Hot Daddy

Hot Daddy
Pesan dari Angga



Angga sedang mengajar di kelas Gabriel dan Shila. Hari ini dia memberikan tugas untuk kelas mereka. Tapi setelah memberikan tugas Angga langsung izin pergi. Dia terlihat seperti terburu buru sekali sehingga Gabriel pun merasa heran. "Pak Angga mau kemana tuh?" bisik Shila pada Gabriel. Gabriel hanya menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. Dia melanjutkan tugasnya dan mengabaikan teman temannya yang sedang berisik di kelasnya. Tak lama kemudian Gabriel mendapat pesan dari Angga. Gabriel melihat ke arah teman temannya kemudian membuka ponselnya secara diam diam.        " Saya ada keperluan sebentar tolong kamu awasi teman temanmu agar kelas tetap kondusif. Tugas yang saya berikan bisa kalian kumpulkan besok di meja saya. Dan satu lagi saya juga ingin kamu menjaga hatimu untuk saya"   Gabriel hanya menghela nafasnya kemudian meletakkan ponselnya kembali. "Kenapa Gab?" tanya Shila.


"Teman teman gue minta perhatiannya sebentar, tugas yang pak Angga kasih hari ini kalian bisa mengumpulkannya langsung besok di meja pak Angga. Pak Angga tidak bisa kembali lagi kesini dia ada keperluan mendadak." Setelah mengatakan hal itu Gabriel  langsung duduk kembali di tempatnya. "Itu berarti tugasnya gak harus diselesaikan sekarang kan Gab?" tanya Irfan salah satu Mahasiswa tercupu di kelas Gabriel. Pakaiannya yang terlalu nyentrik dengan kaca mata tebalnya yang menjadi ciri khas nya dan itulah yang membuatnya terlihat seperti orang yang cupu. Meskipun begitu tapi kemampuan otaknya sudah tidak diragukan lagi. Semua dosen sangat mengenalnya dengan baik karena kepintarannya itu. "Iya itu terserah lo aja sih, kalau gue sih lebih enak nyelesain sekarang aja soalnya pak Angga kalau tugas udah terlambat konsekuensinya adalah tugasnya ditolak. Lo tahu sendiri kan"


"Tapi gue udah kok Gab? Nih buktinya" Irfan mengangkat kertasnya kemudian menunjukkannya pada Gabriel. "Ya terus lo kalau udah kenapa nanya bambamg" ucap Gabriel dengan nada kesal. Irfan hanya menyengir pada Gabriel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Shila yang berada di samping Gabriel hanya bisa terkikik geli. "Lagian lo sih kenapa juga ngeladeni si Irfan. Udah tahu irfan orangnya nyebelin begitu masih aja diladeni" ucap Shila. Gabriel hanya menekuk wajahnya kemudian melanjutkan tugasnya yang belum terselesaikan. Shila tidak sengaja membaca pesan dari Angga di ponsel Gabriel. "Jangan cemberut saya tahu kalau kamu lagi kesal hari ini" Shila mengambil ponsel Via tanpa sepengetahuannya kemudian   membukanya. Dia sudah tahu kata sandi ponsel Via jadi mudah baginya untuk membukanya. Via sendiri masih belum menyadari ponselnya dipegang oleh Shila. Dia terus fokus mengerjakan tugas dari Angga. Shila senyum senyum sendiri sambil mengetikkan sesuatu.


Setelah selesai Shila menaruh ponsel Via kembali. Kemudian dia melanjutkan tugasnya sambil terus tersenyum. Gabriel menoleh pada Shila. "Kenapa lo? Senyum senyum sendiri gitu kek orang gila aja" ucap Gabriel pada Shila "Enggak tadi kak Dani cuma ngirim pesan romantis aja makanya aku senyum senyum kek gini" jawab Shila dengan kebohongannya. Gabriel hanya mengangguk. "Lo percaya Gab?" tanya Shila yang lagi lagi dijawab dengan anggukan. "Percaya aja soalnya orang kayak lo tuh emang sering terkena virus bucin makanya jadi seperti ini" Shila hanya cemberut tapi tidak lama karena dia punya sesuatu yang sangat ditunggu kabarnya hari ini. "Sorry Gab, kalau gue gak gerak lo bakal diam di tempat, gak ada kemajuan sama sekali"


.


.


"Alea kok digendong? Rewel lagi ya Mas?" tanya Arini sambil meletakkan bekal Arsen di samping tas kerjanya. "Iya tadi pas aku cium dia langsung nangis. Ya sudah sekarang kamu aja yang gendong Alea. Aku mau berangkat ke kantor. Klien ku tidak bisa menunggu lebih lama lagi" Saat Arsen akan memberikan Alea pada Arini, tiba tiba Alea menangis lagi. Arsen menenangkannya sebentar kemudian mencobanya lagi dan ternyata masih sama. Alea tidak mau digendong oleh Arini. "Alea terus menangis, aku bawa ke kantor saja ya." ucap Arsen pada Arini.  Arini menghela nafasnya kemudian menatap wajah sang suami. "Tapi nanti pekerjaan Mas bisa terganggu, bukannya Mas bilang ada meeting dengan klien?" Arsen mengangguk lalu melihat wajah Alea. "Aku bisa mengatasinya, kamu di rumah saja dan jaga Rei dan Aiden baik baik" Arsen mencium kening Arini seperti biasa. Kemudian mengambil tas kerjanya bersamaan dengan bekal yang Arini siapkan. "Aku berangkat dulu"


"Hati hati Mas" jawab Arini sambil mengantar Arsen ke depan. Kali ini arsen tidak menyetir sendiri karena dia harus membawa Alea bersamanya. Arsen menggunakan supirnya untuk mengantarnya ke kantor. "Nanti Alea jangan rewel ya, Daddy mau kerja" ucap Arsen lalu mencium Alea lagi.