
Setelah mengobati dirinya sendiri, Arsen menyimpan kembali kotak P3K nya di tempatnya. Dia tidak membawanya ke rumah sakit karena dia masih bisa mengatasinya sendiri. Arsen benar benar sudah ahli dalam melakukannya karena itu bukan pertama kalinya dia mendapatkan luka. Luka itu tidak sebanding dengan lukanya yang dulu. Arsen kembali menutupi lukanya. Setelah itu ponselnya tiba tiba bergetar, Arsen mendapatkan satu pesan dari Max. Arsen langsung membukanya. Dan seketika itu juga dia langsung terkejut.
Max: [Foto] Arini pingsan.
Arsen langsung mengambil kunci mobilnya. Kemudian dia mengambil tas kantornya lalu pergi begitu saja. Arsen berjalan dengan setengah terburu buru. Wajah cemasnya tidak dapat disembunyikan lagi. Arsen benar benar khawatir. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Apalagi dalam kondisi yang seperti ini. Arsen langsung membuka pintu mobilnya kemudian masuk ke dalam. Dia langsung menghidupkan mobilnya kemudian pergi begitu saja meninggalkan kantor dan pekerjaannya yang masih belum beres .sesuai perintah Arsen, Rocky mengatur CCTV di seluruh ruangan kantor dengan bantuan OB. Dia tadi sempat melihat Arsen yang pergi dari kantor dan Rocky berpikir mungkin Arsen ada keperluan mendadak. "Tolong pasang di sudut situ" ucap Rocky pada salah satu OB. "Baik pak" jawabnya.
.
Max berusaha menyadarkan Arini, sedari tadi Rei terus menangis karena kehausan. Via yang juga harus istirahat sampai turun ke bawah untuk membantu menenangkan Rei. Tapi Rei masih tetap menangis. "Masih belum sadar Mas?" tanya Via pada Max sambil menepuk nepuk Rei dengan pelan agar berhenti menangis. "Belum, kamu tenangin Rei aja ya. Biar Mas yang urus Arini" Max mengambil minyak kayu putih kemudian menaruhnya di bawah hidung Arini. Tetapi Arini masih belum sadar juga. Rei semakin mengeraskan tangisannya hingga membuat Via kelimpungan sendiri. "Sssttt tenang dulu ya sayang, Mommy masih bobo. Rei sama Aunty dulu ya" karena masih belum berhenti juga akhirnya Via membawa Rei ke taman belakang rumah untuk mencari angin segar. Siapa tahu dengan berada di luar rumah bisa membuat Rei berhenti menangis. "Nah Rei disini dulu ya, jangan ganggu Mommy dulu" Via mencium Rei dengan gemasnya. Diantara mereka bertiga Via memang paling sering menggendong Rei. Dia merasa sangat dekat sekali dengan Rei.
Max langsung berdiri dan memberikan tempat untuk Arsen. "Aku juga tidak tahu, dia seperti sedang gelisah gitu. Lalu setelah itu tiba tiba pingsan begitu saja. Aku tidak tahu apa yang Arini pikirkan sampai gelisah seperti itu" ucap Max sambil memandangi wajah Arini. Arsen mengusap punggung tangan Arini. "Sayang bangun" ucap Arsen. Arini mengerjapkan matanya secara perlahan lahan. Dia membuka mata tapi dia terdiam sebentar. Arini tiba tiba menangis terisak isak. Dia langsung bangun kemudian langsung menghambur ke pelukan Arsen. Arini melirik Max tapi Max mengangkat bahunya tidak tahu. Arsen langsung membalas pelukan Arini sambil mengelus rambut panjangnya. "Kamu kenapa hmm? Apa yang kamu pikirkan sampe kamu bisa pingsan seperti ini?"
"Aku tidak tahu Mas, entah kenapa perasaanku tiba tiba jadi gak enak banget. Aku takut terjadi sesuatu dengan keluarga kita" ucap Arini pada Arsen. Arsen terdiam sebentar. Sebenarnya dia juga memiliki kekhawatiran yang sama dengan Arini. "Itu hanya pikiranmu saja sayang"
"Aku tidak tahu Mas" Arini semakin mengeratkan pelukannya pada Arsen. "Oh iya Rei mana?" tanya Arsen pada Max karena yang dia lihat sekarang hanya ada Aiden dan Alea. "Dia lagi dibawa Via ke belakang, tadi Rei nangis. Coba aku susul bentar" ucap Max. Arsen mengangguk sambil tetap memeluk Arini.