Hot Daddy

Hot Daddy
Bebas Hukuman



Di dalam mobil, tidak ada yang bersuara. Keduanya sama sama membisu. Apalagi Arini yang fokus menatap ke luar jendela. Mulutnya ingin mengoceh tapi ia rasa saat ini bukan waktu yang tepat. Arini harus mendekati Arsen dengan pelan. Seperti kata pepatah, biar pelan tapi pasti biar lambat asal selamat.


Untuk kedua kalinya ponsel Arsen berbunyi saat ada Arini di sampingnya. Arsen mengecek nama orang yang terus menelfonnya. Mesin rusak. Arsen mereject panggilannya, ia tidak mau berurusan dengan Linda sepagi ini. Biarkan saja dia marah, lagi pula Arsen hanya memanfaatkannya.


"Kenapa Direject Dad? Masa calon ibu Arini nelfon malah direject" Arini menahan tawa dalam hatinya, ia tidak sudi memanggil Linda dengan calon ibu tapi Arini hanya mencari muka saja di depan Arsen. Arsen menoleh pada Arini. "Daddy kan lagi nyetir kalau kita kecelakaan gimana. Lagian calon ibu kamu juga pasti ngerti kok"


Sial, Arini menjadi termakan omongannya sendiri. Arsen juga ikut ikutan memanggil Linda dengan calon ibu. Arini tidak bisa membayangkan jika suatu saat Arsen membawa Linda ke rumah. Entah apa yang terjadi dengan dirinya.


"Gimana kuliah kamu? Daddy rasa selama dua minggu ini tidak ada panggilan dari Dosen kamu." Arsen berbicara agar suasananya tidak terlalu sepi. "Arini udah gak buat masalah lagi Dad, udah bosan. Oh iya apa Daddy tahu kalau uncle Max suka sama sahabat Arini?"


Arsen mengerutkan keningnya. Ia tidak percaya  Max menyukai sahabat putrinya sendiri. Tapi dibanding Arini sih, Max masih wajar. Berbeda dengan Arini yang malah menyukai Daddy nya sendirinya. "Sahabat kamu yang mana?" tanya Arsen kemudian.


"Via Dad, Uncle Max juga mau dibuatin lukisannya. Nanti sore kalau ada waktu aku mau ngelukis. Tangan Arini sudah gatal untuk menyentuh kanvas dan kuas" Sambil menyetir mobil Arsen meletakkan tangannya di atas kepala Arini dan mengusapnya sebentar. "Jangan tinggalin Daddy ya, Daddy sayang sama kamu. Putri Daddy" tambah Arsen di akhir kalimatnya.


"Arini juga sayang sama Daddy" jawab Arini. Arsen mengangguk lalu menarik kembali tangannya dari kepala Arini. "Arini memang sayang sama Daddy, sayang sebagai seorang wanita pada pria yang disukainya' lanjutnya lagi.


Arini berjalan ke kelasnya dengan semangat, hari ini ia benar benar senang. Meskipun Arini harus berbohong soal Rendi yang tidak bisa menjemputnya. Nyatanya Arini menyuruh Rendi untuk tidak menjemputnya dulu. Arini melihat ketiga temannya yang lagi bergosip di bangku mereka. Dengan langkah pelan ia berjalan ke arah mereka. DORRRRRRR


"Eh ayam mati kutu makan monyet" latah Gabriel. Arini tertawa terbahak bahak melihat reaksi ketiga sahabatnya. Gabriel dengan latahannya serta Shila dan Via yang tampak Syok. "Sialan Lo Rin, jantung gue hampir copot nih" ucap Shila sambil mengelus dadanya.


"Tahu, entar kalau kita meninggal gimana. Lo pasti nangis kejer karena gak punya sahabat yang secantik dan sebaik kita" tambah Via. Gabriel menoyor kepala Via. "Lebay lo"


"Dih, lo tuh yang lebay sekali dikagetin langsung ngeluarin jurus latahnya. Mana latahnya gak elit lagi. Masa anak ayam mati kutu makan monyet?"


