Hot Daddy

Hot Daddy
Perlahan lahan



Seorang wanita berusaha untuk melepaskan dirinya dari ikatan tali yang kuat. Berbagai cara ia lakukan untuk melepaskannya bahkan membuat dirinya terluka karena gesekan paku di bawahnya. Tidak kehabiskan akal ia menyeret tubuhnya ke ujung tembok, wanita itu melihat    pecahan kaca. Ia akan menggunakan itu untuk melepaskan ikatannya.


Sebelum ia dibawa ke tempat ini, wanita itu masih bisa tersenyum puas setelah apa yang ia lakukan. Bahkan wanita itu adalah dalang dari bangkrutnya perusahaan Charles. Wanita itu hanya ingin membalas budi pada seseorang dengan menghancurkan perusahaan Charles. Selain itu ia juga punya dendam pribadi. Gara gara Charles, ayahnya mati dengan mengenaskan. Charles menembak ayahnya tepat di bagian jantungnya. Wanita itu tidak pernah lupa, meskipun umurnya saat itu masih 15 tahun. Tapi ia masih mengingat dengan jelas.


"Emmhh" Pengawal yang tadi pergi mencari sesuatu kembali lagi, wanita itu mendengar langkah kaki yang ramai. Dengan cepat ia mengambil pecahan kaca itu dengan tangannya dan kembali ke tempat semula. Para pengawal itu tidak boleh melihatnya sudah sadar, ia harus berpura pura pingsan lagi.


"Kamu udah menelfon Bos kan? Apa katanya?" Tanya salah satu dari mereka. "Sepertinya Bos akan menyusul kesini" jawab laki laki bertubuh kurus itu. Mereka tidak hanya berdua, teman teman yang lainnya menjaga di daerah depan. "Dia masih belum sadar? Sepertinya aman untuk kita tinggalkan"


"Ya sudah, ayo kita makan. Dari tadi kita belum makan gara gara gadis itu, ayo" pria itu mengangguk lalu mengikuti temannya pergi. Setelah melihat kedua orang itu pergi, Wanita itu mulai beraksi lagi. Ia menggesekkan pecahan kaca itu pada talinya. Meskipun sedikit susah tapi wanita itu berhasil.


Setelah ikatan di tangannya terlepas, ia jga membuka tali yang mengikat kakinya. Wanita itu berdiri dengan sempurna dan melihat sekeliling ruangan itu. Dia harus mencari celah untuk kabur sebelum laki laki brengsek itu bertemu dengannya.


Wanita itu melihat sebuah jendela. "Ini kesempatanku untuk kabur" gumamnya. Ia mengambil kursi yang telah usang kemudian menaikinya, wanita itu keluar melalui jendela dengan hati hati. Berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.


BUKKKK Wanita itu menjatuhkan dirinya begitu saja di tanah, matanya melirik kesana kemari memastikan tidak ada yang melihatnya. Setelah itu, dengan tertatih tatih dia pergi dari tempat itu. "Selamat tinggal Charles"


Jam sembilan pagi, Arini diantar Max pergi ke kampusnya, sedangkan Arsen ia mendadak urusan. Max tidak tahu urusan apa yang dilakukan kakak tirinya itu dan kelihatannya sangat penting sekali. Apalagi terlihat senyuman di wajahnya. "Arini, Uncle mau nanya boleh?"


Arini yang sedang memperbaiki lipstiknya menoleh pada Max. "Mau nanya apa?" Max tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung cara mengatakannya. "Emm temanmu yang namanya Via kemarin sudah punya pacar?'


Mendengar nama sahabatnya disebut Arini menaruh lipstiknya ke dalam tas nya kemudian beralih menatap Max. "Memangnya kenapa?" Tanya Arini. "Tidak, Uncle hanya bertanya saja"


Arini melayangkan tatapan curiga pada Max, tapi dengan cepat ia menghapus kecurigaannya.


Mobil Max masuk ke area kampus Arini, Arini segera turun dari mobil dan menyalami Max seperti biasa. "Arini masuk dulu, nanti pulangnya dijemput Daddy aja yah. Sampein ke Daddy uncle" Max mengangguk lalu membiarkan keponakannya itu masuk ke dalam kampus.


Setelah itu Max memutar arah mobilnya dan pergi ke tempat yang akan ditujunya. Arini berjalan sambil bermain ponsel hingga tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Arini mengangkat kepalanya dan melihat Rendi yang tengah menatapnya sambil tersenyum.


