Hot Daddy

Hot Daddy
Investor Brengsek



Suasana semakin menegang, Arsen berdebat dengan para investor yang ingin menarik sahamnya kembali. Mereka terus menolak untuk bicara baik baik dan tetap menginginkan sahamnya kembali. Pada saat itu lah Arsen menjadi benar benar emosi, dia mengambil surat kontrak mereka kemudian merobek dan melemparkannya pada wajah mereka. "Enyahlah kalian semua dari sini, saya akan mengembalikan semua saham saham anda. Saya juga tidak butuh investor licik seperti kalian." Mereka semua mengangguk tanpa terkecuali sambil tersenyum puas. Tidak sia sia  mereka menunggu sampai dua jam seperti ini.


"Baiklah, kami akan pergi dari sini. Tapi ingat, saya juga tidak akan menginjakkan kaki atau menanamkan modal di perusahaan sampah seperti ini lagi" ucap salah satu di antara mereka yang rambutnya sudah botak dan lumayan tua. Arsen mengepalkan tangannya berusaha menahan amarah tapi sepertinya dia tidak bisa, Arsen mengambil vas bunga yang ada di mejanya kemudian melemparnya dan hampir saja mengenai pria botak itu. "SAYA BILANG KALIAN PERGI SEKARANG JUGA ATAU PERLU SAYA PANGGILKAN SATPAM UNTUK MENYERET KALIAN" Nafas Arsen naik turun karena terus emosi, bertahun tahun dia membangun perusahaan ini sekarang mereka malah seenaknya menghinanya.


Mereka semua pergi dengan begitu saja, termasuk pria botak yang tadi sempat menghina. Sebelum pergi pria botak itu menoleh. "Lihatlah, sampai dimana kamu akan bertahan hari ini" ucapnya. Mendengar hal itu Arsen tiba tiba saja tertawa meremehkan, matanya sudah menunjukkan kilat amarah yang sangat nyata. "Pergi sebelum aku membuat kepala botakmu itu untuk menjadi mainan anak anak, kamu pikir saya tidak tahu jika rambut botakmu itu karena apa. Kanker otak. Itu hal yang kamu alami sekarang kan?" Arsen menarik sudut bibirnya ke atas. Kemudian dia berjalan mendekat sambil mengelilingi tubuh pria botak itu.


"Dalam usia 50 kamu sudah terkena kanker otak dan kamu masih yakin ingin bermacam macam dengan saya. Punya apa kamu untuk melawan saya" tanya Arsen dengan sombongnya. Arsen berusaha untuk berubah menjadi lebih baik demi Arini tapi saat dia mulai dipancing sepertinya sifat itu kembali lagi. Pria botak itu dengan beraninya mendorong Arsen tapi untung saja Arsen tidak jatuh, dia malah tetap berdiri tegak. "Saya masih punya banyak harta untuk melawan kamu" Arsen mengambil tisu kemudian membersihkan jasnya yang sempat disentuh pria botak tadi, Arsen malah tidak peduli. Bahkan dia memasang wajah seperti jijik karena sudah menyentuh kuman.


"Harta kamu tidak lebih dari harta saya" Karena pria itu tidak kunjung keluar akhirnya terpaksa Arsen yang mendorongnya keluar. "Pergilah sebelum kesabaranku habis, jangan tunjukkan wajahmu padaku lagi. Atau aku akan berbuat sesuatu yang tidak akan terduga untukmu" Arsen membanting pintu ruangannya dengan keras hingga membuat semua karyawan yang mendengarnya langsung kaget dan mengelus dadanya. Arsen menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya, dia memijat pelipisnya dengan lembut. Sekarang rasa pusingnya dicampur dengan rasa lelah. Arsen tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Kalau tidak, Arini pasti bertanya tanya.


.


.


Mereka semua langsung melihat ke arah Max termasuk Via. "Baru saja Uncle, lagian Arini sudah lama tidak ketemu setidaknya hari ini mereka semua bisa datang dan ngumpul di rumah" jawab Arini. Shila mengangkat kepalanya dan menatap wajah Max. "Busett Om Max makin ganteng aja Vi, Jangan dianggurin terus lah. Kasian Om Max nya" sindir Shila pada Via.


Max tersenyum sambil mengacungkan jempolnya pada Shila, tapi via tetap saja acuh tidak acuh. Dia masih tertarik dengan ponselnya yang menunjukkan drama korea atau foto foto oppa kesayangannya. "Ya sudah kalian lanjut nonton dulu, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan di luar" Via menoleh sekilas kemudian fokus dengan ponselnya lagi. Max berjalan mendekat kemudian mengacak acak rambut Via dengan gemas. "Jangan marah lama lama, nanti aku kangen" Max mengedipkan sebelah matanya kemudian keluar dari kamar arini begitu saja. "Sana gih kamu susul Uncle Max, kasihan dia" ucap Arini.


"Tapi..."


"Hubungan itu tidak akan berjalan dengan sempurna jika hanya salah satu yang berjuang. jadi tolong jangan sia siakan Uncle Max. Dia adalah pria yang baik"


Seketika Via merasa setuju degan perkataan Arini. Via langsung turun dari kasur Arini, Via mencari keberadaan Max dan langsung melihatnya di ruang keluarga. Tanpa pikir panjang lagi Via memeluk Max dengan erat. max tentu saja kaget karena mendapat pelukan tiba tiba. "Maafkan aku ya Mas, lagi lagi aku egois tidak mau dengerin penjelasan Mas dulu'


"Tidak apa apa sayang, ayo duduk disini" ucap Max sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.