
Sepulang sekolah Gevan langsung melemparkan tas nya ke sofa kemudian langsung merebahkan dirinya di atas sofa tersebut. Dia membalikkan tubuhnya hingga tidur terlentang. Mayang yang statusnya pembantu di rumah Gevan hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap tuan mudanya. Mayang pun berniat menghampiri Gevan. "Maaf Tuan muda, mungkin ada yang tuan muda inginkan, saya siap membantu" Gevan langsung menolehkan kepalanya ke arah maya. Dia berdecak sambil memutar bola matanya dengan malas. Dengan tanpa perasaan Gevan melemparkan tas nya yang berat itu hingga mengenai wajah mayang. "Simpan itu dan buatkan aku makanan" ucap Gevan dengan nada yang dingin. Perlakuan Gevan yang kasar pada mayang itu bukan tanpa alasan. Mayang adalah pembantu yang sangat baik tapi semenjak Gevan tau mayang menyukainya dia sudah sangat membencinya. Ditambah lagi Gevan tau rencana Mayang yang sebenarnya. Mayang berencana untuk membuat semua keluarganya mempercayainya hingga Mayang berhasil mendapatkan sedikit harta. Mayang tersenyum tipis sambil menggosok kepalanya yang sakit akibat lemparan tas Gevan tadi. "Apa ada lagi tuan?" tanya Mayang dengan lembut sambil terus memandangi Gevan.
Gevan langsung merubah posisinya yang sedari tadi rebahan kemudian langsung duduk dengan tegap. Gevan kemudian tersenyum smirk dia punya sedikit rencana di otak kecilnya. "Dia terlihat sangat tampan ketika sedang memikirkan sesuatu" batin Mayang sambil menjerit dalam hati. Gevan berdiri kemudian mendekat ke arah Mayang hingga jarak mereka benar benar sangat dekat. Mayang menahan nafas ketika wajah Gevan hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Gevan menyentuh rambut Mayang dan mengelusnya membuat Mayang merasakan debaran yang sangat keras. Meskipun umur Gevan lebih muda darinya tapi Gevan tahu bagaimana cara membuat wanita meleleh. "Tuan..." Tangan Gevan menupi bibir Mayang. "Dimana mama sama papa?" tanya Gevan dengan suara seraknya.
"Mereka...lagi pergi ke luar kota tuan, baru saja mereka pergi" jawab Mayang dengan sedikit terbata bata. Gevan semakin tersenyum licik kemudian dia menurun jari jarinya di sekitar leher Mayang membuat mayang sangat gelisah. "Bolehkan aku melakukan sesuatu pada leher indahmu ini?" tanya Gevan sambil menatap wajah mayang. Mayang yang sudah gugup hanya bisa mengangguk saja. Dia rela tubuhnya disentuh oleh Gevan. Karena itu lah hal yang paling diinginkannya. Gevan langsung mencekik leher Mayang sambil tersenyum. "Tuan muda apa yang tuan lakukan?" ucap Maya sambil berusaha melepaskan tangan Gevan tapi Gevan menekannya dengan lebih kuat. "Sampai kapan kamu akan berpura pura? Hentikan sandiwaramu. Aku tahu selain menyukaiku kamu juga menyukai harta mama papaku. Benar bukan?"
Mayang menggelengkan kepalanya sambil meneteskan air matanya. "T..ti..dak tuan itu tidak benar, saya murni ingin bekerja saja. Tidak ada niat lainnya" Gevan melepaskan tangannya kemudian mendorong Mayang hingga terjatuh di lantai. "Selama kamu masih di rumah ini jangan harap aku bersikap baik padamu, aku akan terus menyiksamu, ingat itu"
Gevan langsung pergi meninggalkan Mayang sendirian. Mayang menghapus air matanya sambil menatap kepergian Gevan. "Setidaknya aku mendapat sentuhannya meskipun itu menyakitiku" batin Mayang.
.
.
"Emang lo diapain sama Gevan sampe kesel kek gini?"
"Lo tau gak sih masa tadi gue dicium....."
Belum sempat Alea menjawab pertanyaan Vina. Rei dan Aiden sudah keburu datang. "Dicium siapa?" tanya Aiden pada Alea. Dan kebetulan jemputan Vina sudah datang. "Al gue pulang dulu ya selamat diintrogasi bang Aiden" bisik Vina sambil tertawa cekikikan. Kemudian Vina segera pergi meninggalkan Alea bersama Aiden dan Rei.
"Jawab tuh pertanyaan Bang Aiden" lanjut Rei lagi. Aiden menatap Alea dengan instens membuat Alea terlihat kikuk. "Apaan sih bang Rei, Alea gak dicium siapa siapa kok. Abang salah dengar kali" Aiden langsung merangkul Alea di lengannya. Menjauhkannya dari Rei kemudian membisikkan sesuatu di telinga Alea. "Lain kali kalau mau bohong jangan sama abang, abang sudah hafal jika kamu bohong seperti apa, abang tunggu ceritamu nanti di kamar"
"Kalian bisik bisik gak ngajak ngajak, sebenarnya kita saudara kembar bukan sih" ucap Rei dengan bersungut sungut.
"Harusnya sih bukan" jawab Aiden dan Alea dengan kompak membuat Rei semakin kesal saja.