Hot Daddy

Hot Daddy
S.2. Eps 20 Pertemuan Gevan dan Aiden



Sesuai perintah Aiden, Alea turun dari kamarnya dan kembali mencari Arini untuk meminta maaf. Dia menemukan Arini di ruang keluarga dan sedang menangis di pelukan Arsen. Rei yang melihat kehadiran Alea langsung memberi kode pada Alea agar segera minta maaf. Alea jadi merasa bersalah setelah melihat Arini menangis. Dia terus berdiri dan menunduk tidak berani menghampiri Arini. Rei yang menyadari hal itu langsung berdiri dan mendekat pada Alea. "Jangan takut, Mommy sama Daddy tidak akan marah sama kamu" ucap Rei sambil memegang bahu Alea. Alea mengangguk lalu dengan ditemani Rei, Alea memberanikan diri untuk mendekati kedua orang tuanya. Rei tersenyum lalu mengangguk. 


"Mommy" Alea memanggil Arini dengan perasaan yang campur aduk. Arini yang mendengar suara Alea langsung menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya. Alea langsung memeluk Arini dan meminta maaf. "Maafin Alea Mom, Alea gak bermaksud buat nyakitin hati Mommy hiks"


"Gak apa apa sayang, ini juga salah Mommy. Harusnya Mommy tidak terus terusan memaksa kamu untuk belajar"


 Alea menggelengkan kepalanya, dia terus memeluk Arini dengan erat. "Mulai sekarang Alea janji sama Mommy, Alea akan belajar dengan lebih giat lagi supaya dapat nilai bagus" Arini mengangguk sambil tersenyum.


Aiden baru saja muncul dari belakang kemudian dia langsung duduk di samping Rei. Rei menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa baru turun bang?" tanya Rei. Tapi Aiden tidak menjawab. Pada saat itu  Rei tidak sengaja menurunkan pandangannya ke celana Aiden yang mengembung dan lumayan menonjol. Dalam hati dia menahan tawanya. "Mending lo tidurin adik kecil lo bang daripada disini" Rei mengatakannya dengan nada meledek yang dibuat buat. Aiden menatap Rei dengan tajam. "Lo gak liat? Alea masih meluk Mommy. Dia gak akan bisa tidur kalau udah nangis begitu"


"Maksud gue bukan Adek? Tapi adik kecil lo noh"


Aiden langsung mengikuti arah telunjuk Rei yang sedang mengarah ke celananya. Aiden terlihat salah tingkah tapi dia tetap stay cool. Aiden berusaha mempertahankan sifat dinginnya. Jangan sampai citra dinginnya rusak karena hal sepele itu. "Biasa aja kali, punya lo juga sama tuh" Rei juga melihat punya dirinya sendiri tapi dia merasa biasa aja tidak seperti punya Aiden. "Kalian bahas apa? Daddy dengar seperti ada yang menonjol gitu" Arsen melirik kedua putranya secara bergantian. Begitu pun dengan Arini dan Alea mereka juga langsung menoleh ke arah keduanya.


"Emm anu Dad, bang Aiden...."


Aiden langsung membekap mulut Rei dengan tangannya, dia menatap tajam Rei supaya tetap diam. Rei langsung melepaskan tangan Aiden. "Apaan sih bang"


"Gimana liburan kalian?" tanya Arsen mengalihkan pembicaraan Rei. Arsen penasaran karena sedari tadi mereka masih belum menceritakan liburannya. Alea yang masih memeluk Arini kini mengurai pelukannya dan sekarang duduk bersila di samping Arini sambil memangku bantal di pahanya. "Iya bang ceritain dong"


"Sangat menyenangkan Dad, apalagi disana banyak bule seksi" Rei menyengir pada Arsen yang membuat Arsen geleng geleng kepala.


"Dasar mata buaya, liat bule dikit aja langsung digoda"


"Hilih gue tergoda karena gue normal bang"


"Normal? Kelakuan lo aja kek orang ga normal masih mau ngaku normal"


Alea terkekeh geli melihat perdebatan kedua abangnya itu. Dia berpindah tempat dari yang semula di samping Arini sekarang Alea berada di antara Aiden dan Rei. Alea merebahkan kepalanya paha Rei. "Makasih bang soal yang tadi" ujarnya sambil tersenyum manis pada Rei. Rei mengangguk sambil mengelus kepala Alea dengan sayang. Sedangkan Aiden dia duduk dengan gelisah di tempatnya sambil memegang kaki Alea. Jangan sampai kaki itu menyentuh aset masa depannya. "Oh iya Dad besok Aiden mau berangkat sekolah sendiri. Aiden pake motor aja" Aiden menggeser dirinya agak menjauh dari kaki Alea. "Kenapa?


"Gak papa cuma kangen motor Aiden aja"


Aiden berdiri kemudian melihat ke arah Alea sebentar dan pergi setelah berpamitan.


.


.


.


Brumm Brummmmm


Aiden mengebut ketika memasuki halaman sekolah, sehingga ia menjadi pusat perhatian terlebih semua cewek. Mereka saling berbisik bisik karena Aiden sudah masuk kembali ke sekolah. "Akhirnya pangeran tampan kita masuk sekolah juga" ucap salah satu dari mereka.


Aiden memarkirkan motornya kemudian membuka helm nya. Rambut berantakannya membuat semua cewek menggigit bibirnya. Aiden terlihat sangat seksi di mata mereka. Apalagi kebiasaan Aiden yang tidak pernah mengancingkan kancing bagian atasnya. Aiden merapikan rambutnya sambil melihat di kaca spion. Tiba tiba terlintas di pikirannya satu nama. Satu nama yang membuatnya penasaran. Siapa lagi kalau bukan Gevan Alvaro. "Alea bilang dia teman sekelasnya, aku akan tanya sama Vina" batin Aiden. Dengan cepat Aiden mencabut kunci motornya kemudian turun dari motor.


"Kak Aideeeeeeen


"Aduh meleleh hati neng a"


"Kak, gombalin aku dong"


Banyak pujian yang Aiden dapatkan ketika dia berjalan di lorong sekolahnya. Bahkan ada beberapa cewek yang mengikutinya dari belakang membuat Aiden risih. "Stop ikutin gue, gue mau ke kamar mandi" ucap Aiden yang berhasil membuat cewek cewek itu malu. Dan berhenti mengikutinya. Aiden mendengus lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke kelas Alea. Untung saja dia datang lebih awal jadi Alea masih belum ada di sekolah. Ketika tiba di kelas XI-Mipa 1 Aiden langsung masuk begitu saja. Hanya ada beberapa anak di kelas Alea. Mereka semua kaget ketika melihat seorang Aiden ada di kelas mereka. "Siapa yang namanya Gevan disini?" tanya Aiden dengan wajah datarnya.


Mereka semua diam tidak ada yang menjawab.  


"Sekali lagi gue nanya, siapa disini yang bernama Gevan?"


"Gue"


Suara itu muncul dari luar pintu, Aiden langsung berbalik dan menatap orang itu dari atas sampai bawah. "Jadi lo yang namanya Gevan?"