
"Kalau gitu mama sama papa pulang dulu ya, sekali lagi mama minta maaf sama kamu atas perlakuan mama yang dulu. Mama benar benar menyesal Bella. Mama ingin memperbaiki semuanya dari sekarang" ucap Cinta sambil mengelus rambut Arini yang masih tergerai dengan indah meskipun umurnya sudah tidak semuda dulu lagi. Arini mengambil tangan Cinta kemudian menciumnya. "Aku sudah memaafkan mama sama papa jadi mama tidak perlu mengatakan hal itu lagi. Mari kita jadikan masa lalu sebagai pelajaran" Arini tersenyum dengan tulus pada Cinta kemudian mereka berdua saling berpelukan. Arsen hanya melihat mereka dengan rasa haru yang tinggi. Akhirnya Arini benar benar disayangi oleh orang tua kandungnya sendiri. Mario menepuk pundak Arsen hingga membuat Arsen langsung menoleh. "Makasih atas kesempatan yang kamu berikan kepada kami, papa harap kamu tidak akan melarang kami jika ingin bertemu dengan si kembar" ucap Mario sambil melihat wajah Arsen.
"Aku tidak akan melarang kalian, sudah sepantasnya kalian bertemu dengan mereka. Karena mereka adalah cucu sekaligus anak anak dari putri kandung kalian" jawab Arsen dengan tegas membuat Mario langsung mengangguk begitu saja. Arini melepaskan pelukannya dari Cinta. "Kalau gitu Bella antar sampai ke depan ya Ma" ucap Arini dengan menyebut nama kecilnya. Cinta melihat ke arah Mario sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak usah sayang lebih baik kamu istirahat saja" ucap Cinta.
"Biar aku saja yang mengantar mama sama papa, kamu istirahat di dalam kamar" Arsen mengarahkahkan pandangannya pada Arini. Arini menghela nafasnya lalu mengangguk. "Baiklah kalau begitu, mama sama papa hati hati di jalan. Nanti kapan kapan aku akan mampir sama anak anak" ucap Arini membuat Mario dan Cinta tersenyum secara bersamaan.
Arsen benar benar mengantar mereka sampai ke depan. Sebelum masuk ke dalam mobil Mario menatap Arsen sejenak. Kemudian mengatakan sesuatu dan Arsen langsung mengangguk. "Itu adalah tanggung jawabku" jawab Arsen sehingga membuat Mario tenang sekaligus lega.
.
.
Gevan ikut berdiri kemudian menyampirkan tas nya di pundak sebelah kanannya, tidak lupa dia juga merapikan rambutnya. "Ayo kita pulang, Alea" ucap Gevan sambil menyebut nama Alea.
"Gak apa apa kan gue manggil nama lo? Soalnya kalau nanti gue manggil sayang takutnya lo baper sama gue" ucap Gevan. Alea hanya tersenyum sinis kemudian dia mendorong Gevan hingga jatuh terduduk di kursi. Alea semakin mendekat pada Gevan. Dia memegang dagu Gevan dengan tangannya kemudian membuatnya mendongak ke arahnya. "Kita lihat siapa yang baper disini" Alea menurunkan pandangannya dari mata Gevan ke arah bibirnya. Dia langsung mendekatkan bibirnya pada bibir Gevan hingga hanya berjarak beberapa senti saja. Gevan meneguk ludah ketika melihat bibir yang berwarna pink cerah itu ada di hadapannya. "Berani juga nih cewek" batinnya. "Duh kok dia kelihatan santai banget sih" gumam Alea dalam hati.
"Cupppppp" Sebuah kecupan langsung mendarat di bibir Alea. "Thanks ya, lo sendiri yang ngasih jadi jangan salahin gue"
Gevan berdiri kemudian langsung pergi begitu saja meninggalkan Alea yang sedikit syok sambil memegang bibirnya yang baru saja dicium Gevan. "Bibir? Anak baru? S**l kenapa aku harus melakukan hal itu tadi. Alea sebenarnya hanya ingin mempermainkan Gevan tapi sepertinya dia yang kalah. Senjata makan tuan itulah kalimat yang pas untuknya. "Enggak Alea, kamu harus bisa bales anak baru songong itu. Dia sudah merebut First kiss mu" ucap Alea pada dirinya sendiri.