Hot Daddy

Hot Daddy
Restu pernikahan



Arini berjalan mengelilingi rumah bersama Mila, sedangkan Max dan Arsen ditinggal bersama Garda di depan. Arini menatap takjub rumah Mila, di dalamnya terdapat berbagai macam Lukisan yang Arini ketahui sebagai lukisan terbaik di dunia. "Oma perhatikan kamu sekarang semakin gendutan ya?" ucap Mila tiba tiba. Arini menghentikan langkahnya lalu menatap wajah Mila. "Masa sih Oma Arini gendutan?" Arini pura pura tidak percaya agar lebih meyakinkan. Mila mengangguk. "Tapi gendut itu kamu itu beda, kayak gendut orang yang lagi hamil gitu loh"


"Perasaan Oma aja kali, belakangan ini kan Arini tidak menjaga pola makan makanya jadi gendutan." Arini menggigit bibir bawahnya agar tidak keceplosan mengatakan sesuatu yang di luar batasnya. "Sampe kapan kamu akan berbohong sayang" batin Mila dalam hati.  Arini merasa ada yang tidak beres dengan pandangan Mila terhadapnya, tapi ia mengabaikannya saja. Lagi pula untuk apa ia memikirkan hal yang tidak penting seperti itu.


"Ya udah, ayo Oma Antar ke kamar kamu. Oma sudah menyiapkan semuanya sejak kemarin. Kamar warna pink sesuai warna kesukaan kamu" Mila tersenyum pada Arini. Meskipun dia wanita yang berkehidupan glamour, Mila juga sama seperti seorang wanita pada umumnya. Dia bisa memberikan kasih sayang yang tulus untuk anak anaknya. Setidaknya sejak Arsen mulai memaafkannya dulu. "Makasih Oma" jawab Arini sambil terkekeh.


Sedangkan di ruang keluarga, ketiga laki laki tersebut saling mengobrol satu sama lain. Hingga akhirnya Garda mulai memberikan pertanyaan yang misterius pada Arsen. "Tidak ada yang ingin kamu katakan pada papa, Son?"  ucapnya sambil merentangkan tangannya di sofa yang ia duduki. "Ada, dan Aku yakin papa sudah tahu semuanya" Arsen tersenyum penuh kemenangan pada Garda. Dia yakin Garda sudah mengetahui semuanya. "Ck, memangnya Papa tahu apa? Dan meskipun papa tahu kamu juga harus menjelaskan semuanya sekarang'


Max  yang sudah tahu mengenai pembahasan itu memilih diam saja. Dia tidak punya hak untuk ikut campur dalam bahasan ini. "Arsen akan menikahi Arini" Ujar Arsen pada akhirnya. Dia mengucapkannya dengan tanpa beban sekali, tidak ada rasa gugup sekali malah Arsen   tidak sabar untuk lekas memberi tahu Garda. "Yakin hanya itu? Bukan kah kamu juga meniduri Arini selama kalian tinggal bersama?" Garda menatap Arsen dengan penuh selidik. Garda sudah mengetahui semuanya tentang masalah itu, semuanya ia tahu. Tidak ada yang Garda tidak tahu jika itu menyangkut ketiga orang yang disayanginya tersehut. Max, Arsen dan Arini.


"Maksud papa?" Arsen mengenyitkan keningnya dengan bingung. Arsen memang berpikir Garda sudah mengetahui semuanya tapi ia juga tidak menyangka jika Garda juga mengetahui hal itu. Garda menghela nafasnya dalam. "Papa tahu kalau kamu sudah melakukan itu bersama Arini" Arsen langsung menoleh pada Max dan menatapnya dengan tajam. "Bukan Max yang memberi tahu papa" lanjut Garda yang membuat Arsen memutuskan pandangannya dari Max.


"Lalu?" Di kepala Arsen sekarang sudah penuh dengan tanda tanya besar. Pasalnya rumahnya sangat ketat dengan keamanan dan Arsen yakin tidak ada mata mata ataupun penyusup yang berhasil masuk ke dalam rumahnya. "Arsen, kamu itu adalah benih papa. Jadi papa tahu mengenai semua hal tentang kamu. Papa sudah memprediksi ini dari dulu, semenjak kematian istrimu. Tapi papa pikir itu rasanya tidak mungkin dan sekarang malah prediksi papa benar. Kalian saling mencintai"


"Baiklah, karena papa sudah mengetahui semuanya jadi Arsen tidak perlu menjelaskan dengan panjang lebar. Intinya adalah, sekarang Arsen akan menikahi Arini. Arsen datang kesini juga sekalian minta restu dari papa. Soal hubungan itu, Arsen tidak pernah memaksa Arini karena Arini sendiri lah yang memilihnya"


Garda sadar apa yang dilakukan Arsen dengan Arini memanglah kesalahan. melakukan hubungan intim tanpa sebuah ikatan yang sakral. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah tidak bisa dirubah lagi. "Dan kamu Max, papa harap kamu tidak melakukan hubungan tidak sehat seperti ini. Jika kamu mencintainya maka nikahilah dia. Jangan menunggu dia hamil anakmu dulu baru kau nikahi" pesan Garda pada Max. Bukannya tersinggung Arsen justru tersenyum lalu menepuk pundak Max. "Ayo kita menjadi brengsek bersama sama"


Pletakk


sebuah jitakan berhenti tepat di kepala Arsen. Garda menjitak keningnya. "Jangan ajak adek kamu jadi nakal. Satu aja bikin papa pusing apalagi kalau dua" Garda memijit pelipisnya dengan tangannya. Di usianya yang sudah tua seperti ini dia harus menjadi tumpuan anak anaknya. Terutama anak yang paling berbakti itu, sudah bertahun tahun tidak pernah ketemu dengannya dan sekarang sudah ketemu malah datang membawa kabar mengejutkan. Untung Garda tidak punya penyakit jantung.


Sedangkan di dalam kamar, Arini menunduk dengan penuh penyesalan. Terus terang saja dia merasa bersalah dengan Mila karena membohonginya. Apalagi Mila yang sudah tahu semuanya. Mila tidak marah, hanya saja dia sedikit kecewa dengan Arini. "Sudah lah, Mama sudah memaafkanmu. Kamu tidak perlu menyesal seperti sekarang."


"Mama?" ulang Arini. Mila mengangguk sembari tersenyum. Ia mengelus puncak kepala Arini dengan lembut. "Sekarang kamu bukan cucuku lagi, kamu akan segera menjadi calon mantuku" Mila terkekeh sendiri, menurutnya takdir itu sangat lucu. Dari yang dulunya menjadi  cucunya sekarang akan berubah menjadi calon mantunya. "Makasih Ma" batin Arini dalam hati.