Hot Daddy

Hot Daddy
Terciduk



Arsen langsung menarik lengan Arini hingga berdiri tepat di sebelahnya. Arsen melingkarkan tangannya di pinggang Arini. Arsen ingin menunjukkan kepemilikannya terhadap Arini. "Ngapain kamu makan sama dia?" tanya Arsen pada Arini.


"Tadi Langit cuma mau mentraktir Arini aja kok Dad, ya sudah Arini mau." Arini masih takut untuk melihat wajah Arsen, jadi dia hanya menundukkan kepalanya. Tatapan Langit fokus ke satu arah, dimana tangan Arsen berada di pinggang Arini. Entah kenapa Langit merasa mereka berdua seperti memiliki hubungan selain antara Daddy dan putrinya.


"Maaf Om, Ini beneran saya yang ngajak kok. Jadi Arini tidak salah disini" Langit mencoba untuk membela Arini, ia takut Arsen akan marah marah pada Arini. "Memang kamu yang salah, tidak seharusnya kamu makan bersama dengan apa yang menjadi milik saya."


"Maksud Om?" Langit masih tidak mengerti dengan semuanya. "Saya suka Arini" ucap Arsen. Membuat Langit terkejut, Langit sudah tahu jika Arsen bukan ayah kandung Arini tapi mengetahui Arsen menyukai Arini itu benar benar di luar akalnya. Langit pikir hal seperti itu hanya ada di dunia novel dan sinetron. 


Arini mencoba melepaskan rangkulan Arsen, tapi Arsen semakin kuat merangkulnya. Arsen tidak peduli dengan semua orang yang mengambil foto nya saat sedang bersama Arini. Biarkan saja dunia tahu semuanya.  Lagi pula Arsen memang berniat mengenalkan Arini sebagai kekasihnya pada publik. Ia tidak ingin lagi melihat Arini didekati banyak pria. Arini cukup menjadi miliknya saja.


"Jadi saya minta, mulai sekarang jangan terlalu dekat dengan Arini. Karena mulai detik ini saya akan selalu mengawasi Arini" tanpa ba bi bu lagi Arsen langsung menarik Arini dan meninggalkan Langit yang masih terpaku. Langit mengacak rambutnya frustasi, kenapa semuanya harus begini? Padahal tadi ia dan Arini masih bisa tertawa bersama.


"Dad..Sakitttt...." Arini kesakitan karena Arsen mencengkram lengannya dengan kasar. Arsen menghempas tangan Arini saat ia sudah tiba di tempat mobilnya di parkir. "Sudah berapa kali Daddy bilang, jangan terlalu dekat dengan Langit atau pun cowok lainnya. Kenapa kamu malah ngeyel hmm?"


Arsen menyudutkan Arini di luar mobilnya, ia mengurung Arini dengan kedua lengan kekarnya yang berotot. "Arini hanya berteman saja Dad, Arini juga tidak mungkin menyukai mereka. Arini suka nya sama Daddy bukan Langit atau Rendi"


Amarah Arsen mereda setelah mendengar kalimat itu, kini ia memangkas jaraknya dengan Arini. "Angkat kepalamu dan Tatap wajah Daddy" Arini mengangkat kepalanya dan menatap wajah Arsen. "Coba kamu ulangi apa yang kamu katakan tadi" ucap Arsen sambil tersenyum.


"Arini tidak suka mereka, Arini cuma sayang sama Daddy, Arini juga masih cinta sama Dad..." belum sempat Arini melanjutkan kalimatnya Arsen lebih dulu membungkamnya dengan ciumannya. Kali ini Arsen mencium Arini dengan lembut, tidak terkesan tergesa gesa seperti kemarin. Arsen membuka pintu mobilnya dan membuat Arini masuk ke dalamnya dengan tidak melepaskan ciumannya. Arsen menutup dan mengunci pintu mobil mereka.


Arsen memperdalam ciumannya, Lidah mereka saling bertautan, mengabsen setiap rongga mulut masing masing. Tangan Arsen menyentuh kedua gundukan itu, sudah lama ia menahan nafsunya untuk tidak menyentuhnya, tapi sekarang, anggap saja ini adalah hukuman buat Arini karena jalan dengan laki laki lain tanpa sepengetahuannya.


"Oke, Daddy tidak akan menyentuhnya sekarang. Tapi setidaknya coba tunjukkan sama Daddy" Arini menggelengkan kepalanya, Gila saja jika dia menunjukkannya sekarang. Sekarang saja mereka masih di parkiran cafe. Arini tidak mau digrebek oleh polisi gara gara hal ini. "Nanti saja Dad, sekarang kita pulang dulu"


"Kamu pulang sama Daddy saja, mobilmu biar orang suruhan Daddy yang ambil" ucap Arsen sambil melirik ke arah Arini.


.


.


Malam harinya, selesai makan malam Arini langsung pergi ke kamarnya. Arini menghindari Arsen agar Arsen tidak menagih janjinya. Tadi siang dia hanya mencari alasan saja agar Arsen berhenti memainkan tubuhnya. Arini bergidik ngeri ketika tangan Arsen meremas kedua dadanya. Tapi sayangnya rencananya tidak berjalan mulus, Arsen sudah menunggunya di kamarnya.


"Sudah siap sayang?" ucap Arsen dengan suara seraknya. Arsen menghampiri Arini yang mematung di depan pintu kamarnya. Menarik tangannya dengan lembut lalu menutup pintunya dengan tangannya. Matanya melirik kedua gundukan besar itu. Arini yang menyadari tatapan Arsen memundurkan langkahnya. "Ayo, buka sekarang. Atau kamu perlu bantuan Daddy untuk membukanya?"


Arini menggelengkan kepalanya, menghembuskan nafasnya dengan pelan. Kemudian mulai mengangkat kaosnya hingga memperlihatkan perut indahnya. Semakin ke atas hingga Arsen melihat gunung kembar yang terbungkus dengan bra berwarna pink itu.


"Berapa ukuran Dada mu?" tanya Arsen. Wajah Arini memerah kemudian menurunkan kaosnya kembali. "36 B" jawab Arini. Arsen mengangguk. "Cukup besar" ucapnya.


"Oh iya Daddy sudah tidak ada hubungan apa apa lagi dengan Linda, jadi sekarang bagaimana? Apa kamu mau menerima Daddy?" Arini mengangguk sambil tersenyum, dalam hati ia sangat senang karena Arsen sudah tidak berhubungan dengan Linda lagi. Arsen lalu memeluk Arini dan mengecup keningnya. "I love you" bisiknya.


"i love you too Dad"