
Setelah kembali dari cafe dan menyerahkan pesanan Arsen. Rocky lebih banyak melamun. Dan itu semua karena apa yang dikatakan Aiden tadi. Arsen sempat bertanya tentang wajah Rocky yang lebam dan penuh luka. Akan tetapi, Rocky malah mengalihkan jawabannya. Rocky tidak mau masalah ini sampai terdengar pada telinga Arsen. "Pekerjaanmu Sudan selesai, saya sudah tidak membutuhkanmu lagi sekarang. Jadi kamu boleh pulang lebih awal. Kelihatannya kamu juga sedang ada masalah pribadi" Ucap Arsen sambil mengotak atik laptop nya dan meminum secangkir coklat panas yang baru saja ia pesan tadi.
"Baik pak, Terima kasih" ucap Rocky sambil menunduk. Dengan langkah yang lesu Rocky keluar dari ruangan Arsen. Setelah Rocky keluar, Arsen langsung menyandarkan dirinya pada kursi kebesarannya. Dia cukup memperhatikan Rocky dari tadi. Dan Rocky memang benar benar tidak seperti biasanya. "Apa ini ada hubungannya dengan Alea? " batin Arsen dalam hati.
.
.
.
Jam 5 Sore
Arsen baru saja tiba di rumah setelah pulang dari kantor. Dia melepaskan Jas nya sambil melihat di sekeliling rumah yang sangat sepi. Arsen mengernyitkan keningnya dengan kebingungan. Biasanya jam segini Arini dan anak anaknya menunggu nya pulang di ruangan keluarga. "Sayang aku pulang" teriak Arsen berharap Arini muncul dan menyambutnya dengan senyuman. Namun tidak ada sedikit pun tanda bahwa Arini akan muncul dan menghampirinya.
Arsen mulai merasa ada yang Aneh, tapi tiba tiba Bi Sumi lewat di depannya dengan membawa nampan yang berisi makanan dan jus jeruk. "Loh, Tuan sudah pulang? " ucap Bi Sumi ketika melihat Arsen di rumah.
"Iya Bi, Anak anak sama istriku kemana Bi. Tumben hari ini gak ngumpul di ruang keluarga"
Bi Sumi merubah raut wajahnya dengan cepat. Arsen yang melihat perubahan ekspresi tersebut langsung bertanya. "Kenapa Bi? Mereka baik baik aja kan Bi"
Bi Sumi mengangguk. "Nyonya sama Tuan muda baik baik saja Tuan. Hanya saja Tuan Muda Aiden tidak mau makan selama seharian ini. Saya juga tidak tau pasti kenapa? Tapi saya sempat melihat Tuan Muda Aiden memukuli Sekretaris Anda di halaman luar tadi"
"Aiden memukuli Rocky? "
Bi Sumi mengangguk. Tanpa berkata apapun lagi Arsen langsung naik ke atas meninggalkan Bi Sumi sendirian. Arsen naik tangga dengan terburu buru. Selama ini Aiden tidak pernah memukul siapapun tanpa ada alasan. Arsen yakin Aiden pasti punya alasan yang kuat. Arsen sangat mengenal putranya itu.
Arini, Rei dan Alea. Mereka bertiga menunggu di depan pintu kamar Aiden. Berharap Aiden membuka pintu untuk mereka. Tapi Aiden tidak membuat suara sedikit pun sehingga Arini dan yang lainnya merasa khawatir. "Aiden sayang, Mommy mohon buka lah pintu nya nak"
"Dimana Aiden?"
Rei dan Alea langsung memeluk Arsen dengan kuat. Mereka seolah olah anak kecil yang takut kehilangan sesuatu. "Bisa kah di antara kalian menceritakan apa yang terjadi sama Abang? " Arsen melihat mereka dengan tatapan yang lembut. Dan akhirnya Rei menceritakan semuanya pada Arsen, mulai dari Aiden yang melihat Kissmark di leher Alea sampai akhir.
Setelah mendengar hal itu wajah Arsen tidak berubah sedikit pun. Arsen tetap tenang, dia tidak mau sifat yang dulu muncul kembali hanya karena masalah kecil ini. Arsen masih bisa mengatasinya dengan baik. "Sekarang kalian berdua masuk kamar dan istirahat, Aiden biar Daddy dan Mommy yang akan mengurusnya" Arsen mengelus rambut keduanya dan membiarkan mereka kembali ke kamar nya.
