
Tanpa pikir panjang lagi Aiden langsung menyeret Gevan begitu saja. Mereka melewati koridor sekolah yang masih sangat sepi. Gevan yang tidak terima dirinya ditarik langsung menghempaskan tangan Aiden dan mendorongnya dengan keras. "Apa apaan lo narik gue, gue aja belum tau siapa lo main tarik tarikan aja" ucap Gevan sambil menatap tajam Aiden. Aiden tersenyum sinis dan memperbaiki kerah bajunya kemudian menunjuk Gevan dengan tangannya. "Ini soal Alea, kalau lo gak mau gue seret mending lo ikuti gue" Gevan mengangkat sebelah alisnya merasa heran. Dia masih tergolong anak baru disini jadi Gevan belum tau mengenai Aiden. Akhirnya mau tidak mau Gevan mengikuti Aiden yang berjalan menuju ke arah rooftoop. Gevan mengikuti dari belakang sambil melihat lihat ke semua orang. "Kalau dipikir pikir orang itu kok mirip Alea ya?" ucap Gevan dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Aiden dan Gevan sudah berada di rooftoop. Aiden mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam sakunya. Meskipun ia termasuk siswa teladan di tapi Aiden tidak segan segan untuk merokok di sekolah. Bahkan semua guru pun tahu akan tetapi tidak berani menegurnya. Apalagi Arsen juga termasuk donatur terbesar di sekolah ini.
"Lah lo ngerokok di sekolah? Gue laporin guru BK tau rasa lo"
Gevan merasa aneh aja dengan Aiden yang dengan santainya merokok di sekolah. Gevan saja tidak berani untuk merokok. Aiden langsung menoleh kemudian menyesap rokok yang sudah dibakarnya dengan korek api. "Laporin aja gue gak takut"
"Lo siapa sih? Ada hubungan apa lo sama Alea sampe sampe narik gue kesini"
Aiden menghela nafasnya kemudian menyandarkan dirinya di tembok sambil menyesap rokoknya. "Gue denger denger, lo pernah nyium adek gue. Punya nyawa berapa lo sampe berani menciumnya?" Ucapan Aiden biasa saja tapi mengandung arti yang sangat mendalam. Gevan bisa merasakan itu. "Gue gak pernah nyium adek lo"
"Emang lo tahu siapa adek gue?"
Gevan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Aiden memainkan rokoknya kemudian meneliti penampilan Gevan dari atas sampai ke bawah. Penampilan lumayan oke, fisik juga tidak begitu buruk. Tapi sayang Aiden belum mengetes mentalnya. Aiden tidak mau Alea berada di dekat orang orang yang hanya ingin merasakan kesenangannya saja. Apalagi yang dengan lancangnya mencium adik kesayangannya. "Gue peringatin sama lo jangan sekali kali mencium Alea lagi, dia adek kembar gue. Gue gak terima kalau Alea dicium sama bocah tengil kayak lo"
"Maksudnya kalian kembar?" tanya Gevan yang setengah percaya dan setengah tidak. Aiden mengangguk. Gevan memegang wajah Aiden dan memiringkannya ke kanan dan ke kiri. Dia masih tidak percaya kalau Aiden adalah kembaran Alea. Aiden mengenyitkan keningnya melihat tingkah konyol Gevan. "Gue gak percaya kalau cewek secantik Alea punya kembaran, mana kembarannya cowok pula
"Gak usah konyol, intinya gue mau lo jangan deket deket sama adek gue lagi"
Aiden membuang rokoknya kemudian menatap Gevan dengan tajam. "Kalau gitu, gue tunggu lo di rumah gue besok jam 7 malam. Ini alamatnya kalau lo gak dateng berarti lo gak usah deketin adek gue lagi" Aiden memberikan kartu namanya pada Gevan. Kemudian dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Gevan dengan seribu pertanyaan di kepalanya.
"Aiden Alaskara Stevano M, ternyata benar dia kakaknya Alea, calon kakak ipar gue" Lanjut Gevan kemudian.
Sebelumnya saya minta maaf karena jarang update
soalnya baru selesai ujian sekolah
Ini aja disempet sempetin buat nulis demi kalian.
Jadi maaf kalau tiap update dikit
mungkin mulai besok akan lebih dipanjangkan lagi
Sekian dan terima kasih