Hot Daddy

Hot Daddy
Kegelisahan



Dokter datang untuk memeriksa keadaan Via. Max dan Arini menunggu di bawah sambil menjaga si kembar. Tak lama kemudian Dokter juga sudah menyelesaikan tugasnya. Dia melepaskan stetoskopnya lalu tersenyum pada Via. "Keadaan ibu baik baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu hanya kelelahan saja, untuk itu saya sarankan ibu tetap bed rest  dan jangan melakukan aktivitas yang berat berat" Via menyentuh perutnya sambil mengelusnya sebentar. "Dok apa saya bisa melahirkan bayi ini dengan normal?" Tanya Via pada Dokter Anisa, dokter kandungan yang dulu pernah memeriksa kandungan Arini juga. Dokter Anisa tersenyum kemudian menjawab pertanyaan Via. "Tentu saja bisa bu, Ibu dalam keadaan sehat dan kandungan ibu juga tidak bermasalah jadi ibu 98% bisa melahirkan secara normal. Sedangkan dua persennya melalui operasi khawatir ada kendala disaat melahirkan nanti"


Dokter Anisa membereskan semua peralatannya kemudian melihat ke arah Via lagi. "Apa ada yang ingin ibu tanyakan lagi?" tanya Dokter Anisa dengan lembut. Via menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan terima kasih. "Kalau begitu saya permisi dulu" Dokter Anisa tersenyum kemudian keluar dari kamar Via dan turun ke bawah untuk pulang. Max yang melihat Dokter Anisa dia langsung berdiri untuk menanyakan keadaan istrinya. "Bagaimana Dok keadaan istri saya?" Dokter Anisa tersenyum. "Istri bapak baik baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan" Max bernafas lega setelah mendengar hal itu. Kemudian dia mengantarkan Dokter Anisa sampai di halaman rumah mereka.


.


.


Arsen baru saja sampai di kantor, meskipun dia datang jam sembilan. Tentu saja tidak ada yang berani protes dengannya. Arsen berusaha menutupi tangannya dengan baik supaya semua orang di kantor tidak bertanya tanya. Saat melihat Arsen datang Rocky langsung tergopoh gopoh menghampiri Arsen. Dia seperti mempunyai kabar yang harus segera diberitahukan pada Arsen. "Selamat pagi pak" ucap Rocky sambil menunduk di hadapan Arsen. "Pagi" jawab Arsen. Rocky kemudian maju mendekati Arsen dan membisikkan sesuatu di telinganya. Arsen mengepalkan tangannya dengan kuat. Ternyata kecurigaannya benar benar terjadi. Orang itu sudah mulai bertindak bahkan sebelum Arsen mendatanginya tadi. "Ikut ke ruangan saya sekarang" Rocky mengangguk "Baik pak" jawabnya kemudian.


"Rocky saya minta kamu perketat keamanan kantor dan saya juga mau kamu tambahin CCTV di seluruh ruangan kecuali kamar mandi.  Sekarang juga. Kamu bisa meminta bantuan dari karyawan lain" ucap Arsen. Rocky mengangguk tapi sebelum itu Rocky sempat melihat tangan Arsen yang diperban meskipun sekilas karena Arsen membuka jas dan menggulung kemejanya sedikit. "Maaf pak tangan bapak sepertinya terluka begitu apa bapak baik baik saja?" Arsen melirik tangannya kemudian menurunkan gulungan kemejanya kembali. "Tidak apa apa kamu lakukan saja tugasmu dengan baik" ucap Arsen pada Rocky. Rocky kemudian mengangguk meskipun dia penasaran dengan tangan Arsen. "Kalau begitu saya permisi dulu pak"


Setelah Rocky pergi, Arsen mengunci pintu ruangannya secara otomatis. Dia kembali menggulung kemejanya sampai siku. Lukanya sepertinya parah karena sekarang darah yang merembes di perbannya juga semakin banyak. "Setelah semuanya ini aku harus berhati hati sama mereka" gumam Arsen.


Perasaan Arini di rumah benar benar tidak enak. Entah kenapa dia terus merasa gelisah dari tadi. Arini bahkan tidak bisa duduk dengan diam. Sedari tadi dia terus mondar mandir sambil melihat ke arah si kembar. "Kenapa perasaanku gak tenang seperti ini? Ada apa sebenarnya ini?" Max yang melihat Arini terus mondar mandir langsung menghampirinya. "Kamu kenapa?" tanya Max pada Arini. Arini menggelengkan kepalanya. "Aku gak tahu lagi uncle entah kenapa tiba tiba perasaanku jadi gak enak seperti ini. Seperti ada sesuatu yang sangat mengganjal di hati aku tapi aku juga tidak tahu apa itu"


"Coba kamu tenangkan diri dulu, mungkin kamu hanya khawatir berlebihan. Kamu pasti kecapean makanya kamu berpikir seperti itu" ucap Max sambil menenangkan Arini. Arini yakin dia tidak kecapean dan dia juga yakin kalau pikirannya saat ini benar benar sadar dan tidak terpengaruhi oleh apapun. Arini benar benar gelisah hingga Akhirnya dia tiba tiba pingsan begitu saja. Max langsung menangkapnya dengan baik. "Arini"  Max langsung menggendongnya dan menidurkan di sofa samping Box si kembar. Max berusaha menyadarkan Arini tapi Arini masih belum sadar juga. "Aku harus menelfon Arsen" ucap Max.