Arini melengos dan melanjutkan perjalanannya tapi tangannya dicekal dengan kuat oleh Rendi.  "Rin jangan pergi dulu, aku mau ngomong sama kamu" Arini berdecak dengan kesal. "Nanti aja, gue lagi ada kelas hari ini." Dosen pembimbing Arini terlihat berjalan menuju ke kelasnya. Arini langsung berlari dengan cepat tak peduli dengan Rendi yang masih menatapnya. Arini tidak mau terlambat di kelas Dosen killer nya itu.


Apalagi dosennya adalah pak Antoro, Arini sudah tidak mau lagi berurusan dengan dosen itu. Rendi menatap punggung Arini yang menjauh dengan nanar. Ia tidak mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Arini. Tepukan hangat di pundaknya membuatnya terkejut. Rendi menoleh. "Ica?"


"Lagi liatin Arini, belakangan ini dia mulai menjauh dari aku, aku gak tahu apa masalahnya tiba tiba dia menjauhiku" Ica mengerti ternyata sahabatnya ia memikirkan gadis itu. "Apa sebelumnya kamu pernah berbuat kesalahan sama dia?"


"Enggak ada, kita baik baik saja." Ica mengingat sesuatu, sekali lagi Ica menepuk pundak Rendi. "Aku baru ingat, Arini kan suka sama kamu tuh mungkin kamu kelihatan jalan sama cewek terus dia mulai menjauhi kamu." Rendi menoleh pada Ica. "Dari mana kamu tahu Arini menyukai ku?"


"Seluruh mahasiswa kampus juga tahu kali kalau Arini suka sama kamu, cuma dia diam aja. Gak terlalu menunjukkannya. Tapi aku pernah sih mergokin dia lagi lihatin kamu dalem gitu" Rendi menghembuskan nafasnya dengan kasar, semenjak Arini menjauh darinya 


Ia merasa ada yang kosong. Karena biasanya Arini selalu bersamanya ketika ada jadwal kuliah pagi.


"Kamu suka Arini?" Ica tidak salah lagi, terlihat jelas dari kedua mata Rendi. Tapi ia juga menyayangi kebodohan sahabatnya itu, dia laki laki tapi tidak gentle. "Kamu selalu benar, punya ilmu cenayang dari mana?"


Ica mencebikkan bibirnya. "Kimi silili binir, pinyi ilmi ciniying diri mini?" Rendi tertawa kemudian mencubit pipi sahabatnya dengan gemas. "Lepasin bego, nanti ada yang salah paham lagi" "Gak akan, ayo kita pergi"


.


.


.


Sekali lagi, Arsen berhasil mengalahkan Charles. hari ini Arsen mendapat kabar tentang bangkrutnya perusahaan Charles. dan orang yang membuat perusahaan Charles bangkrut adalah Arsen, dan wanita yang disekap anak buah charles adalah salah satu mata mata Arsen. Arsen sudah pernah memperingati seluruh musuhnya, berani mendekat berani mati. Jika mereka nekat maka terima lah resikonya.


"Tenang saja, saya akan mengirimmu ke Belanda, tinggallah disana selama mungkin. Biaya hidupmu biar saya yang tanggung" Arsen menutup telfonnya dengan senyuman licik di wajahnya. Ia mengambil sebuah batang nikotin  dan menyesapnya.


Arsen melihat ke arah jam tangannya, Arini juga sudah mengirimkan pesan untuknya. Arsen membuang rokoknya dan menginjaknya. Arsen keluar dari ruangan rahasianya.


Arini mengayunkan kakinya di bangku halte, ia masih mengingat pembicaraannya dengan Rendi tadi. Rendi mengungkapkan perasaan padanya. Tapi Arini tidak merasakan getaran itu lagi, Arini sudah tidak menyukai Rendi lagi. karena Arini kembali lagi dengan perasaannya yang dulu. Arini mencintai Arsen, ayah angkatnya. meskipun sekarang umur Arsen sangat jauh darinya, tapi Arsen masih tetap tampan seperti biasa. usia Arsen dan Arini terpaut 15 tahun. karena Arini 20 tahun dan Arsen 35 tahun.


"Bunda, Arini janji akan mengatakan pesan bunda untuk Daddy secepat mungkin"