Via dan Shila juga mengangguk. "WAJIB POKOKNYA" "iya iya tenang aja, besok gue jalan bareng kalian" memang selama Arini masih dalam hukuman mereka selalu jalan bertiga, kadang mereka tidak mood untuk jalam jalan karena kurangnya satu sahabat mereka. Makanya mereka senang Arini bebas dari hukumannya.


Arsen baru saja tiba di ruangannya, ternyata orang yang menelfonnya tadi sudah menunggunya disana. Linda duduk dengan melipat kakinya hingga Arsen bisa melihat dengan jelas celana bagian dalam Linda. "Sudah ku bilang kamu tidak usah kesini ngapain ada disini?" Arsen melepas jas nya dan melemparnya ke atas sofa.


Linda tidak menjawab ia menghampiri Arsen dan duduk mengangkang di pangkuannya. Linda menempelkan belahan dadanya pada lengan Arsen, berharap laki laki yang ada di depannya ini tergoda dengannya. "Aku tidak suka diabaikan kamu tahu"


Melihat belahan Dada yang menantang siapa yang tidak nafsu, bahkan Arsen bergairah melihatnya. "Turun dari pangkuanku" ucapnya dengan dingin. Arsen tidak ingin melepaskan gairahnya dengan Linda. Lebih baik ia bermain sabun di kamar mandi dari pada harus bermain bersama Linda.


"Tidak, aku tidak mau. Lagian tidak ada orang yang melihat kita" Linda membuka tiga kancing kemeja Arsen sehingga ia bisa melihat otot perutnya yang sangat seksi. Linda meraba raba Dada Bidang Arsen, sesekali ia mengelus bulu dada Arsen. Linda menjilat bibirnya sendiri. Ia rela memberikan selangkangannya untuk Arsen jika Arsen memintanya. Arsen menghempaskan tangan Linda dan kembali mengancingkan kemejanya.


"Jangan ngelunjak, kamu harus ingat. Kamu cuma calon istri pura puraku. Bertingkah lah seperti calon istriku jika sedang di luar kantor." suara ketukan pintu menyadarkan mereka. Arsen langsung berdiri dan membuat Linda yang duduk di pangkuannya terjerembab di atas lantai. "Awhhhh" Linda meringis pelan ketika bokon* seksinya berciuman dengan lantai.


Rocky masuk dengan beberapa dokumen di genggamannya, Rocky heran ketika melihat Linda yang terduduk di lantai seperti itu. Apa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka?. Rocky kembali fokus dengan niatnya datang ke ruangan Arsen. "Maaf pak, ini dokumen dokumen penting yang bapak minta minggu lalu" ucap Rocky.


Linda yang merasa dipermalukan langsung berdiri dan menatap Arsen dengan kesal. Linda menghentakkan kakinya dan segera pergi meninggalkan Arsen. "Saya tidak mau ada kesalahan sedikit pun, kamu sudah memastikannya kan?'


Rocky mengangguk mantap. "Saya sudah mengeceknya pak dan semuanya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan bapak" Arsen mengangguk kemudian mengambil semua dokumen itu dari tangan Rocky. "Rocky, sekarang juga kamu perintahkan Dani dan Doni untuk menjaga di depan pintu ruangan saya, bilang pada mereka jangan pernah membiarkan orang masuk tanpa seizin saya."


"Baik pak, apa ada lagi?" Arsen mengangkat tangannya pertanda bahwa tak ada lagi perintahnya untuk Rocky. Rocky mengangguk lalu menunduk kemudian berjalan mundur dan keluar dari ruangan Arsen.


Arsen memijit pelipisnya, menjadikan Linda sebagai calon istri pura puranya tak pernah terfikirkan olehnya. Ia langsung bertindak tanpa berpikir. Ke depannya ia harus siap siap mengatur emosinya saat berhadapan dengan Linda. Linda benar benar wanita Agresif.