
Aiden mengetukkan pulpen nya ke meja beberapa kali, dia tidak mendengarkan penjelasan guru yang sedang menjelaskan materi dari tadi. Pandangannya memang mengarah ke depan tapi fikirannya dimana mana. Aiden masih mengingat wajah gadis yang bersama Alea tadi. Wajahnya sangat familiar sekali di matanya. Ia seperti pernah mengenalnya atau bahkan memang sudah mengenalnya. Icang sebagai teman sebangku Aiden merasa heran dengan tingkahnya tersebut. Hingga akhirnya Icang menjetikkan jarinya di depan wajah Aiden. Dan membuyarkan lamunannya.
"Lo kenapa sih Den? kayak gak fokus gitu. Ada masalah? " tanya Icang pada Aiden.
Aiden tidak langsung menjawab dia malah menoleh ke arah Rei yang sedang sibuk membuka ponselnya diam diam daripada mendengarkan guru. Icang semakin kebingungan ketika Aiden merobek kertas dan menggumpalnya kemudian melemparnya ke arah Rei. Rei yang terkena lemparan langsung mencari siapa pelakunya.
"Apaan? " tanya Rei.
"Fokus pelajaran jangan main hp. Mau, gue laporin Daddy? "
Rei berdecak kemudian menaruh ponselnya ke dalam laci mejanya. "Gue pengen nanya sama lo. tapi, lo jawab serius bisa gak? "
Icang mengangguk meskipun dia tidak Yakin bisa diajak bicara serius tapi demi Aiden Icang rela serius. Tentu saja karena Icang takut, jika Aiden marah pasti dia tidak akan mendapati contekan lagi.
"Misal lo punya teman yang Udah meninggal tapi beberapa tahun kemudian lo melihat wajah yang sama persis seperti dia. gimana menurut lo? Apa itu masuk akal? " tanya Aiden pada Icang. Aiden memberikan Icang ekspresi yang sangat tidak terduga. Aiden yang berwajah tampan terus mengerutkan keningnya. Sedangkan Icang dia masih mencerna apa yang ditanyakan Aiden tadi. Karena baginya sendiri itu tidak masuk akal. Tapi Icang berusaha memberikan jawaban yang pas buat Aiden.
"Ada dua kemungkinan, Yang pertama dia masih hidup Dan yang kedua siapa tau dia punya kembaran. Tapi itu menurut gue aja sih Den. Ya gue juga gak bilang itu bener tapi coba lo pikir aja sendiri"
Aiden mengangguk mengerti, apa yang dikatakan Icang memang Ada benarnya. "Tumben lo bener, kesurupan setan mana lo? " Aiden terkekeh ketika Icang mencibirnya.
"AIDEN, ICANG, KALAU MAU MENGOBROL SILAKAN DILUAR" teriak pak Guntur selaku guru Biologi mereka
"Diam kamu Rei, kamu juga. Jangan pikir saya tidak tahu kamu asik main handphone dari tadi" Pak Guntur menggelengkan kepalanya melihat kelakuan murid di kelas nya. Tapi Aiden tidak terpengaruh dengan hal itu. Dia terlihat santai aja.
"Kok bapak tau? padahal saya sembunyi sembunyi loh. Bapak peramal ya? Ramal saya dong pak"
"Lagian saya sama Aiden diskusi tentang pelajaran pak. Aiden tadi bertanya sama saya gimana cara manusia berkembang biak sehingga melahirkan anak anak seperti kita pak? "
"Bapak sih ngasihnya Teori doang, prakteknya dong pak" tambah Aiden dengan santainya. Seketika seisi kelas tertawa mendengar celetukan Aiden. Wajah pak Guntur memerah karena menahan amarahnya. Baru saja ia Alan menghampiri meja Aiden tapi bel sudah berbunyi terlebih dahulu. Alhasil Pak Guntur mengurungkan niatnya dan bergegas keluar daripada pusing dengan anak muridnya itu.
.
.
.
"Ayo Na udah waktunya istirahat, kita ke kantin dulu laper" ucap Alea pada Nana Dan Vina. Mereka berdua mengangguk sambil membereskan buku buku mereka ke dalam tas. "Udah, yuk" jawab Nana kemudian.
"Oke"