniat akan mengembalikan dompet itu secepatnya, ia juga sudah tahu alamat Angel dari ktp nya.


.


.


"Jadi bagaimana kamu bisa mengalami kejadian seperti ini? Kenapa kamu tiba tiba ceroboh dan tidak mengecek kondisi mobilmu terlebih dahulu" tanya Max setelah mereka selesai makan malam. Saat ini Max dan Arsen sedang berada di ruang kerja Arsen, Mereka membicarakan soal pengalihan perusahaan yang dilanjut dengan kejadian kecelakaan Arsen siang tadi.


"Aku tidak pernah ceroboh, sebelum aku menggunakan mobil itu aku sudah mengeceknya dan semuanya baik baik saja. Tapi aku yakin di balik semua ini ada orang yang sepertinya sengaja merusak salah satu bagian mobilku" ucap Arsen sambil mengetukkan tangannya di meja beberapa kali.


"Aku punya banyak musuh di luar sana, dan ada kemungkinan besar bahwa salah satu dari mereka yang melakukan ini. Lihat saja, aku akan segera mencari tahu semuanya dan akan menangkapnya. Aku tidak pernah bermain main dengan perkataanku sendiri, aku pasti akan menemukannya dan menghabisinya dengan caraku sendiri" Arsen menyeringai pada dirinya sendiri, meskipun kepalanya sedikit nyeri ia masih belum puas untuk melancarkan ide ide menarik lainnya.


"Bagaimana jika kamu tidak menemukannya?" lagi lagi Max bertanya dengan penasaran. Arsen berbalik dan menatap wajah Max. "Seorang Arsen tidak akan pernah gagal, meskipun dia ada di ujung dunia pun dia tidak bisa bersembunyi dariku lebih lama"


"Berani mendekat berani mati" batin Arsen sambil tersenyum smirk. Setelah itu Max dan Arsen keluar dari ruangan secara bersamaan dan itu mengundang perhatian besar dari Arini, karena tidak biasanya mereka mengobrol di ruang kerja. "Uncle sama Daddy ngomongin apa sih di dalam?" tanya nya saat kedua pria dewasa itu duduk di sampingnya.


"Bukan apa apa sayang, hanya membahas masalah perusahaan saja"


"Oh iya Arini kan masih belum tahu apa penyebab kecelakaan Daddy, sekarang Daddy jelasin semuanya ke Arini." Arini meletakkan tangannya di depan dadanya sambil menatap wajah Arsen. Wajah Arini sangat menggemaskan di mata Arsen, dengan cepat Arsen menempelkan bibirnya di bibir Arini. Max hanya bisa mengelus dada melihat adegan di depannya itu, coba saja ia dan Via sudah satu rumah seperti ini, mungkin ia bisa melakukan hal yang sama. "Ih Daddy mainnya cium ciuman, jawab dulu pertanyaan Arini. Daddy bisa kecelakaan seperti itu karena apa?"


"Namanya aja kecelakaan sayang, gak bisa diprediksi. Kalau bisa diprediksi bukan kecelakaan namanya tapi kesengajaan" Elak Arsen, ia tidak mau Arini tahu kalau sebenarnya ia bukan kecelakaan biasa, melainkan kecelakaan bermotif. Arini berpikir dalam otaknya, perkataan Arsen memang benar juga. "Udah, sekarang gimana kepala kamu?"


"Biasa aja, gak ada yang sakit." jawab Arsen dengan datar. Dari dulu Arsen memang sangat membenci rumah sakit, ia tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit jika dirinya sedang sakit. Bahkan dulu Arsen pernah kena tembak beberapa kali di lengannya dan diobati sendiri. Arsen tidak percaya dengan dokter karena ia pernah percaya dengan dokter tapi hasilnya adalah Nyawa istrinya tidak dapat diselamatkan. "Untung saja tadi ada...." Arini membulatkan matanya ketika Max akan mengatakan hal itu. Dengan cepat ia mengambil roti yang dipegangnya dan menyumpalkannya ke dalam mulut Max agar mulutnya tidak bocor.


"Arini....U...ce..gak...akan..." Arsen mengernyitkan keningnya. "Tadi ada apa?" tanya Arsen dengan wajah bingungnya. Arini menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak ada apa apa Daddy, tadi hanya ada kecoa saja. Dan uncle Max mengusirnya" alibi Arini. Arsen mengangguk percaya saja meskipun sedikit tidak masuk akal baginya.