
Seperti yang dikatakan Arsen, malam ini dia meminta Arini untuk memacking barangnya. Arini memasukkan satu persatu pakaian Arsen ke dalam koper karena arsen tidak hanya berhari hari disana tapi juga berminggu minggu. Awalny Arini mengira kalau Arsen pergi selama beberapa hari tapi setelah arsen memberi tahunya Arini sempat marah karena Arsen begitu lama disana namun pada akhirnya dia juga mengerti. "Mas, apa lagi yang kurang. Semua bajunya udah aku siapin, dalaman juga. Dasi sama ikat pinggang juga udah aku masukin. Kayaknya udah lengkap deh" ucap Arini sambil memeriksa kembali pakaian dan barang barang Arsen yang sudah dimasukkan ke dalam koper.
Arsen berjalan mendekat dan juga memeriksa barang barangnya, semuanya tertata rapi di dalam koper. Tapi sepertinya Arsen merasa ada yang kurang. "Kamu udah masukin parfum kesayangan aku belum?" Awalnya Arini mengenyitkan keningnya lalu teringat kalau Arsen memang tidak bisa lepas dari parfum kesayangannya. "Oh iya lupa Mas, bentar ya aku ambilkan dulu" Arsen hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia kembali melanjutkan aktivitasnya, dia membawa kembali berkas berkas yang perlu ia bawa ke luar kota. Arsen ingin semuanya perfect dan tidak ada yang ketinggalan. Karena ini adalah strateginya untuk menaikkan nama perusahaannya lagi.
Arini kembali lagi dengan membawa dua botol parfum kesayangan Arsen, Arini sangat menyukai aromanya. Kadang dia selalu mencium aroma parfum itu dari kemeja Arsen secara langsung. "Ini parfumnya, gunakan secara baik mas. Jangan sampai godain wanita lain disana apalagi sampe tergoda. Aku bisa tahu kalau mas tergoda dengan mereka. Jadi jangan macam macam disana" Arini meletakkan botol parfum itu dengan benar di dalam koper, kemudian dia merasa sebuah tangan melingkar di perutnya. Arsen mengusap perutnya dengan mesra. "Sesuai dengan janjimu tadi pagi, kamu akan memberikan mas pelayanan servis. Sekarang ayo tepati janjimu"
"Sekarang juga ya mas?" tanya Arini dengan menatap kedua bola mata Arsen. Padahal tadi pagi dia hanya bercanda tapi arsen malah menganggapnya dengan serius. Kalau sudah begini siapa yang merasa diuntungkan sekarang. Arsen membuka kancing kancing baju arini sambil mengecup lehernya hingga bulu kuduknya meremang. "Sekarang sayang, aku ingin menikmati tubuhmu sebelum aku benar benar pergi ke luar kota. Aku pasti akan selalu menghubungimu" Arsen menuntun Arini ke atas kasur kemudian menidurkannya dengan perlahan. Pelan tapi pasti Arsen terus membuka semua pakaian yang dipakai oleh arini sehingga dia bisa telanjang bulat seperti itu.
Dengan lembut Arsen mencium bibir Arini sambil terus melakukan aktivitasnya, rasa bibir Arini semakin manis ketika Arsen mulai menyesapnya. Dia bahkan memutar kepalanya hanya untuk mencari kenyamanan ketika mencium bibir Arini. Arini meremas kasurnya dengan kuat karena bagian bawahnya sudah berkedut, Arsen yang tahu Arini akan keluar langsung menghentikan pergerakannya. "Jangan keluar dulu sayang, aku masih belum selesai" bisiknya dengan pelan sekali. Arsen menurunkan kepalanya dan tepat berada di atas gumpalan daging empuk itu. Dengan jahilnya Arsen menjilat puncak dada Arini hingga Arini merasa kegelian. "Udah Mas, geli banget ih" ucap Arini. Tapi Arsen makin menjadi jadi hingga akhirnya tanpa sengaja Arini malah menjambak rambut Arsen.
"Awhhhhh" Arsen langsung menarik kepalanya dari atas dada Arini, kemudian dia menatap Arini yang hanya bisa menunjukkan wajah polos"
"Kenapa menjambakku?" tanya Arsen. Arini hanya menggelengkan kepalanya lalu menunjuk ke arah perutnya. Kalau sudah begitu Arsen sudah paham, Arini pasti memberinya alasan kalau itu adalah bayi mereka yang menginginkannya. "Kenapa ibu hamil selalu menyalahkan bayinya padahal dia sendiri yang menginginkannya" gumam Arsen dalam hati. Dengan berat hati akhirnya Arsen melanjutkan lagi kegiatannya, dia hanya bisa mencelupkannya saja tapi tidak bisa melakukan hal yang lain. Untuk saat ini Arsen bisa pasrah karena Arini.