
Belakangan ini Ririn tidak pernah keluar rumah, karena setiap kali dia keluar rumah pasti ada aja yang sering menerornya. Seperti sekarang ini, tadi pagi dia keluar hanya untuk meminta bantuan seseorang tapi setelah pulang dia sudah menemukan rumahnya yang sudah berantakan, semua kaca dipecahkan, Peralatan Elektronik juga dirusak. Terlebih ada tulisan tangan yang ditulis dengan menggunakan darah. "Sampai kapan aku harus seperti ini, aku tidak bisa diam begitu saja. Secepatnya aku harus mencari pertolongan" Gumam Ririn. Dia tidak sadar kalau rumahnya sudah dipantau dengan cctv, jadi apapun yang dia lakukan pasti akan terekam oleh cctv termasuk kegiatan mandi sekalipun. Saat Ririn akan berdiri dari tempat duduknya tiba tiba sebuah bayangan melintas dengan cepat dan pada saat itu lampu juga tiba tiba mati. Ririn yang pada saat itu tengah menikmati cemilan langsung terkejut, dia sangat tidak suka kegelapan.
Ririn menutup matanya, badannya terus gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Ririn punya trauma dengan gelap karena dulu dia melihat orang tuanya dibunuh dalam kegelapan. Dan pembunuh itu adalah Arsen, orang yang saat ini sedang diincar oleh Ririn untuk membalaskan dendam atas kematian orang tuanya. "Tidak, tidak, jangan bunuh orang tuaku, bunuh saja aku" Ririn terus meracau dengan menyebutkan hal yang sama. Seseorang di balik kejadian itu tersenyum puas, dia menghidupkan korek api dan membakar rokoknya. Kemudian pergi meninggalkan rumah itu dengan rasa puas di hatinya.
.
.
Arini sedang melamun di kamarnya, dia terus memikirkan masalah Via dan Max yang masih belum terselesaikan. Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan Arsen masih belum pulang juga. Arini berniat untuk menelfonnya tetapi suara mobil Arsen sudah terdengar terlebih dahulu. Arini turun ke bawah untuk membukakan pintu. "Mas, kok baru pulang?" tanya Arini. Arsen melepas jas nya kemudian langsung menggendong Arini dengan gaya bridal style. "Sudah ku bilang kamu hanya tinggal menungguku di kamar saja, kenapa harus turun. Aku tadi lagi lembur di kantor makanya pulang selarut ini" jawab Arsen. Meski begitu indra penciuman Arini ternyata masih kuat, dia mencium aroma rokok di tubuh Arsen. "Mas ngerokok lagi kan?" tanya nya sambil menatap tajam.
"Aku mau tidur sambil meluk Mas sekarang juga. Lebih baik Mas tidak usah mandi" dengan segera Arini menarik tangan Arsen. Arsen hanya bisa menghela nafasnya, kemudian dia mulai membuka kemeja dan kaos dalamnya. Arsen hanya bertelanjang dada. Bagian bawahnya ia tidak buka karena takut keadilan minta ditegakkan. Arini sangat terpikat ketika melihat roti sobek yang terpampang dengan jelas di hadapannya. Meskipun dia sering nonton di drama korea tapi roti sobek mereka tidak sebagus roti sobek milik suaminya. "Katanya mau tidur, ayo" Arsen naik ke atas kasur. Dengan cepat Arini berpindah dan langsung memeluk tubuh Arsen dengan erat. "Mas" panggil Arini.
"Hmm" Arsen membelai rambut Arini dengan tangannya, sambil sesekali dia mencium kening Arini. "Kapan Uncle Max bisa memberikan bukti bahwa dia tidak bersalah? Kamu tahu Mas. Via hanya menunggu itu. Dia ingin Uncle Max memberikan bukti. Bukan malah menghilang tidak jelas seperti itu." Arini mendongakkan kepalanya menatap wajah Arsen yang terpahat dengan sangat sempurna. "Dia pasti akan memberikan buktinya tapi tidak sekarang. Karena ada hal yang harus dia lakukan dulu sebelum memberikan bukti" Arsen tersenyum menyeringai yang tidak disadari Arini.
Seorang pria tengah berdiri dengan memegang sebuah foto yang sudah usang. Dia melihat foto itu dengan penuh rasa benci. Dia lah yang menyebabkan semua yang terjadi pada max. Max tidak akan tinggal diam lagi, dia sudah tahu kalau orang yang ia hadapan adalah rubah yang licik. "Tunggu saatnya akan tiba" ucap Max