
Setelah dari hutan, Arsen langsung pergi ke kantor. Dia tidak pulang ke rumah karena takut Arini bertanya perihal tangannya yang terluka. Arsen langsung melilitkan perban di tangannya. Kemudian menutupinya dengan kemeja kantornya yang juga dilapisi oleh jas. Dalam hal ini Arsen masih ingin terus waspada karena kedua orang itu tidak dapat ditebak. Bisa jadi mereka malah lebih licik dari Arsen. Arsen langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan hutan tanpa jejak. Mario dan Cinta mengawasinya dari jauh, mereka melihat kepergian Arsen dengan tenang. "Kita harus menetralkan racun yang ada di tubuhmu sebelum dua belas jam." ucap Mario sambil menarik tangan Cinta ke suatu tempat. Mario punya cara sendiri untuk menetralkan racun. Jika Arsen berpikir kalau racun itu bisa membuat istrinya tiada maka Arsen salah besar. Karena racun seperti itu tidak ada artinya bagi mereka.
Sepanjang menyetir Arsen terus tersenyum misterius. Dia tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui rencana apa yang mereka susun. Dan dia juga tidak bodoh kalau Mario bisa menetralkan racun yang dia berikan tadi. Racun itu hanya pengalihan. Karena racun yang sesungguhnya adalah dirinya sendiri. "Seandainya kalian tidak bertingkah aku tidak mungkin mau membunuh kalian. Tapi sayangnya kalian sudah membangunkan macan yang sedang tidur. Dulu kalian membuang Arini dan sekarang kalian juga malah ingin menghancurkannya lagi. Apa yang sudah menjadi milikku tidak bisa diganggu oleh orang lain. Termasuk orang tua seperti mereka" Arsen mengambil kaca matanya kemudian memakainya dan melanjutkan perjalanannya kembali.
.
.
Arini bermain main dengan si kembar di ruang tengah. Dia ditemani oleh Max yang sedang pusing karena Via sedang mencoba semua pakaiannya yang ada di lemari. Via mengeluarkan semuanya bersamaan dengan baju baju yang baru saja ia beli kemarin. Via bolak balik ganti baju hanya untuk mengecek apakah baju itu masih muat atau tidak. Sudah Max bilang pada Via agar tidak mencoba semuanya tetapi Via tetap saja ngeyel. Akhirnya Max memutuskan untuk turun ke bawah dan memilih untuk menemani si kembar. "Uncle mau gendong Rei, boleh kan?" tajya Max pada Arini. Arini langsung mengangguk saja karena itu membuat pekerjaannya semakin mudah untuk menjaga anak kembarnya. Rei pun diambil oleh Max dan digendongnya. Sedangkan Alea dan Aiden mereka malah asik sendiri. Arini melihat ke arah Aiden dan Alea secara bergantian. Sepertinya akan lucu jika Alea sudah bersama Aiden.
Arini memindahkan Alea ke box Aiden yang luas itu, dia terkikik geli ketika melihat Aiden yang langsung menoleh pada Alea. Sedangkan Alea tangannya tidak bisa diam. Hampir saja tadi tangannya kena wajah Aiden. Aiden melihat wajah Alea tanpa ekspresi. Karena jaraknya yang sangat dekat, Aiden menoleh tanpa sengaja juga mencium pipi Alea. Lesung pipi Aiden mulai kelihatan setelah dia tersenyum sehabis mencium Alea. Alea bukannya senang malah mewek. Matanya berkaca kaca dan kemudian mulai bersenandung tangisan. Arini tertawa melihat hal itu. "Aduh kenapa nangis sayang, abang cuma nyium doang" ucap Arini sambil mengelus wajah Alea. Tapi Alea tetap saja menangis walaupun tidak keras, tangannya bebas bergerak hingga juga mengenai wajah Aiden. Aiden yang tadinya tersenyum langsung berubah ekspresi kembali. Arini semakin tertawa melihat Aiden yang marah ketika wajahnya terkena tangan Alea.
Max baru sadar ketika Arini sudah di tangga bersama Via. Dia langsung mengembalikan Rei di box bayinya kemudian membantu Arini. Max langsung mengangkat tubuh Via kemudian membawanya turun tangga dan duduk di sofa. "Sudah kubilang jangan kamu coba semuanya baju itu. Kamu pasti kecapean kan gara gara ganti baju terus" Via hanya diam saja ketika diomeli Max karena dia tahu kali ini adalah salahnya karena tidak mendengarkan Max. "Aku mau nelfon dokter dulu khawatir kamu sakit. Sebentar"
Arini langsung duduk di samping Via. "Lo kenapa sih?"
"Gpp gue cuma ngerasa sakit sebentar gitu"
"Kalau udah hamil besar lebih baik lo banyak istirahat. Lo itu lebih nakal dari gue. Dikasih tau ini malah ngeyel" ucap Arini pada Via
Vis hanya terkekeh sambil mengelus perut besarnya itu.