Hot Daddy

Hot Daddy
Malam yang dirindukan



Arini mengobati luka Arsen dengan hati hati, dia tidak peduli meskipun baju pengantinnya sudah berlumuran darah karena Arsen. yang paling penting sekarang adalah luka di lengan Arsen. Beberapa kali Arini sempat mengutuk Wira dan kedua orang gila itu. Dia menyesal karena dulu sempat tidak mempercayai Daddy nya. "Sakit gak Dad?" tanya Arini ketika ia mulai menekan kapas basah pada lukanya itu. Tapi jawaban Arsen sepertinya tidak memuaskan bagi Arini. "Tidak, seharusnya kamu tidak perlu mengobati luka seperti ini. Ini hanya luka kecil dan bisa sembuh dalam beberapa hari" Arsen menyentuh ujung lukanya  dan membersihkan sisa darah yang sedikit terlihat. Arini tidak menjawab karena fokus memasang perban di lengan Arsen, dia tidak sadar saja saat ini Arsen sedang menatap lekat dirinya.


Awalnya Arsen hanya melihat wajah cantik Arini tapi kemudian matanya turun ke bawah dan menemukan kedua gundukan itu yang terbungkus oleh gaun pengantin itu. "Buka saja kalau sempit" ucap Arsen kemudian. Arini mengikat tali perban Arsen kemudian sudah selesai. Lalu matanya bertemu dengan manik mata milik Arsen. "Apa yang harus aku buka?" tanya Arini dengan lembut tapi sepertinya salah diartikan oleh Arsen. Arsen malah menganggap Arini menggodanya dengan berbicara seperti itu.


Arsen tidak menjawab dia malah mendorong Arini ke tempat tidur, yah sekarang mereka sedang berada di rumah baru milik Arsen. Arsen sudah menyiapkan semuanya dia tidak ingin Melakukan malam pertama di rumah lamanya itu karena Max pasti akan mengganggunya. Arsen mengungkung tubuh Arini dengan kedua tangannya sambil tersenyum smirk, senyumannya sangat menakutkan bagi siapa saja yang melihat. Arini menunggu apa yang akan dilakukan Arsen terhadapnya, sekarang Arini sudah pasrah dia tidak bisa berbuat apa apa lagi dan membiarkan Arsen melakukan apapun yang ia mau.


Arsen membuka resleting gaun Arini yang berada di bawah tubuhnya kemudian dia juga membantu melepaskannya. Arsen melepaskan gaun berat itu dengan sedikit kasar bahkan gaun itu sampai robek beberapa kali. "Pelan pelan Dad, itu Gaun mahal jangan disobekin gitu aja" tegur Arini. Jujur saja dia tidak rela jika gaun itu sobek begitu saja karena Arini sangat menyukainya tapi apalah daya, hanya karena Arsen yang nafsu gaun itu lah yang menjadi korban. "Nanti diganti yang baru lagi" jawab Arsen dengan gampangnya. Dia berdecak kagum ketika melihat tubuh putih mulus yang hanya tertutupi oleh Cd dan Bra. Apalagi Cd yang dipakai Arini tembus pandang hingga menampakkan sedikit rambut dari bagian intim nya.


"Bagus gak Dad?" Arini semakin membuka pahanya dengan lebar sambil meremas dada miliknya sendiri. Yang tadinya pasrah sekarang Arini menjadi liar dan ingin mencoba lagi. Arini menggigit bibirnya sambil mengeluarkan erangan kecil, dia menutup matanya seolah olah menikmati apa yang sedang ia lakukan pada dirinya sendiri. Arsen meneguk ludah melihat hal itu, Kejantanannya yang tadinya tidur sekarang terbangun dengan cepat. Seolah olah dia tahu kalau saat ini dirinya sedang dipancing untuk keluar.


Arini tetap tidak bergeming, dia masih tetap berbaring dan memalingkan wajahnya. Karena tak mendapat respon dari Arini terpaksa Arsen harus melakukan sesuatu. Arsen langsung menaiki Arini dan menggesekkan miliknya pada Cd yang dipakai Arini dan sesekali menyentuh permukaan kulitnya. Arsen melihat reaksi Arini yang seperti sedang menahan sesuatu, bibirnya digigit dan pinggulnya digoyangkan.


"Jangan ditahan, lepaskan saja." ucap Arsen. Arsen langsung menarik Cd Arini dari atas hingga terlepas dari kakinya. Bahkan dia juga membantu Arini membuka tali branya. Arsen benar benar sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Juniornya sudah mulai terasa sakit karena belum mendapatkan sangkarnya. "Dad" panggil Arini. Arsen tidak menjawab dia malah menggesekkan miliknya pada milik Arini yang sudah tak tertutupi apapun. "Apa?" tanya Arsen pada akhirnya. Tangan Arini menuntun kepala Junior Arsen dan menekannya pada bagian intimnya hingga masuk setengah lagi. "Sshhhhhh" Arini mendesis kecil ketika benda besar itu mulai masuk ke dalam miliknya. Dan Arsen juga tidak ingin berlama lama lagi, dengan gerakan cepat dia langsung menghentakkan juniornya ke dalam milik Arini. Rasa hangat yang dia rasakan semakin hangat karena bagian intim mereka yang terus bertempur. Arsen meremas dada Arini dengan gerakan yang tidak teratur, dia juga membiarkan Arini mendesah sampai puas


"Shhhh Daddy" Arsen membuka paha Arini lebar lebar kemudian mengangkat sebelah kakinya dan diletakkannya di atas bahunya. Arsen menggempurnya lagi, sekarang kejantanannya lebih mudah untuk masuk ke dalam milik Arini. Arini benar benar berada di atas kenikmatan, keringat dan Dada nya yang terus bergoncang itu yang membuat Arsen semakin semangat. Arsen menarik perlahan kepala juniornya kemudian menggesekkannya lagi, sampai Arini tenang dan berhasil mengatur nafas. tapi baru beberapa detik, Jlebbbb Arsen langsung bergerak lagi. Benda panjang nan besar itu terus mengaduk aduk milik Arini hingga pemiliknya  tidak berhenti henti mendesah. "Aku keluarrrrrrrr Daddddddd" ucap Arini.


"Kita keluar bersama" Dalam waktu lima menit Arsen dan Arini telah berhasil mencapai puncak kejayaan dalam hubungan suami istri ini.