"Pintunya di kunci Mas. Aku takut terjadi apa apa sama Aiden" Arini menggigit ibu jarinya sambil terus merasa khawatir. Dia tidak akan tenang sebelum memastikan Aiden baik baik saja. Dia terus berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Aiden.
Sebagai seorang Kepala rumah tangga, Arsen langsung memeluk Arini dan menenangkannya. "Aiden pasti baik baik aja Okay, tenangkan diri kamu. Biar aku yang mengatasinya"
Arini tersenyum kecil sambil mengangguk.
Tidak ada jawaban dari dalam. Arini semakin khawatir dan mau tidak mau Arsen harus membukanya dengan paksa. Arsen mendobrak pintu itu dengan keras hingga langsung terbuka begitu saja"
Arini dan Arsen langsung masuk ke dalam dan menemukan Aiden yang duduk dengan tenang sambil memegang foto seseorang. Aiden tidak bergerak sedikit pun, matanya tetap fokus mengarah pada foto tersebut. Hanya air mata yang turun menetes di pipi Aiden. "Maafin gue Na, Maaf. Seandainya dulu gue ga telat bawa lo ke rumah sakit mungkin kita akan bersama sampai sekarang.
Maaf Na" Aiden memejamkan matanya dengan erat bahkan tangannya juga mengepal dengan kuat.
Arsen dan Arini saling melihat satu sama lain. Aiden juga tidak menyadari kehadiran mereka meskipun suara dobrakan tadi sangat keras. Aiden juga mengambil foto Alea yang juga bersama Nana. "Gue ga mau Alea seperti lo, sudah cukup gue kehilangan Lo Na. Gue sayang sama lo sebagai teman, dan gue juga sayang Alea sebagai abangnya. Gue ga becus menjaga kalian berdua"
Arini tidak dapat menahan lebih lama lagi. Dia langsung menghampiri Aiden dan memeluk nya dengan erat. Aiden langsung kaget ketika Arini tiba tiba memeluk nya. "Kenapa kamu menyembunyikan ini Aiden? kenapa kamu ga pernah mau cerita sama Mommy? Mommy ini ibu kamu, orang yang mengandung dan melahirkan kamu. Kenapa kamu tidak pernah bercerita sedikit pun pada Mommy"
"Tapi sekarang Mommy sudah tahu semuanya" lirih Aiden.
Arsen mendekat dan berjongkok di hadapan Aiden.
"Daddy selalu memaksamu untuk terlihat tangguh tapi Daddy tidak menyadari bahwa kamu juga punya kelemahan"
"Aku mohon Dad, Aku tidak mau Alea sama Om Rocky. Aku tidak percaya Om Rocky bisa menjaga Alea"
"Tapi Daddy sendiri yang mengizinkan Rocky untuk melanjutkan cintanya pada Alea? "
Aiden kaget dan langsung menatap Arsen dengan kecewa. "Aiden butuh waktu sendiri, sekarang kalian sudah mengetahui semuanya kan tentang Aiden"
"Kecuali satu yang belum kalian tahu" batin Aiden.
"Sebentar lagi Bi Sumi akan mengantarkan makanan, jangan sampai kamu tidak makan lagi. Kamu tetap harus utamakan kesehatan kamu"
"Meskipun Daddy merestui mereka, tapi aku juga tidak akan menyerah Dad"
"Itu hak kamu dan Daddy tidak akan melarangnya"
Arini mengelus rambut Aiden dengan penuh kasih sayang. "Mommy sayang sama kamu, jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dari Mommy.
Mommy merasa sakit ketika melihat Aiden, anak kesayangan Mommy tidak berdaya seperti ini"
"Maafin Aiden Mom"
Arini mengangguk sambil tersenyum. Dia melihat foto yang dipegang Aiden. Hatinya merasa tersentuh ketika melihat foto itu. Dimana Aiden menggandeng dua wanita di tangan kanan dan kirinya. Dan itu adalah Nana Dan Alea