Hot Daddy

Hot Daddy
Penderitaan



"Jadi gimana? Kamu mau balik ke indonesia lagi?" tanya Max, sambil membalas chat dari Via. Arsen mengambil satu bungkus rokok kemudian membakar ujungnya. kemudian dia duduk di samping Max sambil menyesap ujung rokoknya. "Tidak perlu, mereka sudah datang dengan sendirinya." Arsen mengambil remote Tv kemudian menekan satu tombol hingga layar lebar itu hidup dengan sendirinya. Dalam tayangan televisi itu dikabarkan jika Wira, Pengusaha yang juga termasuk jajaran paling kaya  dinyatakan hilang oleh polisi. Meskipun berada di jepang tetap saja berita itu masuk ke dalam saluran jepang.


Max mengetikkan balasan terakhir kemudian menaruh ponselnya di atas meja. Matanya langsung melihat ke layar televisi dengan fokus. "Cih, Si bajingan lagi" Decih Max. Arsen hanya meliriknya sekilas sambil terus menyebat rokoknya. Dia kembali mematikan televisinya, tapi tidak dengan mematikan menggunakan remot melainkan dengan pistol yang sedari tadi sudah dipegangnya. "Dor" Televisi yang tadinya masih bagus sekarang hancur berkeping keping. Untung saja Arini, Mila dan Gardan sedang tidak di rumah. Jika tidak mereka pasti akan heboh.


Arsen membuang rokoknya ke lantai rumah itu, kemudian dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan satu kartu kredit gold. Arsen langsung melemparkannya pada Max. "Bereskan semua pecahan itu dan itu akan menjadi milikmu" Arsen langsung pergi begitu saja setelah melempar kartu kredit itu. "Dasar Arogan" Dumel Max tapi dia juga tetap mengambil kartu kredit itu, dia pikir sayang kan kalau Kartu tidak bersalah itu harus dibuang. Lebih baik Max terima saja dengan senang hati.  Max mengambil sapu dan mulai membersihkan pecahan pecahan televisi itu. Jika begini caranya Lebih baik Max tidak usah bekerja saja, Max harus menjadu babu Arsen agar mendapatkan hal seperti ini.


Arsen memasang Earphone di telinganya kemudian menghubungi beberapa nomor yang dia kenal.   Beberapa kali dia mencoba untuk menelfon orang itu tapi tetap saja dia tidak mengangkatnya. Dan sepertinya kemarahan Arsen sudah berada di puncaknya, dalam kondisi seperti ini berani beraninya anak buahnya tidak mengangkat satu telfon pun darinya. Lihat saja Arsen akan memberikan mereka hukuman satu persatu. Akhirnya Arsen menghidupkan alat pelacak di dalam mobilnya dan menggunakannya sekarang.


.


.


"Ini semua salah Om, andai saja om tidak menyeret kita, pasti sekarang  kita tidak akan seperti ini" mereka bertiga sedang di kurung di bawah tanah terlebih dahulu sebelum dibawa ke tempat yang diperintahkan Arsen. Willy dan yang lainnya sedang menyiapkan kuali yang besar untuk Wira nanti. Mereka juga mencari kayu bakar untuk nanti mereka masak manusia. "Kok bisa salah saya? Seharusnya disini yang salah itu adalah kalian. Kenapa kalian bertindak di luar rencana kita?' kalian pasti sengaja untuk menggagalkan semua ini kan?"


 Mereka semua nya langsung terdiam begitu saja. Arsen masuk ke dalam dan memperhatikan semuanya, matanya yang tajam seolah olah sedang menusuk jantung mereka. "Kenapa saya menelfon kalian gak ada yang angkat?" ucapnya tanpa ada basa basi lebih dulu. Mereka semua hanya diam sambil terus menunduk. Sampai Akhirnya Felix membuka suaranya. "Maaf Tuan, kami punya alasan untuk itu. Kami sengaja mematikan ponsel di hp kami agar kami lebih fokus dalam menjalankan tugas dari tuan"


"Memangnya tugas apa yang aku berikan kepada kalian?" tanya Arsen dengan sedikit memancing. Sekarang gilirin Erzan yang angkat tangan. Erzan adalah anak buah yang paling tangkas jika markas sudah dalam keadaan bahaya. "Tuan menyuruh kami untuk memasak pria tua bangka itu dan juga membuat kedua bocah tengik itu menderita secara perlahan, perlahan, dan mati" jawabnya dengan tegas. Erzan mengatakannya sambil menatap kedua bola Arsen, sungguh berani sekali dia hari ini.


"Bagus, sekarang tunggu apa lagi. Cepat kalian siapkan semuanya"


"Baik tuan" jawab mereka semua dengan kompak. Lalu Arsen memilih menghampiri Langit dan Rendi yang sekarang wajahnya sudah menjadi babak belur. Mungkin sebelum sampai kesini Anak buahnya sempat memukulnya. Tapi baguslah, kalau begitu mereka membantu meringankan tugasnya dengan cepat. "Kalian berdua mau mati cepat atau lambat? Pilihlah salah satunya, akan ada hadiah buat kalian nanti"


"Tidak, saya tidak ingin mati. Biarkan dia yang mati terlebih dahulu" tunjuk Rendi pada Langit. Langit membulatkan matanya kemudian menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, saya juga tidak mau. Lebih baik bunuh saja dia terlebih dahulu karena dia yang banyak merencanakan hal licik untuk Arini" ucap Langit dengan membocorkan semua rahasia Rendi di belakangnya. Kemudian suasana hening sesaat sebelum Arsen terkekeh karena mereka. "Kalian tidak mau mati tapi kalian mencari masalah dengan saya? Mau kalian gimana Hah? Tapi tenang saja berkat kalian Singa saya jadi punya makanan lagi. Jadi siap siap ya, sebentar lagi saya akan membebaskan semua singa singa saya."


Arsen tersenyum menyeringai lalu pergi meninggalkan mereka, dan sekarang lihatlah apa yang akan Arsen lakukan terhadaap mereka.