Hot Daddy

Hot Daddy
Max dan Via



Semenjak kejadian Arini yang menyelamatkan dirinya, sekarang Arsen membawa Arini pulang dari rumah sakit dengan menggunakan jasa sopirnya, Arsen tidak ingin kalut lagi. Meskipun saat ini pikirannya sudah mulai tenang. "Kamu masih sakit sayang?" tanya Arsen pada Arini yang tengah memeluknya dengan erat. "Tidak terlalu Dad" Arsen mengangguk dan mencium kening Arini dengan lama. "Besok kamu tidak lupa kan? Kita akan pergi ke jepang ketemu oma sama opa. Daddy juga sekalian minta restu sama mereka untuk menikahi kamu" ucap Arsen dengan gamblangnya.


Arini mengurai pelukannya dengan Arsen lalu mendongakkan kepalanya. "Restu Nikah? Kok Daddy gak ngasih tahu Arini dulu sih. Arini kan masih belum siap dengan reaksi Oma sama Opa. Apalagi kan selama ini mereka menganggap Arini sebagai cucu kandung mereka sendiri." lanjut Arini.    "Sayang, cepat atau lambat di dalam sini akan tumbuh Arsen junior. Dan Daddy mau sebelum Arsen junior itu tumbuh Daddy harus menikahi kamu" Arsen tidak ingin menunda lagi, Selain karena dirinya yang juga kebelet nikah sama Arini, Arsen juga mendapat tekanan dari pembaca Hot Daddy ini. Arsen bergidik ngeri ketika ia dihujat hanya karena terlalu kelamaan untuk menikahi Arini.


"Tapi kan Dad...." Arsen segera membungkam mulut Arini dengan bibirnya. Tidak ada ******* seperti biasa, ia hanya menempelkan bibirnya disana. "Lanjut Dad' bisik Arini dengan pelan agar sang supir yang mengendarai mobil mereka tidak mendengarnya. Arsen mengangguk tanpa pikir panjang lagi ia mulai ******* bibir Arini. Tapi Arsen tidak membiarkan Arini membalas ciumannya, Arsen menginginkan ia yang memegang kendali atas ciuman hari ini. Arsen meraup kasar bibir Arini dengan bibirnya, bahkan Arsen juga menjilat ujung hidung Arini dengan lidahnya.


Tangan Arini turun ke bawah dan mencari sesuatu, saat ia menemukannya Arini langsung membuka resleting celana milik Arsen. Sekarang Arini benar benar merasakan betapa besarnya milik Arsen walau masih terbungkus dengan celana Boxer. "Hisap sayang" titah Arsen. Matanya menunjukkan gairah yang kuat, ia mengambil sebuah remote kecil dan menekannya sehingga aktivitas mereka berdua tidak akan kelihatan oleh sopir. Dan selanjutnya jangan berharap mobil mereka akan tenang. Karena sopirnya saja sudah merasakan guncangan dari kursi belakang.


.


.


Drama rumah tangga antara Max dengan Via masih belum selesai, sedari tadi Max terus membujuk Via yang masih enggan berbicara padanya. Via masih terus menyalahkan dirinya atas kejadian Arsen yang bertemu Angel. "Via, Mas harus menjelaskan seperti apa lagi, Mas sudah menjelaskan semuanya kalau Mas juga tidak tahu dengan hubungan mereka di masa lalu." jelas Max. Via hanya melirik Max sebentar    dan kembali mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Yah, sekarang mereka sedang berada di sebuah cafe. Max yang mengajaknya kesini untuk membicarakan semuanya dengan Via.


Lama lama Max frustasi juga, menghadapi seorang wanita memang butuh kesabaran yang ekstra. Apalagi kalau wanita itu adalah pacar atau istrinya. Pasti tambah rumit. Laki laki memang ditakdirkan untuk selalu mengalah pada wanita. Tapi bukan berarti laki laki kalah dengan wanita, tapi karena laki laki menghargai seorang wanita sama seperti ia menghargai ibunya sendiri.  Via mencuri curi pandang ke arah Max, lama lama dia juga kasihan pada Max. Hatinya mulai melunak, sekarang dia sadar kalau dia sudah bersikap berlebihan pada kekasihnya itu.


Max membuka galerinya dan menunjukkan video Via yang sedang mengembungkan pipinya seolah olah di dalam mulutnya ada sesuatu. "Pipi kamu kayak bakpau kan?"


"Jelek banget ih, hapus enggak" ucap Via ketika melihat videonya sendiri. Max tertawa renyah lalu memasukkan kembali handphone nya ke dalam sakunya. "Mau pulang?" tanya nya ketika melihat jam yang sudah melewati pukul empat sore. Via akhirnya mengangguk lagi pula ia sudah cukup lelah dan lebih baik pulang saja. Dalam perjalanan pulang Via terus melirik ke arah Max, entah kenapa sekarang Via mulai merasa nyaman di samping Max. Tidak ada hal yang membuatnya menyesal karena telah menerima Max. Justru sepertinya Via beruntung karena bisa memiliki Max yang super sabar itu.


"Kenapa natap Mas kayak gitu? Ganteng ya?" ucap Max dengan pedenya. Max hanya bercanda saja lagi pula Via juga tidak akan mengatakan ia ganteng karena kekasihnya ini hanya sering mengatakan kalau dia kepedean. "Ganteng kok Mas, ganteng doang eh enggak deh ganteng banget' jawab Via dengan cengengesan. Max langsung menerbitkan senyumnya dan mengacak acak rambut Via. "Oh iya sayang, besok Mas, Arsen dan Arini mau terbang ke jepang. Kayaknya buat seminggu deh. Dan mungkin untuk sementara waktu Mas tidak bisa menghubungi kamu. Kamu tidak apa apa kan?" tanya Max dengan hati hati.


"Ke jepang? Kok mendadak gini sih Mas" Max menghela nafasnya lalu menoleh pada Via. "Ini sudah lama direncanakan sayang, cuma Mas lupa terus buat ngomongnya sama kamu" Via akhirnya mengangguk. "Ya sudah, hati hati aja ya Mas. Besok aku mau ikut ke bandara, mau nganter Mas sama Arini'


Max tersenyum lalu mengangguk. "Makasih sayang'


"Iya Mas"