
Dengan langkah nya yang lebar Aiden berusaha mengikuti Nana. Dia terus berjalan di belakang Nana sambil mengikuti nya dengan santai. Tapi sayangnya dia harus berhenti di tengah jalan karena Nana memilih pergi ke Toilet cewek. Aiden menunggu di luar selama beberapa menit. Kali ini dia harus yakin pada dirinya sendiri. Selang beberapa menit kemudian Nana keluar dari Toilet, tanpa pikir panjang Aiden langsung mencegat Nana di depannya.
Nana bergeser ke samping Aiden juga ikut bergesar, Nana bergeser ke kiri Aiden juga mengikutinya. Nana berdecak kesal ketika dia tidak diberi jalan untuk pergi. "Maaf, aku mau lewat. Sebaiknya kamu minggir dulu" ucap Nana berusaha sopan pada Aiden.
Aiden mengangguk tapi dia tidak semudah itu mengizinkannya. "Apa kabar Syifana Nadhifa Veroniza? Gadis yang dulunya dikabarkan meninggal dunia sekarang sedang berada di hadapanku"
DEG
Aiden mengetahuinya ketika ia tidak sengaja mendengar Nana yang menelfon Valdo. Aiden mendengar nya dari luar Toilet dan dia merasa kecewa karena selama ini ia hanya dibohongi saja.
Nana menatap wajah Aiden dengan teliti, sekarang dia ingat. Aiden adalah teman sekaligus penyelamatnya dulu. Pantesan wajahnya sangat tidak asing apalagi mirip dengan Alea. Sudah pasti Alea adalah adik yang sering diceritaka Aiden dulu. Sekarang dia tahu semuanya.
"A... A.. iden.... "
"Gimana Na rasanya hidup dalam kebohongan? Membohongi orang yang beneran tulus sama kamu apa kamu tidak merasakan itu? " Aiden menatap wajah Nana dengan sendu. Rasa rindunya juga bercampur dengan rasa kecewa . Mata Aiden ga bisa bohong, Aiden merasa ini benar benar lelucon bagi dirinya.
"Kamu tau Na? Aku selalu merindukanmu. Aku selalu menangisimu dan Aku selalu mengingatmu. Tapi kamu? Kamu membiarkan aku tetap seperti ini. Kamu masih hidup dan kamu memalsukan kematianmu agar aku tidak bersamamu lagi. Apa aku benar benar tidak Ada artinya bagi kamu Na? "
Nana meremas tangannya dengan kuat, hatinya merasa sesak ketika Aiden mengatakan semua itu. Apa yang dikatakan Aiden memang benar, Tapi di balik semua itu Nana punya alasan yang kuat untuk
semua itu.
"Aku tidak bermaksud Membohongi mu Aiden, aku melakukan semua itu demi kebaikanmu juga. Kamu pasti akan jijik saat bersamaku. Apalagi aku udah kotor udah gak suci lagi"
Beruntung lorong toilet sepi sehingga tidak Ada satu pun yang mendengar mereka. Nana mulai menangis dia tidak menyangka Aiden masih begitu baik padanya. Aiden langsung memeluk Nana dengan erat, dia meletakkan wajahnya di ceruk leher Nana. Aiden merasakan wangi ini setelah 2 tahun yang begitu lama. Aiden memang kecewa dengan Nana tapi Aiden lebih kecewa lagi pada Valdo yang membantu Nana. Seharusnya pria itu tidak melakukan itu. Aiden mengelus rambut Nana sambil memejamkan matanya, sifat dinginnya hilang saat ia bersama Nana.
"Adegan yang mengharukan" ucap seseorang dari kejauhan.
Itu adalah Icang, Vina, Rei dan Alea. Mereka berempat memutuskan untuk mengikuti mereka berdua dan mengintip tentang apa yang mereka, lakukan.
"Ternyata dia Kak Nana yang pernah Abang ceritain" Gumam Nana.
"Memang dia orang nya tapi wajahnya berbeda dengan yang dulu mungkin karena udah lama gain bertemu" timpal Rei.
"Terus sekarang mereka pacaran gitu? " tanya Vina penasaran.
"WOYYYYY JANGAN MOJOK DI TOILET"
Alea langsung membekap mulut Icang itu kemudian mereka bertiga menyeretnya sebelum Aiden melihat ke arah mereka.
"Awas aja kalian" batin Aiden. Dia tahu kedua adiknya mengintip sedari tadi. Ditambah si bocah tengil Icang yang mulutnya kek ibu ibu tukang gosip.
Aiden melepaskan pelukannya kemudian menggandeng tangan Nana. "Ayo ku antar kamu ke kelas"