
Aiden baru saja sampai di tempat yang ditujunya, dia menghentikan motornya di sebuah perumahan elit yang mana rumah itu adalah rumah dari salah satu teman sekolahnya. Dengan cekatan Aiden membuka helmnya sambil merapikan rambutnya. Aiden mengambil ponselnya dari dalam saku celananya kemudian mengetikkan beberapa pesan. Setelah itu Aiden turun dari motornya. Aiden langsung berjalan ke rumah itu dan membunyikan bel nya. Untuk beberapa saat Aiden menunggu hingga akhirnya pintunya terbuka. "Kak Aiden?" ucap seorang perempuan muda yang membukakan pintu tersebut. "Kelvin ada?" tanya Aiden pada perempuan itu yang tak lain dan tak bukan adalah Nisa,adik dari Kelvin temannya Aiden. Nisa memandangi penampilan Aiden dari atas sampai ke bawah. Penampilan Aiden hari ini berbeda dari biasanya. Aiden memakai kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku dan kancing bagian atasnya yang sengaja dibuka. "Kok kak Aiden ganteng banget sih" batin Nisa. Aiden mengangkat Alisnya ketika melihat Nisa yang terus memandang ke arahnya. "Ohh emm Kak Kelvin ada di kamarnya kak, kak Aiden langsung masuk aja ke dalam"
Aiden mengangguk lalu dia masuk melewati Nisa begitu saja tanpa sepatah kata pun. Nisa hanya tersenyum tipis lalu menutup pintunya kembali. Kemudian dia menoleh dan melihat ke arah Aiden yang sedang menaiki tangga untuk menuju ke kamar Kelvin. "Lebih baik aku buatin cemilan sama minuman dulu buat kak Aiden" ucap Nisa pada dirinya sendiri.
Aiden masuk ke dalam kamar Kelvin tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hal Itu dikarenakan Aiden sudah biasa datang kesini bahkan orang tua Kelvin sangat menyambut jika Arsen datang ke rumah mereka. Kelvin mendengar suara decitan pintu tanpa mengatakan apapun dia sudah tahu kalau itu Aiden. Karena Aiden sudah memberi kode padanya tadi melalui pesan singkat. "Tumben amat lo datang tanpa diminta" Kelvin meletakkan stik ps nya kemudian beralih pada Aiden yang langsung menjatuhkan dirinya di kasur Kelvin. "Gue mau ngajak lo liburan bareng Rei" ucap Aiden dengan singkat. Kelvin mengenyitkan keningnya. "Liburan? Gue mau mau aja sih tapi kok tumben Alea gak ikut. Biasanya kan Alea selalu nempel sama lo kemana lo pergi" Kelvin juga berpindah ke kasur dan duduk di samping Aiden yang sedang rebahan.
"Dia gak diijinin Daddy sedangkan gue dan Rei sudah mendapat izin karena nilai kita yang bagus. Lo kan tahu sendiri gimana kelakuan Alea kalau di sekolah? Bukannya belajar malah sering bolos. Makanya dia disuruh untuk memperbaiki nilai dulu" Kelvin hanya mengangguk kemudian dia bertanya lagi.
"Lo udah nentuin kita mau liburan kemana?"
"Bali"
Pintu kamar Kelvin diketuk dari luar, kemudian masuklah Nisa dengan membawa nampan yang berisi cemilan dan minuman. Kelvin langsung tersenyum menggoda melihat adiknya yang tiba tiba membawakan cemilan. "Sepertinya ada yang lagi seneng nih" Kelvin sengaja melihat ke arah Nisa. Nisa berusaha mengabaikan Kelvin meskipun dia sedikit malu malu. "Apaan sih kak, aku kesini cuma mau nganterin cemilan sama minuman buat kak Aiden doang kok" Kelvin semakin tersenyum lebar. "Kakak kan cuma bilang ada yang lagi seneng kenapa kamu jawabnya kesitu?" Kelvin menaik turunkan Alisnya membuat Nisa semakin tersipu malu. "Emm Kak Aiden ini cemilannya aku keluar dulu" dengan buru buru Nisa langsung keluar dan menutup pintu kamar Kelvin. Kelvin tertawa puas ketika melihat adiknya yang malu malu kucing. Dia tahu kalau Nisa sangat menyukau Aiden. "Dia kenapa?" tanya Aiden yang sedari tadi memperhatikan semua tingkah Nisa di depannya.
"Entahlah" jawab Kelvin berpura pura tidak tahu. "Oh iya selanjutnya rencana kita apa?" ucap Kelvin berusaha mengalihkan pembicaraan.
.
.
"Mom gimana? Lancar kan rencananya" ucap Rei pada Arini ketika Alea sudah kembali ke kamarnya. Arini mengacungkan jari jempolnya. "Rencana sukses, semoga saja dia benar benar belajar dan mendapat nilai tinggi"
"Papa bangga sama kamu Rei, meskipun kamu terlihat nyebelin untuk Alea tapi kamu punya rasa sayang yang besar untuk adikmu itu"
"Aku sayang banget sama Adek Mom, Dad. Tapi tolong jangan beritahu hal ini pada Adek ya. Cukup kita bertiga saja yang tahu. Aku juga akan mempersiapkan hadiahnya dari sekarang" ucap Rei sambil tersenyum.
Arini mengelus rambut Rei kemudian memeluknya. Rei juga membalas pelukan Arini.
Arsen tersenyum melihat istri dan anaknya berpelukan. "Kamu beruntung nak punya Abang seperti Aiden dan Rei. Mereka berdua sama sama peduli dan sayang sama kamu"