
Setelah membuat Arini tertidur kembali Arsen membereskan semuanya. Seharian dia sudah capek mengurusi istri bawel nya dan sekarang saatnya dia untuk istirahat. Dengan sebungkus rokok di tangannya Arsen keluar kamar dan berjalan menuju ke arah balkon. Sudah lama dia tidak merokok dan sekarang dia akan merokok kembali. Setibanya di balkon Angin malam menghembus menerpa setiap bagian tubuhnya, Arsen mengambil korek api kemudian membakar ujung rokoknya. Baru setelah itu dia menyebat rokok lagi. Baru kali ini Arsen merasakan kedamaian dan ketenangan. Dulu ketika Arsen masih bersikap kejam, jam segini dia tidak pernah tidur karena tugasnya yang selaku untuk mencabut nyawa nyawa orang yang dibenci atau tidak disukainya.
Max baru saja keluar dari toilet, tidak sengaja dia melihat siluet seseorang. Karena penasaran Max pun semakin mendekat dan ternyata itu adalah Arsen. Max terus berjalan hingga sekarang dia sudah berada di samping Arsen. "Bagaimana kehidupanmu yang sekarang?" tanya Max sambil menatap lurus, menikmati pemandangan malam yang cantik dari atas balkon. Arsen menoleh sebentar kemudian menyesap rokoknya lagi. "Sedikit lebih baik daripada sebelumnya" jawab Arsen. Max mengangguk kemudian dia merebut bungkus rokok dari Arsen, Arsen yang terkejut langsung melihat ke arah Max. "Mau ngapain kamu?" tanya Arsen.
"Bukannya kamu bilang mau berubah, kamu juga harus berubah untuk satu hal ini, rokok tidak baik untuk kesehatanmu. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari" Max menginjak rokok itu sampai hancur, dia yakin Arsen tidak akan marah padanya karena semakin hari niat Arsen untuk berubah semakin besar. Arsen berubah hanya untuk calon anak dan istrinya. Dia takut suatu saat musuhnya akan menggunakan mereka untuk menyakitinya. "Terserah kamu saja, aku tidak hanya punya satu rokok. Aku juga punya pabrik rokok jadi kalau kamu mau aku bisa menjualnya juga" ucap Arsen dengan entengnya. Max menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, asalkan kamu jangan merokok saja itu sudah cukup."
Arsen mengangguk lalu kemudian dia mulai memperhatikan tubuh Max yang semakin hari semakin berisi padahal dia sudah rajin berolahraga. "Kamu olahraga bukannya ngurangi lemak malah nambah banyak lemak" heran Arsen. Max melihat keadaannya sendiri, memang sih tubuhnya sudah tidak seperti dulu. Sekarang perutnya dipenuhi dengan lemak lemak yang tak berharga. "Ini sih bukan gara gara olahraga, tapi Via yang selalu menbuatku makan banyak makanya seperti ini" jawab Max. Arsen sedikit terkekeh kemudian dia merangkul bahu Max dari belakang. "Gimana kalau kita minum bersama hari ini?"
"Minum? Bukannya...." Arsen langsung membungkam mulut Max dengan tangannya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun juga yang dapat melihat mereka. "Sstt tolong kecilin volume suaramu, jangan sampe Arini tahu hal ini. Cukup kita berdua saja. Lagian sudah lama kita tidak minum bersama. Bukankah begitu?" Max berpikir sejenak sebelum menyanggupinya kemudian dia ikut membalas rangkulan Arsen. "Baiklah brother, mari kita minum bersama hari ini"
.
.
"Enggak, kamu gak boleh melihat benda ini. Ini adalah hal yang aku simpan selama bertahun tahun." Arini tentu saja semakin penasaran setelah mendengar hal itu. Dia berusaha untuk mengintip dengan berjalan ke samping kanan dan kiri. Tapi Arsen masih tetap menghalanginya.
Dengan wajah cemberut Arini meghentakkan kakinya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah ini mereka akan pergi ke dokter kandungan. Arsen bernafas lega karena berhasil menyelamatkan benda itu dari genggaman istrinya, mulai sekarang dia akan memindahkan semua benda kesayangannya dulu. Arini tidak boleh tahu sedikit pun. Meskipun Arini tahu, sebenarnya juga tidak akan berpengaruh sih. Hanya saja Arsen masih belum siap untuk memberi tahu Arini, dia akan menyimpan semuanya dulu.