
"Apa kabar sayang?"
Tiga kata itu langsung terngiang ngiang di kepala Arini. Arini masih belum menyadari dengan apa yang terjadi di hadapannya. Dia hanya melihat dua orang tua yang bersama suaminya. Meskipun sudah lama tidak bertemu tapi Arini tahu kalau kedua orang itu adalah orang tua kandungnya. "Mama, papa" ucap Arini kemudian. Arini langsung memeluk Cinta lebih awal, dia sudah lama ingin memeluk ibu kandungnya sendiri dan sekarang keinginannya bisa terwujud. Cinta tersenyum lalu membalas pelukan Arini. Sekarang dia benar benar menyesal dengan perlakuannya pada Arini di masa lalu. Tidak seharusnya dia menyalahkan Arini atas semua kejadian itu. "Bella kangen sama Mama" ucap Arini sambil menyebut nama masa kecilnya. Cinta meneteskan air matanya. "Mama juga kangen sama kamu, maafin mama ya karena selama ini mama tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kamu. Mama adalah ibu terburuk. Mama tidak pernah memberimu kasih sayang yang cukup" Arini menggelengkan kepalanya sambil terus memeluk Cinta. Mario dan Arsen hanya saling bertatapan.
Arini kemudian melepaskan pelukannya lalu dia menghapus air mata Cinta. "Jangan menangis Ma" ucap Arini yang diangguki oleh Cinta sambil tersenyum. Kemudian Arini beralih pada Mario. Mario langsung membuka tangannya lebar lebar. Arini tersenyum lalu juga memeluk Mario. "Bella juga kangen sama papa, papa baik baik aja kan selama disana?" tanya Arini. Mario melirik Arsen kemudian menjawab. "Papa baik baik saja, suamimu benar benar mengurus kami dengan baik. Kamu benar benar beruntung bisa mendapatkan suami seperti dia, meskipun dulu sempat menjadi musuh papa" ucap Mario di akhir kalimatnya sambil terkekeh pelan.
"Daripada bicara di luar mending kita masuk aja ke dalam, biar ngobrolnya lebih enak" ucap Arsen mengalihkan perhatian mereka bertiga. Arini menguraikan pelukannya. "Iya, Ayo pa ma masuk ke dalam. Kita ngobrol di dalam aja ya" Dengan senang hati mereka berdua masuk ke dalam bersama Arsen dan Arini. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi mereka berdua.
.
.
"Alea, lo tahu gak sih di sekolah ini ada murid baru. Katanya sih masuk di kelas kita" Vina adalah sahabat terdekat Alea di sekolah, dia juga terlambat sehingga harus dihukum bersama Alea untuk membersihkan toilet. Dan sekarang mereka sedang berada di kantin karena Alea meminta Vina untuk menyusulnya.
Alea langsung menghabiskan makanan terakhirnya kemudian segera berdiri sambil melihat jam di tangannya. "Ayo kita masuk kelas, jam pertama sudah selesai. Pak Agam pasti sudah keluar dari kelas" Ajak Alea pada Vina. "Buruan keburu Bu Indri masuk ntar" sambung Vina lagi. Dan Akhirnya mereka berdua berjalan menuju kelasnya setelah melaksanakan hukuman.
Setibanya di depan kelas, Alea dan Vina masih mengintip intip untuk memastikan bahwa tidak ada guru dalam kelas. "Gimana Vin? Aman gak?" bisik Alea pada Vina. Via mengangkat jempolnya sebagai tanda aman untuk Alea. Alea bernafas lega lalu dengan santainya dia membuka pintu kelas dengan lebar. "Selamat pagi teman teman" ucap Alea sambil tersenyum lebar. Suasana sangat hening tidak ada yang menjawab sapaan Alea. Vina sedikit meringis ketika melihat tatapan tajam dari seorang wanita yang menggunakan seragam khusus guru. "Kok gak ada yang jawab sih" ucap Alea sambil berkacak pinggang. Vina menyenggol Arini untuk memberinya kode tapi sepertinya Alea tidak mengerti juga. "oh bagus ya kalian berdua, sudah datang terlambat sekarang malah bersikap santai"
Alea langsung menoleh ke sumber suara itu dan seketika dia langsung menutup mulutnya. "Kok ada Bu Indri sih" batin Alea. "Alea, Vina dari mana saja kalian, jam segini baru masuk kelas" ucap Bu Indri selaku guru bahasa indonesia mereka.
Alea berdeham sembari menormalkan ekspresinya yang kikuk tadi. "Kita habis dihukum bu tadi makanya telat masuk kelas" jawab Alea. Bu indri mengangguk. Lalu tatapan Alea beralih ke tempat duduknya yang sudah diisi oleh seseorang .Seketika matanya membulat melihat siapa yang duduk di bangkunya itu. "EH LO KAN COWOK YANG DI TOILET CEWEK TADI, NGAPAIN DUDUK DI BANGKU GUE" ucap Alea sambil berteriak dan menunjuk ke arah cowok tersebut. Vina menatap Alea dengan aneh. "Alea ini kelas bukan hutan jangan berteriak teriak seperti orang gila. Dan oh iya itu adalah Gevan dia murid baru di kelas ini dan juga teman sebangku kamu" ucap Bu Indri menjelaskan kepada Alea. "Dia jadi teman sebangku saya bu?" tanya Alea sambil melihat ke arah Bu indri.
"Iya Alea dan ibu harap kalian berdua bisa akur, kasian Gevan yang kalem duduk dengan macan betina seperti kamu"
"Uppssstt" Vina berusaha menahan tawa melihat sahabatnya dibilang macam betina. Alea hanya mendelik tak terima. Sedangkan Gevan dia tersenyum miring pada Alea sambil mengangkat sebelah Alisnya. Membuat Alea semakin sebal. "Selamat datang di kehidupan Gevan Alvaro manis" batin Gevan sambil terkekeh.