
Dalam satu hari persiapan Arsen bisa menggelar pernikahan yang mewah, Dia baru saja selesai mengucap janji suci bersama Arini di Gereja. Dan sekarang mereka hanya tinggal melakukan resepsi. Dengan menyewa sebuah gedung yang sangat luas. Dekorasi gedung sesuai dengan permintaan Arsen. Apalagi Ditambah dengan karpet merah yang bertaburan permata di atasnya. Semua orang menatap taburan permata itu dengan berbinar binar. Sebelumnya di jepang tidak ada pernikahan yang memakai taburan permata seperti ini. Dan mirisnya lagi Arsen menggunakan permata itu hanya sebagai penghias saja, buktinya Arsen dan Arini harus menginjak permata itu ketika naik ke atas pelaminan.
Arini tampak cantik dengan gaun pengantin yang berwarna biru cerah, gaun pengantin Arini juga tidak kalah mencengangkan dari karpetnya yang bertaburan permata itu. Dari seluruh pengantin yang ada di jepang hanya gaun Arini lah yang paling terbaik. Arsen tersenyum puas ketika melihat gaun itu sangat pas di tubuh Arini, tidak ada rencana apapun dia hanya memilih gaun itu untuk Arini dan ternyata pilihannya benar benar tepat, Arini tampak serasi dengan gaun tersebut.
Garda, Mila dan Max memperhatikan mereka dari jauh. Sedangkan para tamu undangan ditempatkan di tempat yang khusus. Arsen tidak ingin mengundang banyak orang di acara pernikahannya jadi dia hanya menyiapkan seribu undangan untuk mereka. Dan mungkin sekarang tamu undangan mereka lebih dari seribu karena rata rata mereka membawa pasangannya masing masing. Saat Arsen dan Arini sudah berdiri di atas pelaminan, semua tamu undangan langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan yang keras.
Dan tibalah saatnya, seorang Wanita naik ke atas panggung sambil memegang mic dan sebuah kertas. Wanita itu adalah Mc yang akan menemani mereka semua di hari yang istimewa ini. " Min'na oyasuminasai" (Selamat malam semua) Sapa sang Mc tersebut. " Oyasuminasai (Selamat malam) Jawab mereka dengan kompak. Mc wanita tersebut mengangguk lalu melirik kedua pengantin yang sekarang sedang duduk manis di atas pelaminan.
" Watashi no namae o shōkai shimasu Yuriko, watashi wa kono tokubetsuna hi, tsumari Aru Sen-shi to arini fujin no ma no kekkonshiki ni dōkō suru Makkudesu" (oke perkenalkan nama saya yuriko, saya adalah Mc yang akan menemani anda di hari yang spesial ini yaitu pernikahan antara Tuan arsen dengan nyonya Arini) Lagi lagi tepuk tangan yang keras menggema di dalam ruang gedung itu. Tanpa disadari siapapun seorang pria berkaca mata hitam tengah melakukan sesuatu. Matanya menatap Arsen dengan penuh kebencian sambil terus melakukan tugasnya. "Dalam lima menit" Ucap Orang itu dengan menggunakan bahasa indonesia.
"Kita bahas nanti lagi" Arsen kembali menatap semua orang dengan senyuman yang diberikannya. " Sate, mazu daiichi ni, watashi mo Aru Sen-shi o daihyō shimasu, watashi wa anata ni iitaidesu, dōmo arigatōgozaimashita" (oke langsung saja pertama saya juga mewakili keluarga Tuan Arsen ingin mengucapkan kepada kalian ucapan terima kasih yang sangat banyak) Yuriko terus menugcapkan kata kata pembuka sembarii membaca di kertas yang ia pegang tadi.
Mc belum sempat melanjutkan pembicaraan, suara retakan sesuatu terdengar sangat keras. Arsen mengangkat kepalanya dan menemukan lampu yang besar akan segera terjatuh. Dan lampu itu tepat berada di atas Arini, Ini akan membahayakan nyawa Arini. Max dengan cepat berlari untuk mencegah lampu itu agar tidak jatuh tapi sayang beribu sayang lampu itu sudah jatuh dan. "DADDYYYYYYYYYYYYYY" teriak Arini. Nafasnya terengah tengah dengan tubuh yang penuh keringat. Untung saja ini hanya mimpi.
Arini langsung turun dari kasurnya dan bergegas keluar untuk mencari Arsen. perasaannya belum tenang jika dia masih tidak bertemu Arsen. Di luar kamar Arini hanya melihat Max saja tapi tidak dengan Arsen. "Uncle, Lihat Daddy tidak?" Max langsung menoleh pada Arini kemudian menatapnya sekilas. "Ini kan sudah malam Arini dia pasti istirahat, lebih baik kamu juga tidur, besok kan kalian menikah jangan sampai kamu telat bangun di hari pernikahan kamu sendiri" ucap Max
Apa yang dikatakan Max memang benar, hari masih gelap jadi Arsen pasti masih tidur. Dengan keadaan Lesu Arini kembali ke kamarnya. Sungguh, mimpi yang tadi ia alami terasa seperti nyata. Mimpi itu seolah mengisyaratkan Arini agar lebih berhati hati dalam bertindak. "Ah tidak tidak, aku yakin ini hanya mimpi, bukankah mimpi adalah bunga tidur bagi semua orang?" gumam Arini. Arini kembali merebahkan tubuhnya di kasur kemudian memejamkan matanya kembali.