Hot Daddy

Hot Daddy
Masalah kantor



Setelah menghabiskan makanan, Arsen segera membayar semua makanan tersebut. Dia sangat terburu buru karena setelah ini Arsen akan langsung pergi ke kantornya kembali. Sementara itu entah karena kebetulan atau bagaimana Arsen malah mengantri di belakang Fian, Untung saja Angel tidak ada di samping Fian jadi Arsen merasa biasa saja. Sampai akhirnya Ponsel milik Arsen berbunyi dengan nyaringnya di tengah tengah keramaian cafe tersebut. Arsen mengambil ponselnya dan mengangkat nya dengan cepat. "Ada apa Rocky?" Yah orang yang baru saja menelfon Arsen adalah Rocky. "Jadi begini pak, keadaan di kantor sudah makin kacau. Kami butuh bapak disini. Karena para investor sepertinya akan menarik sahamnya kembali. Entah apa yang membuat mereka berpikiran seperti ini"


Arsen mengepalkan tangannya dengan kuat, dia tidak akan pernah mengampuni orang yang telah membuat perusahaannya di ambang kehancuran. Memang untuk saat ini Arsen belum mengetahui siapa pelakunya, yang pasti Arsen akan menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu. "Saya sudah pulang, kamu bisa jemput saya di Cafe XX sekarang juga" Di sebrang sana Rocky hanya mengangguk kemudian menjawab dengan sopan. Arsen langsung mematikan ponselnya begitu saja, dalam hati dia bersumpah untuk mencari tahu siapa orang yang ingin bermain main dengan perusahaannya ini.


Tanpa sengaja Fian menyenggol lengan kanan Arsen, Arsen langsung mendorong Fian. "Kalau jalan lihat lihat, kalau gerak hati hati, lihat orang di sekitarmu juga" ucap Arsen dengan nada menusuk. "Maafkan saya Mas, saya tidak sengaja" Fian menyatukan kedua tangannya seraya meminta maaf kepada Arsen. Arsen tidak merespon, saat tiba gilirannya Arsen maju kemudian memberikan kartunya. Setelah beberapa menit kartunya dikembalikan. Arsen memasukkan kartunya kembali ke dalam kantongnya. Kemudian dia langsung pergi.


Sementara Fian dia tiba tiba teringat sesuatu saat melihat Arsen. wajahnya sepertinya sudah tidak asing lagi. Tapi dimana Fian melihat wajah itu? Fian berpikir keras kemudian saat tiba gilirannya untuk membayar Fian masih belum ingat juga. "Ya sudahlah mungkin aku pernah bertemu dia di suatu tempat kemudian lupa begitu saja" Gumam Fian. "Berapa mbak?" tanya Fian. "Semuanya seratus lima puluh dua pak" Fian mengambil dua lembar uang berwarna merah kemudian diberikannya kepada mbak kasir yang tadi.


"Suamimu lama banget sih Rin" Gerutu Max. Dia sudah bosan menunggu dimeja mereka. Apalagi ponselnya sudah lowbat yang membuat Max tidak bisa main game lagi. "Nah itu Dia" Arini menunjuk ke arah Arsen yang sedang berjalan menghampirinya. "Dari mana aja sih, lama banget." Arsen tidak menghiraukan ocehan Max, dia lebih memilih memandangi istrinya terlebih dahulu. "Kamu pulang sama Max ya, aku harus ke kantor sekarang juga. Sebentar lagi aku pasti dijemput sama Rocky."


"Loh? Kenapa begitu? Kamu harusnya pulang dulu Mas. Mandi terus siap siap dari rumah. Kenapa langsung ke kantor seperti ini" Arini menatap wajah Arsen dengan sedikit mendongakkan kepalanya . "Iya, tapi masalah di kantor sudah semakin rumit. Aku harus menyelesaikannya dengan cepat. Kamu pulang bareng Max aja dulu ya" Arsen langsung menoleh pada Max. "Kamu pulang sama Arini, jaga dia dengan baik dan buatkan dia susu hamil ketika sampai rumah nanti. Kamu mengerti?"


"Benar pak, setelah tahu kalau anda sudah pulang mereka meminta anda untuk datang. Makanya tadi saya nelfon bapak karena sepertinya keputusan mereka tidak dapat diganggu gugat" jelas Rocky kepada Arsen. "Saya akan menyelesaikannya secepat mungkin" 


Sementara itu Arini sudah tertidur pulas di dalam mobil, dia sangat mudah sekali mengantuk ketika di perjalanan. Apalagi Arini habis melakukan perjalanan yang sangat jauh yaitu dari indonesia ke jepang dan dari jepang ke indonesia. Max memasukkan mobil ke halaman rumah mereka. Kemudian dia mematikan mesin mobilnya. Max akan membangunkan Arini tapi sepertinya dia tidak tega ketika melihat Arini yang tidurnya sangat pulas. Alhasil Max turun dari mobil terlebih dahulu, kemudian dia menggendong Arini dengan gaya brydal sytle. "Hamil hamil gini kamu masih tetap aja ringan" ucap Max.


Max masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan Bi Mina. "Loh Den, sudah pulang?" tanya Bi Mina. "Sudah bi, bibi tolong masukkan koper kita ke dalam ya. Aku mau mindahin Arini ke kamar dulu'


"Siap Den, kalau begitu bibi lakukan sekarang" Max mengangguk kemudian dia menuju kamar Arini dan Arsen. Max membaringkan Arini di atas kasur kemudian menyelimutinya. "Mimpi indah ibu dari calon keponakanku" bisiknya