Hot Daddy

Hot Daddy
Pendarahan



Hari ini Arsen membawa semua keluarganya ke pantai termasuk kedua orang tuanya. Kemarin orang tuanya sempat ada urusan mendadak yang mengharuskan mereka pergi kembali. Dan sekarang mereka sudah berkumpul bersama lagi. Max dengan Via, Arsen dan Arini dan Garda bersama Mila. Bukan tanpa alasan Arsen mengajak mereka kesini, sudah lama dia tidak berkumpul seperti ini bersama mereka. Dan Arsen ingin meluangkan waktu setidaknya satu hari penuh bersama mereka. Angin sepoi sepoi meniup rambut cantik Arini sehingga semua orang yang ada di pantai sangat takjub melihat keserasian pasangan itu. Apalagi para pria disana yang tengah menatap Arini dengan penuh minat. Arsen langsung menatap tajam mereka satu persatu sehingga mereka tidak berani melirik lagi.


"Mas, aku laper" Rengek Arini ketika mereka sedang asyik menikmati pemandangan. Semua orang langsung memusatkan perhatiannya pada Arini. "Kamu laper? Yaudah kamu makan roti ini aja dulu. Nanti kita makan kalau udah pulang ya. Disini gak, ada makanan sehat" Ucap Arsen. Arini langsung menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Aku maunya sekarang? Aku pengen yang itu tuh" Arini menunjukkan tangannya pada penjual Roti es krim. Sedari tadi dia sebenarnya sudah ingin tapi menunggu waktu yang pas untuk mengatakannya. "Gak boleh, kita beli makanan lain aja ya. Kamu jangan makan es krim dulu" Wajah Arini langsung meredup dan mengangguk begitu saja. "Tumben" Batin Arsen. Tapi beberapa menit kemudian Arsen mendengar isak tangis. "Astaga Arini"


Max terkekeh pelan melihat Arsen yang kelimpungan karena tangisan Arini. Karena dulu Arsen pernah menertawakannya ketika Via menjambaknya. "Lagian jadi suami pelit amat sih, istri kalau minta apa apa itu diturutin bukan malah disuruh nunggu nanti nanti." Via mencubit lengan Max dengan keras . "Jangan gitu" Ucapnya. Sedangkan Arini dia masih berpura pura dengan akting menangisnya. Arsen langsung memeluknya dengan lembut. "Jangan nangis ya? Yaudah aku beliin dulu. Kamu sama dedek bayinya tunggu disini" Tepat setelah mengatakan hal itu Arsen langsung berdiri dan segera pergi.


Mila dan Garda tahu kalau Arsen sedang dikerjai tapi mereka diam saja. "Arini, mama sama papa mau jalan sebentar ya. Nanti kalau Arsen nyariin bilang aja lagi jalan jalan di sekitar sini. Gpp kan sayang? Mama sama papa gak mau ganggu waktu kalian saja" Ucap Mila. Arini langsung menoleh dan melihat ke arah nenek sekaligus ibu mertuanya itu. "Mama gak ganggu kok" Ucapnya. "Iya, tapi mama sama papa juga pengen menikmati waktu berdua" Garda mengedipkan sebelah matanya pada Mila. Arini yang peka dengan hal itu langsung tertawa renyah. "Jadi papa sama mama mau romantisan juga.? Kalau gitu Arini gak bisa melarang."


"Prokk prokk prookkk" Suara tepuk tangan membuat Arini kaget dia langsung menoleh ke belakang dan menutup mulutnya dengan spontan. "Sangat bagus sekali sekarang kamu sudah pandai berbohong ya kepada suamimu. Siapa yang mengajarkan kamu seperti ini" Wajah Arsen memang tidak kelihatan marah tapi dia bersikap seolah olah dia sedang marah. "Mas cuma salah paham kok tadi maksudnya bukan gitu, tapi..... " Arsen langsung memberikan roti es krim nya pada Arini kemudian berlalu begitu saja. Pergi entah kemana dan meninggalkan Arini hanya bersama dengan Max dan Via.


Arini akan pergi menyusul Arsen tapi tiba tiba "Awshhhhh" Arini memegang perutnya kesakitan. Max yang melihat arini kesakitan langsung melihat ke arahnya begitu pun dengan Via. "Ya ampun Arini kamu pendarahan" Ya Via melihat ada banyak sekali darah yang yang merembes hingga ke kaki Arini. "Telfon Arsen, mama sama papa yang. Kita langsung ke rumah sakit" Via mengangguk lalu dia menelfon mertuanya dan Arsen. Tapi sayangnya Arsen tidak menjawab panggilannya. "Kakak ipar tidak mengangkatnya mas" Ucap Via. "Ya udah ayo kita ke rumah sakit biarkan mereka menyusul"