
Setelah dibisiki oleh Via, Arini juga membaginya dengan yang lain. Mereka juga menunjukkan hal yang sama, wajah mereka langsung tersenyum ketika mendengar rencana itu. Sepertinya akan terasa menyenangkan jika Arini sendiri yang harus turun tangan. Tiba tiba ponsel milik Arini berdering, itu adalah panggilan dari Arsen. Arini menyuruh teman temannya untuk diam sebentar kemudian mengangkat telfonnya.. "Halo Mas" ucapnya ketika pertama kali mengangkat panggilan itu. "Halo juga sayang, gimana kabar kamu hari ini?" tanya Arsen dengan lembut. Arini melirik pada temannya kemudian dia menjawab. "Aku baik baik saja Mas, tapi aku bosan di rumah. mau ijin keluar sebentar boleh? Sama temen temen aku itu loh Mas. Mereka kan juga bakal nginap disini"
"Kamu mau keluar sama temen teman kamu mau ngapain? Mas tidak bisa kasih kamu izin sembarangan. Aku takut kamu kenapa napa jadi lebih baik kamu di rumah saja, jangan keluyuran kemana mana" jawaban itu sangat mengecewakan Arini, tapi emang dasar Arini dia melakukan berbagai cara agar di izinkan oleh Arsen. Arini terus merayu Arsen dengan gombalan gombalan receh yang ia punya.tapi hasilnya tetap saja Arsen yang menentukan. "Jadi izinin ya Mas? Sekali aja. Aku cuma pengen jalan jalan bareng mereka. Sudah lama juga kan aku tidak jalan sama mereka. Ya ya Mas? Izinin aku sekali aja." Seandainya Arsen dapat melihatnya mungkin Arsen akan luluh dengan wajah menggemaskannya itu.
"Baiklah, Aku akan memberimu izin. Tapi ingat kamu tidak boleh melewati batas. Lakukan hal sewajarnya saja. Jangan lupa makan sambil jaga kesehatan. Ngerti sayang?" tanya Arsen. Arini langsung mengangguk dengan cepat. "Ngerti Mas" jawabnya. Sambil menunggu Arini selesai telfonan, Via, Shila dan Gabriel berbaring di atas kasur Arini. Beruntung kasur Arini sangat luas dan masih sanggup walaupun harus menambah tiga beban lagi. "Gimana?" tanya Via sambil berbisik. Arini mengangkat tangannya dan menunjukkan jari jempolnya itu artinya semua baik baik saja dan menunjukkan kalau dirinya sudah mendapat Izin. "Ya udah sekarang kamu udah makan belum? Kalau belum makan dulu. Aku masih mau menyelesaikan pekerjaan dulu."
"Belum Mas, ya udah aku makan dulu. Semangat kerjanya yah mas dan cepat pulang. Emmuuaacchhh" setelah itu Arini benar benar mematikan ponselnya. "Jadi lo udah dapat izin nih? Jadi kapan kita bisa mulai?" itu adalah suara Gabriel yang saat ini sedang mengotak atik ponselnya. Shila membalikkan tubuhnya kemudian melihat ke arah Arini. "Besok aja dah, Arini sekarang harus istirahat. Jangan kemana mana dulu. Ingat kan tugas kita disini untuk apa? Untuk menemani dan menjaga Arini. Kalau soal urusan itu bisa belakangan" jelas Shila. Via dan Gabriel menatapnya dengan aneh, tumben sekali Shila berkata bijak seperti ini. "Apa?" tanya Shila dengan polosnya ketiga teman temannya melihatnya seolah olah ingin memakannya hidup hidup.
"Baik banget sih lo, teman siapa sih ini" dengan jahilnya mereka bertiga memeluk Shila dengan erat sampai Shila merasa sesak "Lepasin gue ih, kalian curang mainnya keroyokan" keluhnya tapi mereka tudak peduli nereka terus melanjutkan acara pelukannya. Lama kelamaan akhirnya Shila mulai rileks dia membalas pelukan ketiga teman temannya. "Tuhan, aku ingin bisa bersama mereka untuk selamanya" batin Arini. Dia tersenyum kenudian memeluk mereka dengan lebih erat lagi.
.
.
"Makasih" Max kembali melanjutkan pekerjaannya sambil meminum kopi yang telah dibuat Ririn"
Beberapa menit kemudian entah kenapa Max merasa sangat mengantuk sekali setelah meminum kopi itu. Dia mengangkat kepalanya dan melihat Ririn yang tersenyum manis sambil bersedekap dada. "Apa yang kamu masukkan dalam kopi saya?" Ucap Max dan setelah itu dia langsung tidak sadarkan diri dan tertidur. Ririn memapah tubuh Max dan memindahkannya pada Sofa, dia akan melakukan suatu rencana besar yang akan menguntungkan dirinya. "Bersiaplah sayang" bisiknya di samping telinga Max.