
Arini sedang menonton televisi di rumah, tidak ada yang harus ia lakukan. Semenjak hamil Arini memang tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun tanpa seijin Arsen. Dengan biskuit di tangannya dia menghabiskan waktu selama satu jam di depan layar televisi. Tapi tiba tiba raut mukanya berubah. Arini seperti menahan kesakitan lalu dia meringis sambil memegang perutnya. "Bi, Bi Minaaa" Arini berteriak memanggil nama Bi Mina tapi sepertinya Bi Mina tidak mendengar suara Arini apalagi dengan suara Arini yang lirih itu. Arini menarik nafasnya yang dalam kemudian memegang perutnya lagi. Kehamilannya sudah menginjak awal bulan ke sembilan. Arini berpikir mungkin dia akan melahirkan. "Aargghhh" Arini terus memegang perutnya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. "Tenang Arini, tarik nafas dulu kamu pasti bisa melewati semua ini" ucap Arini pada dirinya sendiri.
Tapi rasa sakit tetaplah rasa sakit, tidak akan berhenti hanya karena ucapan. Arini berusaha untuk menarik perhatian dia mengambil gelasnya kemudian memecahkan nya hingga hancur berkeping keping. Mendengar suara pecahan Bi Mina yang sedang berada di dapur langsung tergopoh gopoh keluar. "Non ada Aaa....ya ampun Non Arini." Bi Mina langsung menghampiri Arini dengan cepat. "Bi, tolong hubungi Mas Arsen Bi, sepertinya ini sudah waktunya " Arini mengatakannya sambil menahan sakit dengan sekuat tenaga. Wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat. "Sebentar ya Non" Bi Mina naik ke atas untuk memanggil Via juga. Suara klakson mobil membuat Arini sedikit tenang, tak lama kemudian suaminya masuk seperti biasa. Arsen masih belum menyadari jika Arini sedang kesakitan. "Kamu menunggu Mas pulang lagi?"
"Sakit Mas" lirih Arini sambil menatap Arsen dengan matanya yang sayu. Tatapan Arsen langsung turun ke kaki Arini yang basah. "Sakittttt Mas cepat bawa ke rumah sakit, jangan liatin paha aku terus" Arsen masih belom mengerti juga dia berjongkok di hadapan Arini. "Kamu kenapa? Jangan bikin Mas khawatir Arini? Kamu sampe pipis disini juga" ternyata dari tadi Arsen mengiranya sakit karena pipis. Dengan sekuat tenaga Arini langsung menjambak rambut Arsen. "Aku mau lahiran Mas, bukan malah ngompol Argghhhhhhhhhh" Arsen juga ikut merigis karena rambutnya yang ditarik. Dia berusaha untuk melepaskannya. "Iya iya lepasin dulu kita ke rumah sakit ya kalau gak dilepas kita gak bisa kemana mana" Arini langsung menghela nafasnya lalu melepaskan jambakannya.
Via dan Bi Mina turun dari atas. Bi Mina sudah menyiapkan semuanya untuk keperluan Arini ke rumah sakit. "Tuan, kita harus cepat. Karena ketuban Non Arini sudah pecah. Ini sudah saatnya" ucap Bi Mina. "Sakitttt Massss"
Via langsung mendekat pada Arini. "Rin lo tenang dulu okey gue yakin lo pasti bisa. Lo tahan dulu rasa sakitnya. Kita bakal pergi ke rumah sakit sekarang juga" tanpa aba aba lagi Arsen langsung mengangkat tubuh Arini dengan kedua tangannya yang kekar. "Ayo cepat" ucap Arsen pada bi Mina dan Via. Via langsung mengangguk dan mengikuti Arsen bersama bi Mina. Sampai di depan pintu ternyata Max sudah berdiri disana. "Arini kenapa?" tanya Max. "Cepat masuk ke dalam mobil lagi, kita pergi ke rumah sakit sekarang. Tidak ada waktu untuk menjelaskan lagi" Max yang tidak tau apa apa hanya mengikuti instruksi Arsen dan masuk ke dalam mobil.
"Sabar sayang kamu tahan dulu ya, aku yakin kamu dan anak anak kita pasti kuat" Arini tidak menggubris Arsen karena dia sedang menahan rasa sakit. Max yang menjadi supir dadakan sekarang baru paham kalau Arini mau melahirkan. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata tapi tetap dengan hati hati. "Hiksss sakit Mas" ucap Arini sambil menangis. "Itu hanya untuk sementara sayang" ucap Arsen berusaha menenangkan. "MAS BILANG HANYA UNTUK SEMENTARA? MAS GAK MIKIR APA KALAU INI TUH SAKIT BANGET. COBA MAS YANG ADA DI POSISI AKU MAS GAK BAKALAN KUAT. INI TUH SAKIT BANGET MAS. INI GARA GARA JUNIOR MAS TUH YANG SEKALI NABUNG LANGSUNG DAPAT TIGA BAYI. POKOKNYA AKU GAK MAU TAU JUNIOR MAS HARUS DIPOTONG SEBAGAI GANTINYA"
"Jangan sayang, kita perlu membuat Arsen junior lebih banyak lagi"
Arsen langsung turun dengan cepat dia berjalan memasuki gedung rumah sakit dan meninggalkan mereka bertiga. Seorang suster lewat di depan Arsen, Arsen langsung memanggilnya. "Sus tolongin istri saya, dia mau melahirkan"
"Baik pak"
Arsen langsung menidurkan Arini di atas brankas rumah sakit kemudian dia ikut mengantar Arini ke ruangan operasi. "Maaf pak, lebih baik bapak menunggu di luar saja agar proses kami berjalan dengan cepat" Arsen menyugar rambutnya ke belakang. Seorang Dokter tiba tiba menepuk bahunya dari belakang. "Istrinya ya pak?" tanya nya. Arsen mengangguk begitu saja. "Saya akan melakukan yang terbaik jadi bapak tenang saja dan terus berdoa untuk keselamatan ibu dan anaknya"
"Dok, apa boleh saya ikut masuk?"
"Bapak mau masuk?"
Arsen mengangguk lalu Dokter itu tersenyum. "Baiklah, ini bukan pertama kalinya suami dari pasien ingin masuk. Ayo masuk" Arsen langsung masuk bersama dengan dokter itu.