
"Gabriel, gue duluan ya, Kak Dani udah jemput gue di depan. Lo lebih baik pergi ke gerbang aja deh soalnya ada yang nunggu lo disana" ucap Shila pada Gabriel saat mereka baru saja keluar dari kelas. "Emang siapa yang nungguin gue? Gue gak pernah bikin janji sama orang juga" heran Gabriel dengan kebingungan. Shila tersenyum tipis yang tidak disadari oleh Gabriel. "Udah pokoknya lo harus pergi ke gerbang kasian dia udah nunggu lo, ya udah gue duluan ya" Setelah mengatakan itu Shila langsung menghilang dari pandangan mata Gabriel.Gabriel hanya menghela nafasnya dengan pasrah kemudian dia mengikuti saran Shila untuk pergi ke gerbang depan. Tapi saat dia tiba disana Gabriel malah tidak menemukan siapa siapa. "Shila pasti lagi ngerjain gue" Gumam Gabriel. Gabriel memutuskan untuk balik arah pada saat itu dia melihat seseorang di belakangnya. Orang itu memasukkan tangannya ke dalam sakunya sambil menatap lurus ke arah Gabriel. Yah, Yang Gabriel lihat adalah Angga.
"Pak Angga?" Gabriel menoleh ke semua arah barang kali dia salah orang. Dan disitu tidak ada siapapun lagi selain dirinya dan Angga. Angga berjalan mendekati Gabriel. "Tadi saya ada urusan sebentar makanya keluar dari kelas tapi tiba tiba kamu ngechat minta pulang bareng saya. Tumben kamu?" Angga terus melihat ke arah Gabriel. Gabriel mengangkat sebelah alisnya. "Kapan saya ngechat bapak? Saya tidak bermain ponsel sama sekali setelah bapak mengirimkan pesan pada saya" Angga mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan pesannya pada Gabriel. Disitu sudah jelas jika Angga datang kesini karena dia mendapat pesan bahwa Gabriel ingin dijemput olehnya. Gabriel menggelengkan kepalanya lalu dia juga membuka ponselnya. Gabriel benar benar tidak mengirimkan pesan apapun. "Lihat pak, saya juga tidak mengirimkan apapun loh. Disitu chat terakhir saya hanya membalas baik pak, begitu saja"
"Tapi di saya ada, saya sudah terlanjur kesini jadi kamu harus pulang bareng saya. Ya udah yuk" Angga langsung menarik tangan Gabriel dan membawanya ke mobilnya. Dia membukakan pintu mobil untuk Gabriel setelah itu mau tidak mau Gabriel masuk ke dalam mobil. Angga tersenyum kemudian dia juga ikut masuk ke dalam mobilnya. "Pasang sabuk pengamanmu" ucap Angga yang langsung diangguki oleh Gabriel. Mobil Angga pun meninggalkan Area kampus. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Gabriel masih memikirkan siapa yang berani beraninya mengirimkan pesan pada Angga. Karena sudah jelas sekali dia tidak bermain ponsel setelah mendapatkan pesan dari Angga. Tapi tunggu sebentar sepertinya tadi pas di kelas Gabriel duduk bersebelahan dengan Shila dan ponselnya dia taruh di atas mejanya. Gabriel langsung melototkan matanya. Sekarang dia yakin kalau ini semua adalah ulah sahabat gilanya itu. "Kamu melototi saya Gabriel?" tanya Angga sambil menoleh pada Gabriel.
"Engga pak bukan, sepertinya saya tahu siapa yang mengirimkan pesan itu pada bapak" Angga hanya ber oh ria dia tidak peduli siapa yang mengirimkan pesan itu yang penting sekarang dia bisa bersama dengan Gabriel di dalam mobilnya. Gabriel melihat ke arah luar jendela. "Awas aja lo Shila" gumamnya dalam hati.
.
.
Rocky mengangguk kemudian dia menunggu Arsen. Arsen menggulung jas nya semakin ke atas lagi. Kemudian dia mengambil kantong plastik yang tadi.
Arsen membuka popok Alea secara perlahan lahan. Dan Rocky melihatnya. Dengan telaten Arsen melepaskan popok Alea kemudian dia memasukkannya ke dalam kantong plastik. Jujur saja meskipun Alea masih bayi dan minum Asi tapi bau Pup nya sungguh menyedapkan hidung. Rocky sebenarnya ingin menutup hidung tapi berhubung dia adalah putri dari bos nya jadi Rocky tidak berani melakukan itu. Arsen mengambil tisu basah kemudian mengelap bagian bawah Alea dengan itu dan membuangnya ke dalam kantong plastik. "Tolong buangkan ini"
"Saya pak?" tanya Rocky sambil menumjuk dirinya sendiri. Arsen mengangguk. "Siapa tahu pup putri saya bisa meniadi berkah buat kamu" jawab Arsen dengan santainya. Dengan wajah memelas Rocky menerima kantong plastik itu kemudian berpamitan pada Arsen. Untung saja Arsen adalah bos nya jika tidak Rocky pasti menolaknya mentah mentah. Setelah Rocky pergi baru lah sekarang Arsen menatap Alea. "Kamu sangat pintar membuat orang orang kantor susah nak, terus repotkan Daddy mu maka Daddy juga akan terus merepotkan Rocky" ucap Arsen sambil tertawa. Alea juga ikut tertawa meskipun dia tidak mengerti apa yang dikatakan Arsen.