
Sepulangnya Arsen dari tempat itu ternyata Arsen masih belum menyadari sesuatu tapi dari tatapannya dia seperti orang yang terlihat baik baik saja. Orang itu terus mengikuti Arsen dari belakang, dengan motor kecilnya dia berhasil mendahului pengendara lain dan dekat bersampingan dengan mobil Arsen. Sambil menyetir mobil Arsen mulai melepaskan topengnya, wajahnya berkeringat karena dia terlalu lama memakai topeng. Tapi hanya dengan cara itu lah dia bisa menjaga keamanan diri sendiri. Orang yang mengawasi Arsen masih diam di tempat, dia terus melajukan motornya tapi pandangan matanya tertuju pada sebuah mobil, yaitu mobil Arsen.
Saking lamanya dia melihat sampai akhirnya dirinya tidak sadar kalau di depannya adalah gang dan harusnya dia membelok tapi yang dilakukan pria itu adalah tetap lurus hingga akhirnya hal inilah yang terjadi. Pria itu malah menabrak pohon dan juga tertinggal oleh mobil Arsen yang semakin menjauh.
"Sial, kenapa harus menabrak pohon sih" Umpat pria itu sambil membangunkan motornya kembali. Dia bukannya kesal atau marah tapi dia hanya bersikap yang seharusnya saja.
Arsen tersenyum kecil, sangat tipis sekali bahkan itu tidak bisa dibilang senyuman. Saat tiba di rumah, Dengan enam bungkus bakso di tangannya Arsen masuk ke dalam rumah dan kebetulan sekali kedua pasangan itu sedang menonton televisi di rumah. Mereka berdua langsung duduk tegap ketika Arsen menyulurkan bakso di depan mereka. "Tadi aku membeli bakso lebih, makan lah dan tolong berikan pada Bi Mina satu aku ke atas duluan" saat Arsen akan naik ke atas Max mencegahnya dengan beberapa alasan. Tapi tatapan Max juga tidak seperti biasanya. Dia seperti menutupiŁ sesuatu. "Ada apa?" tanya Arsen.
"Kamu beneran habis beli bakso?" tanya Max dengan tatapan menyelidik. Arsen hanya menghela nafasnya dengan kesal kemudian menjawab pertanyaan Max. "Aku memang hanya pergi ke tempat restoran, itu pun hanya karena ingin membeli bakso Arini. Jika kalian ada yang mau protes dan mengajukan pertanyaan lebih baik nanti saja" Arsen langsung menaiki anak tangga dan naik ke atas.
Arsen membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali, saat dia menemukan Arini yang tengah fokus membaca sesuatu dengan kacamata di wajahnya . Arini langsung menoleh ketika indra penciumannya sangat meresahkan, Arini meletakkan bukunya dan membuka kacamatanya kembali. Kemudian dia duduk dengan benar seperti permintaan Arsen sebelumnya. "Udah dapet mas bakso nya?" tanya Arini. "Iyah, ini bakso terakhir tadi. Aku hampir saja kehabisan bakso di restoran itu." jawab Arsen dengan percaya diri. Arini mengambil bakso itu dari tangan Arsen kemudian dia juga memanggil Bi Mina untuk mengambilkan mangkok dan garpu. Tapi Arsen menyuruhnya jangan, karena dia yang akan mengambilnya sendiri.
"Kehangatan apa sih Mas? Ini sudah hangat jadi jangan hangat lagi, nanti yang ada malah jadi panas lagi" oceh Arini, dia sangat paham dengan kehangatan yang dilakukan versi bersama. "Cepetan mandi nya Mas, kita makan baksonya bareng bareng" teriak Arini dari luar kamar mandi. "Iya sayang" jawab Arsen. Tapi sepertinya Arini mendengar sesuatu yang aneh, seperti sebuah desahan. Arini memutuskan untuk mengintipnya dari lubang kunci tapi yang ia lihat adalah Arsen yang sedang melakukan naik turun di pahanya. "Astaga, suamiku ini benar benar mesum sekali"
"sssshhhh Arini putri Casanovia kamu adalah milikku sayang" itu adalah perkataan Arsen sebelum tubuhnya menggelinjang seperti kegelian gitu. Arsen menyelesaikan ritual terakhirnya dengan membersihkan kejantanannya yang masih tegak itu. Arini menggelengkan kepalanya.
Ternyata sifat mesum Arsen masih belum berubah, dia masih sama Arsen yang dulu. Cuma bedanya sekarang Arsen mau merubah dirinya untuk menjadi lebih baik. Arini melanjutkan untuk menyiapkan baksonya, semenjak dia hamil Arini memang selalu menyukai bakso. Kadang Arini juga menghabiskan dua porsi dalam satu kali makan. Beberapa menit kemudian, Arsen sudah selesai mandi. Kali ini Arsen keluar dengan sudah berpakaian lengkap. Meskipun di bawahnya hanya memakai Boxer dan Kaos T-Shirt yang dulu pernah dibelikan Arini sebagai kado ulang tahunnya. "Udah siap sayang?' tanya Arsen.
"Udah Mas, ayo makan"