
Hari ini adalah hari kepulangan Arsen, Arini dan juga Max ke indonesia. Mereka sudah mempacking barang barang mereka dan dimasukkan ke dalam mobil. Sedari tadi Mila terus meneteskan air matanya karena harus berpisah kembali dengan anak anaknya. Apalagi Arsen, dia sangat jarang pergi ke jepang, sekalinya ke jepang hanya datang untuk minta restu saja. Dan tidak ada niatan untuk membantu Garda mengelola perusahaannya yang di jepang. "Arsen, Kapan kapan kalian datang lagi kesini ya, papa dan Mama tidak mungkin pulang ke indonesia untuk bertemu kalian karena harus mengurus perusahaan disini"
"Setidaknya Mama sama Papa harus bisa datang ke indonesia setelah anakku lahir, aku tahu mama sama papa sama sama sibuk, bahkan aku pun juga. Tapi jangan jadikan sibuk sebagai alasan. Mama tahu kan? Aku dulu membenci kalian karena apa? Jadi tolong jangan egois lagi" ucap Arsen dengan wajah datar. Dia bukannya ingin bersikap tidak sopan, hanya saja sifat Mila yang seperti inilah yang paling arsen benci. Mila bersikap seolah olah hanya mereka yang sedang sibuk dan punya perusahaan dimana mana. Bahkan kalau boleh sombong perusahaan Arsen jauh lebih banyak daripada milik kedua orang tuanya itu.
"Arsen, tolong jaga bicaramu untuk saat ini. Sebentar lagi kita juga akan berpisah dari mereka" Max benar benar geram dengan Arsen, meskipun dia kakaknya tapi terkadang Arsen tidak bisa bersikap dewasa dan malah kekanak kanakan seperti ini. Arini yang berada di samping Arsen hanya mengelus lengan Arsen. "Jangan dilanjutin ngomongnya, buang dulu rasa amarahmu" bisiknya dengan kecil. "Kembalilah dengan cepat Son" Garda memeluk Arsen sebentar.
Arsen melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, tiga puluh menit lagi pesawat mereka akan lepas landas itu artinya mereka harus tiba di bandara sebelum tiga puluh menit itu. "Cepat masuk mobil sudah saatnya kita pergi" titah Arsen pada Max dan Arini. "Baiklah, kalau begitu kami bertiga pergi, Mama sama papa jaga diri baik baik ya. Kapan kapan kalau ada waktu kita akan datang kesini lagi" ucap Max sambil tersenyum pada Mila. Harusnya Arsen yang mengatakan seperti itu, tapi biar saja lah, Arsen juga tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu.
"Iya kalian hati hati" Arsen membukakan pintu mobil untuk Arini, kemudian dia juga ikut masuk ke dalamnya. Sementara Max dia duduk di depan, di samping supirnya yang akan mengemudi. "Jalan pak" ucap Arsen. "Baik Tuan" tanpa mengucap satu patah kata lagi Arsen menyuruh supir itu untuk menjalankan mobilnya. Tidak ada lagi yang akan ia bicarakan dengan kedua orang tuanya, jadi untuk apa ia berbicara. Setelah mobil mereka mulai menjauh baru lah Mila sadar kalau dirinya benar benar egois sama seperti yang dikatakan oleh Arsen tadi. "Pah, sepertinya Arsen benar. Dari dulu sampai sekarang kita masih benar benar egois" Mila menatap Garda dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
Arsen tidak membiarkan Wira lolos begitu saja, setelah dimasak dengan api, Arsen juga memasukkan tubuhnya ke dalam kulkas dan membuat tubuhnya semakin beku. Luka bakarnya sudah tidak dapat tertolong lagi, semua kulitnya sudah rusak dan mengelupas. "Bos sudah pulang ke indonesia, dia menyerahkan pria tua ini dan dua bocah itu pada kita." ucap salah satu pria yang memakai topi berwarna hitam itu. "Tentu saja, ayo kita menyenangkan diri dengan membuat mereka tersiksa. Bukankah itu yang bos mau dari kita" jawab temannya. Kedua pria itu mengangguk. Mereka pergi ke suatu ruangan dimana ruangan itu diisi oleh Langit dan Rendi yang sekarang sudah lemah tak berdaya. Tubuh mereka juga sudah sangat kurus dan hanya tinggal tulang belulang saja.
"Buka ikatannya" ucap pria tadi pada temannya tersebut. Orang itu mengangguk dan langsung membuka ikatan antara Langit dengan Rendi itu. Pria itu tersenyum sinis ketika melihat mulut mereka yang mengeluarkan darah dan busa secara bersamaan. Tentu saja itu adalah ulahnya. Sebelum datang kesini dia sudah memberi makan kedua anak itu dengan racun yang paling mematikan.
Dan mungkin racun itu sudah bekerja dengan baik sekarang. "Hei hei, jangan kau muntahkan darahmu itu. Lebih baik kamu minum saja daripada kamu mati kehausan" Pria itu tertawa dengan keras kemudian kakinya menendang kepala Rendi dari samping, begitu pun dengan langit. Dia menginjak tangannya hingga terdengar suara patahan tulang yang sangat keras. "Masih mau lanjut nih?' tanya temannya yang tadi
"Lanjut aja, ini saja masih belum cukup atas dosa dosanya pada tuan Arsen" pria yang tadi mengangguk dan mereka mulai melakukan sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Rendi dan Langit menyesal karena telah bermain main dengan Arsen.