Hot Daddy

Hot Daddy
Malam mereka



Suara desahan menghiasi kamar kedua insan itu, percaya lah mereka sedang bergumul di balik selimut. Dan itu adalah kemauan Arsen sendiri, dia ingin merasakan sensasi yang lebih nikmat lagi dengan bercinta di bawah selimut. Arsen terus memompa miliknya ke dalam milik Arini dengan lembut. Gerakannya tidak kasar, dia tetap berhati hati dalam melakukannya. Arsen menggeram ketika merasa dia sudah ingin keluar, tangannya meremas dada Arini dengan kuat sambil memasukkan dalam dalam juniornya pada milik Arini. Arini mendesah dengan kuat, tubuhnya sudah mulai dipenuhi dengan keringat. Apalagi Dadanya yang juga penuh dengan kissmark. "Aaaaaaahhhh" Sebuah cairan kental berhasil lolos dari milik Arsen.


Arini mengambil nafas yang dalam, entah karena hormon kehamilannya atau gimana tapi Arini masih ingin melakukan hal itu lagi. Terlihat dari gerakannya yang sangat gelisah. Rupanya dia terangsang lagi karena milik Arsen masih dengan kokohnya berdiri. "Mau lagi sayang?' tanya Arsen sambil memegang miliknya dengan tangan kanannya. Dengan malu malu Arini menganggukkan kepalanya. Arsen dengan cepat melemparkan selimutnya ke bawah, kemudian dia memposisikan Arini untuk menungging sebentar. "Kamu bisa tidur di bantal ini, tapi tubuh kamu jangan sampai turun okay"


"Iya Mas" Dengan perlahan lahan benda panjang itu mulai menerobos milik Arini. Rasanya sangat hangat dan nyaman. Lubang milik Arini sangat sempit meskipun sudah ia masuki berkali kali. Seandainya bisa Arsen tidak ingin melepaskan juniornya dari milik Arini. "Lebih cepat lagi Mas" lirih Arini sambil menggigit bibir seksinya itu. Arsen semakin menambah kecepatannya, dia terus mengamati dada Arini yang bergoncang karena tusukan dari miliknya. "Ssshhhhh Mas aku keluar" Seketika Arsen langsung berhenti bergerak, dia tidak akan membiarkan Arini keluar secepat itu. "Loh Mas?"


Arsen memasukkan lidahnya ke dalam mulut Arini sambil terus melanjutkan goyangannya, dia seakan akan tidak puas dengan beberapa gaya, untung saja Arini masih bisa mengimbanginya. Arsen semakin buas ketika dia sudah lama tidak mendapatkan jatahnya. Arini sampai kewalahan dalam menghadapi Arsen. "Mas, istirahat bentar ya. Aku capek" ucap Arini setelah arsen melepaskan ciuman mereka. Arsen sebenarnya ingin lanjut tapi melihat raut wajah Arini yang kelelahan Arsen tidak tega. Dengan terpaksa dia mencabut juniornya dari sarang Arini itu.


Arini terdiam sebentar, dia membaringkan tubuhnya dengan keadaan yang sudah polos. Arsen sudah membuatnya kehabisan tenaga, dia benar benar liar. Arsen jarang keluar tapi sekalinya keluar cairannya gak habis habis. "Kita tidur aja ya, kamu capek banget tuh" Arsen mengambil selimut yang baru dalam lemari kemudian dia menyelimuti tubuh Arini dengan itu. "Tapi kamu gimana Mas, itu kamu masih berdiri tuh" ucap Arini sambil melirik ke juniornya Arsen. Arsen hanya tersenyum lalu mengelus rambut Arini. "Dia masih bisa kuatasi, sekarang kamu tidur yah. Selamat malam istriku" Arsen mengecup kening Arini dan juga perutnya. "Selamat malam juga suamiku"


Sedangkan di kamar sebelah, Max sedang melakukan panggilan video call dengan Via. Semenjak kejadian via memeluknya tadi mereka berdua semakin lengket. "Mas" panggil Via di balik layar telfon. Max bisa melihat wajah Via dengan jelas, saat ini Via sedang menggunakan masker di wajahnya. "Kenapa?" tanya Max. "Mas mikir gak sih kalau pengantin baru itu ikut ikutan manggil nama seperti kita" ucap Via lagi sambil memeluk bantalnya dengan erat. "Ikut ikutan gimana?" heran Max karena dia sama sekali tidak mengerti dengan yang dimaksud oleh Via tadi.


"Ya gitu deh, Arini juga manggil om Arsen dengan sebutan Mas. Om Arsen manggil dia sayang juga" jawab Via. Max malah terkekeh dibuatnya. "Tidak apa apa lah, lagian enak kalau kita serumah suatu saat nanti. Pasti ada dua wanita yang bakal memanggil kita dengan sebutan Mas. Arini untuk Arsen dan kamu untuk aku. Benar kan?' Max menaik turunkan alisnya pada Via.  "Bener juga sih Mas"


"Ya sudah sekarang sudah malam, kamu tidur sana. Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur" Max mengambil ponselnya dan mengarahkan pada wajahnya. "Iyaa, ini aku ke kamar mandi dulu ya sekalian buang air kecil. Mas cepetan tidur, jangan main game mulu gak baik buat kesehatan" Max mengangguk dengan cepat. "Iya udah sana, Matiin telfonnya" setelah telfonnya terputus Max langsung merebahkan dirinya kembali di atas kasur. Max mulai menguapُ kemudian dia mulai terlelap  dan tidur dengan pulas.