Hot Daddy

Hot Daddy
Klarifikasi



Selamat pagi


Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya jika selama ini saya sudah hiatus selama hampir satu bulan. Dan itu ada dikarenakan beberapa hal




Ujian Sekolah menjelang kelulusan




Pemilihan Universitas




Stuck dengan Ide untuk menulis Eps selanjutnya




Yang pasti juga karena kekurangan semangat. Oleh karena itu saya selalu baca komentar dari kalian. Saya butuh semangat lagi untuk menulis. Saya juga banyak kehilangan pembaca karena Hiatus saya yang kelamaan. Itu memang salah.


Dan untuk pembaca yang masih setia menunggu, Saya ingin kalian menjawab beberapa pertanyaan ini.




Apa yang bikin kalian menyukai Novel Hot Daddy?




Siapa tokoh yang paling kalian nantikan?





Tuliskan pesan buat Author supaya ke depannya bisa lebih baik lagi.



Episode terakhir sebelum saya hiatus


"Sama saya mau kamu?"  semua pandangan langsung mengarah ke Pak Kumis yang sedang menyengir sambil memegang kumis panjangnya. Ia dipanggil pak kumis karena kumisnya yang sangat panjang.  Alea bergidik ngerti melihat pak kumis yang tersenyum ke arahnya. "Yah pak, Bu Asih selaku penjual di kantin aja gak mau sama bapak apalagi Alea" celetuk Dodit yang langsung membuat semuanya tertawa. "Sadar diri pak, bapak sudah tua, mana statusnya duda lagi. Mana mau Alea sama bapak. Lebih baik bapak sama Bu Kepsek aja sama sama cocok" kali ini Wahyu yang menimpali. Wahyu adalah murid yang suka menjodoh jodohkan gurunya dengan guru yang lain. Bahkan wahyu juga berhasil membuat dua guru saling mencintai. Dia terkenal sebagai Si  tukang Comblang.


Pak Kumis memberengut kesal. "Saya nanya sama Alea kenapa kalian yang jawab"


Vina terkikik geli melihat raut wajah Alea. Akhirnya Alea membuka suara juga. "Wahyu benar pak, sepertinya bapak cocoknya dengan Bu Endang selaku kepala sekolah. Kalau saya sih memang lebih menyukai yang lebih tua tapi bukan yang seumuran bapak juga. Nanti kalau saya sama bapak bukannya dikira pasangan tapi dikira ayah dan anak"


"Tuh kan pak, apa yang saya bilang. Saya bisa bantu deketin bapak sama Bu kepsek kalau bapak mau. Lumayan pak. Kapan lagi dapat cewek yang secantik Bu Kepsek"


"Ada ada aja kamu, Bu Endang terlalu gendut buat bapak yang kurus. Bisa bisa bapak jadi penyet kalau sampe sama dia" Sementara Pak Kumis mengeluhkan tentang Bu Endang semua siswa langsung terdiam ketika melihat siapa yang masuk. Mereka langsung menyibukkan dirinya dengan buku mereka, termasuk Alea. "Masa iya saya yang ganteng kece badai ini harus bersanding dengan Bu Endang. Mana dia galak lagi. Kalian sendiri tahu kan seberapa galaknya dia"


"Ehemmmm kamu bilang saya apa?"


"Galak lah ya apalagi"


Pak Kumis tersadar dan langsung menoleh, seketika dia langsung merubah sikapnya. "Eh ada Bu kepala sekolah. Ada yang bisa saya bantu bu?"


Bu Endang tersenyum sinis "Ajari muridmu ilmu bukan malah gosipin saya"


.


.


.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Rei dan Aiden langsung keluar dengan terburu buru dari dalam kelas. Mereka langsung menunggui Alea di depan kelasnya. Karena baru saja mereka mendapat pesan dari Arsen bahwa Alea harus pulang bersama mereka. "Lo udah ditungguin tuh sama abang lo, gue duluan ya Al" ucap Vina pada Alea. Alea mengangguk kemudian dia membereskan semua peralatan tulisnya. Setelah selesai dia langsung keluar. "Tumben abang abangku pada nungguin disini"


"Daddy nyuruh kamu pulang bareng abang" jawab Aiden dengan singkat.