
Sepasang suami istri baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Mereka meletakkan parang dan pisau mereka kembali di tempat yang seharusnya. Kemudian mereka duduk bersama di bawah pohon hutan yang begitu tinggi dan Rindang. "Kapan kita bisa menemuinya?" tanya sang istri pada suaminya. Suaminya langsung menoleh kemudian menjawab. "Sebentar lagi, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu dengan dia" Mereka adalah orang yang selama ini dicari oleh Arini dan mereka juga lah orang tua kandung Arini. Orang tua yang telah membuangnya ketika berusia sepuluh tahun. Mereka adalah Mario dan Cinta. Mereka adalah manusia pemakan manusia. Mereka juga tidak kalah mengerikannya daripada Mafia. Karena Jika Mafia membunuh maka merekalah yang memotong dan memakannya. "Sudah kubilang kan kalau kita masih punya keberuntungan karena tidak membunuh dia dahulu, seandainya saja dia benar benar mati mungkin kita tidak akan pernah punya kesempatan seperti ini lagi" ucap Mario pada istrinya.
"Dia sekarang hidup mewah tidak seperti kita yang cuma bisa memakan daging manusia. Meskipun itu sangat enak tapi tetap saja aku merindukan makananku yang dulu" Mereka dulunya sama seperti manusia pada umumnya yang suka memakan nasi dan lauk pauk seperti biasa. Tapi semejak hidup mereka sudah hancur, harta sudah hilang semua mereka berpindah untuk tinggal di hutan. Mereka sudah tidak punya apa apa lagi. Di hutan pun mereka tidak punya makanan. Hingga suatu hari mereka menemukan mayat yang membusuk di tengah tengah hutan. Karena tak ada pilihan lain akhirnya mereka merebus mayat itu dan dijadikan oleh mereka sebagai makanan sampai sekarang. "Sudah lah daripada mengingat masa lalu lebih baik kita harus berpikir bagaimana cara mendapatkan anak itu kembali. Aku ingin secepatnya dia berada dalam genggaman kita" ucap Cinta
"Kamu benar, kita harus secepat mungkin memikirkan hal itu" jawab Mario, suami dari Cinta.
.
.
"Mas, aku mau ke toilet dulu. Kamu jagain mereka sebentar ya" ucap Arini sambil berdiri. Arsen mengangguk tanpa menoleh sedikit pun. Setelah mendapat izin dari Arsen, Arini meninggalkan si kembar untuk pergi ke toilet. Toilet kantor memang sedikit jauh dari ruangan Arsen, Arini harus turun lift dulu. Dia menghela nafas panjang, untuk ke toilet saja dia harus pake lift. Bagaimana jika orang itu sudah kebelet banget. Pasti dia tidak bisa menahannya lagi. Sesampainya di toilet Arini langsung masuk ke dalam. Dia langsung melakukan tujuannya datang ke toilet. Tak berapa lama kemudian Arini sudah selesai, dia keluar dari toilet. Saat keluar dari toilet tanpa sengaja Arini menabrak seseorang. "Awhhhh" orang itu langsung terjatuh. Arini langsung mengulurkan tangannya. "Maaf saya tidak sengaja menabrak kamu" ucap Arini.
Wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Shena dia mendongakkan kepalanya dan kemudian dia terkejut ketika melihat siapa yang ada di depannya. Shena langsung berdiri dan menunduk dengan hormat pada Arini. "Maafkan saya bu, seharusnya saya lebih berhati hati dalam berjalan supaya tidak menabrak ibu"
Arini menarik tangannya kembali kemudian tersenyum. "Tidak apa apa, saya juga salah disini. Kalau begitu saya permisi dulu" Setelah Arini Shela menoleh kembali ke belakang. Dia melihat kepergian Arini dengan tatapan yang tidak bisa terbaca. "Dia seperti Barbie, sangat cantik. Pantas saja pak Arsen menyukainya" Gumamnya.