
Sesuai dengan janji Shila dan Gabriel, hari ini tepat jam satu siang mereka kembali ke rumah sakit dengan membawa nasi goreng yang Arini inginkan. Tidak hanya satu mereka bahkan juga membuatkan untuk yang lain. Dengan senyum ceria Arini langsung memakan nasi goreng buatan Gabriel. Arini sangat menyukai nasi goreng buatan Gabriel oleh karena itu dia lebih memilih dibuatkan Gabriel daripada membeli di luar. "Pelan pelan makannya kalau mau nambah lagi masih banyak kok" Ucap Shila. "Sumpah gue kangen banget nasi goreng lo, udah lama kan gue gak makan nasi goreng lo lagi." Jawab Arini sambil terus menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya. Gabriel mengambilkan satu botol air putih kemudian meletakkan di samping kasur Arini. "Iya gue tahu, gue cuma takut lo tersedak aja kalau makannya begitu" Tapi Arini tidak terlalu menghiraukan sehingga membuat Gabriel dan Shila menggelengkan kepala secara bersamaan.
Setelah nasi goreng nya habis Arini langsung meminum air yang diberikan Gabriel tadi. Dan sekarang perutnya sudah tidak lapar lagi. Suara ketukan pintu dari luar membuat mereka langsung menoleh. Arsen masuk ke dalam dengan menggunakan jas, tadi pagi dia mendapat telfon dari Rocky bahwa ada rapat antar perusahaan hari ini. Alhasil mau tidak mau, Arsen harus masuk kantor hari ini juga. Arini tersenyum ketika Arsen datang membuat Arsen bertanya tanya. "Kenapa dia? " Tanya Arsen pada Shila. "Habis makan nasi goreng buatan Gabriel om" Jawab Shila. Arsen mengangguk lalu berjalan mendekat pada Arini. "Sudah pulang Mas? " Tanya Arini.
"Iya baru selesai rapat langsung kesini. Nanti sore kan kamu dibolehin pulang sama dokter" Arsen mengelus rambut panjang Arini sambil mencium keningnya. Shila dan Gabriel yang merasa kehadiran mereka takut mengganggu keromantisan Arsen dan Arini. mereka memilih untuk keluar saja. "Rin, gue sama Shila mau ke depan. Gue mau ketemu Via dulu. Gpp kan?" Tanya Gabriel. "Iya gpp kok, thanks ya buat nasi gorengnya" Gabriel mengangguk lalu, dia keluar bersama Shila dan membiarkan kedua pasangan itu bermesra mesraan. Setelah keduanya keluar dari ruangan Arini, Arini langsung menggeser tubuhnya ke arah kanan dan menyuruh Arsen duduk di sampingnya. "Ada apa hmm? " Tanya Arsen. "Dede bayinya mau dielus sama Daddy nya" Jawab Arini sambil nyengir. "Sekarang? " Tanya Arsen. Arini mengangguk dengan cepat. Akhirnya Arsen naik ke atas ranjang itu kemudian dia menyandarkan tubuhnya dan menarik Arini ke dalam pelukannya. "Ayo sini Daddy elus" Ucapnya. Arini langsung meletakkan tangan Arsen di atas perutnya. "Elus mas tuh dede bayinya nendang nendang mulu"
Arsen memang merasakan sebuah pergerakan dari dalam perut Arini. Rasanya seperti mereka sedang bermain bola. Tiba tiba dia tertawa ketika merasakan pergerakan yang kuat. "Anak Daddy kuat banget sih Nendang nya, pelan pelan aja ya nanti Mommy sakit kalau kalian nakal di dalam sana" Ucap Arsen sambil mengelus perut Arini dengan lembut. "Mereka pasti pada rebutan mas di dalam sana, kan bayi kita ada tiga" Jawab Arini. Arsen bahkan sampai lupa kalau mereka akan mempunyai tiga bayi entah itu faktor usia atau karena memang Arsen yang pelupa. "Iya aku baru ingat kalau kita akan punya tiga bayi" Arini terkekeh kemudian dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arsen. "Mas" Panggil Arini. "Hmm" Jawab Arsen.
"Aku kangen Bunda, kapan kapan kita datang ke makam bunda ya. Aku ingin ketemu Bunda" Perkataan Arini membuat Arsen diam sejenak, dia juga berpikir kalau sudah lama dia tak mengunjungi makam mendiang istrinya. "Mas, kok malah bengong sih"
Garda, dan yang lainnya mengintip kegiatan mereka dari luar pintu. Bukan hanya dia tapi Max, Via, Shila dan, Gabriel juga. Mereka ikut senang ketika melihat kedua pasangan itu tertawa bahagia. "Melihat mereka sekarang, aku jadi teringat kita di masa muda dulu. Mereka sama seperti kita, dikit dikit berantem dikit dikit akur." Ucap Garda. Mila hanya menyikut lengan Garda karena malu. "Jadi kalau dibandingkan sama Arsen lebih romantis mana papa sama Arsen? " Tanya Max sambil menggoda Mila. Mila hanya tertunduk malu gara gara Max.
"Tentu saja lebih romantisan papa, karena Arsen masih kaku. Dia tidak ada apa apanya,
dibandingkan papa" Jawab Garda dengan bangga. Saat Garda mengatakan hal itu semuanya seperti sedang menahan tawa. Bahkan Shila dan Gabriel sampai menutup mulut mereka agar tidak tertawa. "Pada kenapa sih? " Tanya Garda dengan heran. Max menunjuk ke arah pintu dan Garda langsung menoleh ke belakang. Seketika dia langsung mati kutu. Tatapan Arsen berhasil membuat Garda mati kutu. "Arsen, sejak kapan kamu, disitu? "
"Sejak papa bilang aku tidak, ada apa apanya" Ucap Arsen. Arsen maju mendekat ke arah Garda. Lalu Arsen menepuk bahu Garda dengan tiba tiba. "Tapi sayangnya papa lebih lemah, dariku" Ucap, Arsen dengan senyuman khas nya.