
Max mondar mandir gelisah di kamarnya, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam kondisi seperti ini Max tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya hanya tertuju pada satu masalah yang sebenarnya sangat ia hindari. Max mengacak acak rambutnya ketika perempuan gila itu terus terusan menerornya, satu satunya cara untuk membalasnya adalah dengan mencari bukti terlebih dahulu. Karena bukti yang bisa menguatkan semuanya bahwa dia tidak melakukan hal itu. Dering ponsel Max berbunyi, Max mengecek telfonnya dan ternyata adalah panggilan dari kakaknya sendiri. Dengan cepat Max menjawab panggilan Arsen. "Halo" ucapnya. Tidak ada jawaban dari sebrang sana dan itu berlangsung selama dua menit. "Kamu baik baik saja Max?" tanya Arsen tiba tiba.
"Maksudmu? Aku baik baik saja kok disini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kalau kamu tanya soal Arini dia juga jauh lebih baik daripada aku" Max tidak ingin Arsen mengetahui masalahnya karena dia ingin menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan orang lain. "Aku tahu permasalahanmu, jadi jangan mencoba berbohong kepada kakakmu ini" ucap Arsen. Di sana Arsen berusaha keras untuk tidak membentak Max, dia sangat kesal dengan Max yang kalau ada apa apa tidak memberitaunya. Kebiasaan itu sudah dimulai sejak Max kecil. Dia tidak gampang menceritakan masalahnya pada orang lain.
"Aku harus gimana seandainya Via melihat ini dia pasti salah paham, aku tidak ingin jika semua itu sampai terjadi. Aku tidak mau kehilangan lagi kak" ada nada getir yang terdalam dalam perkataan tadi. "Kamu tenang aja, secepatnya aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Tapi pertama, kamu harus jelasin dulu pada Via sebelum dia tahu dari orang lain. Percaya padaku, cepat atau lambat semuanya akan teratasi dengan baik" Arsen berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelesaikannya dengan cepat, jika tidak bisa dengan cara baik baik maka baiklah, ArsenĀ rela untuk menggunakan cara lama lagi untuk wanita licik seperti Ririn.
Di luar, Arini tidak sengaja mendengar perbincangan mereka tapi ia tidak mendengar semuanya. Arini hanya mendengar ketika bagian Arsen yang mengatakan akan selalu menolong Max. "Memangnya ada masalah apa uncle Max?" batin Arini dalam hati. Saat melihat panggilan mereka terputus akhirnya Arini mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. "Uncle lagi ngapain?" tanya nya dengan tiba tiba. Max terkejut dan langsung melempar ponselnya ke atas kasur, beruntung kasurnya empuk sehingga tidak terjadi apa apa pada ponsel barunya itu. "Kenapa kamu belum tidur? Ini udah malem?" tanya Max. Arini menggelengkan kepalanya lalu duduk di samping Max. "Enggak, aku tidak sengaja lewat kamar uncle tadi, terus tanpa sengaja aku dengerin omongan Mas Arsen. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan tadi?"
"Kamu udah dengar semuanya?" Max menoleh dan melihat wajah Arini yang sudah diolesi masker. Memang tiap malam Arini selalu menggunakan masker dan ketika ditanya dia pake masker apa dia tidak menjawabnya. "Aku hanya mendengar sedikit, itu pas bagian Mas Arsen bilang kalau dia akan membantu uncle. Apa sebenarnya ini Uncle? Apa Uncle menyembunyikan sesuatu dariku?" Arini terus menatap Max dengan tatapan yang menyelidik. "Tidak ada apa apa Arini, ini hanya masalah pekerjaan saja makanya Arsen akan membantuku" Alibi Max. Dan Arini pun mengangguk percaya saja.
"Kamu tidur sana udah malem, cuci muka mu dulu" Arini memutar kedua bola matanya dengan malas, dia tahu Maksud Max kalau berbicara seperti ini. "Bilang saja kalau Uncle mau menyuruh Arini pergi" ucapnya yang berhasil membuat Max tertawa. "Tahu aja kamu, tapi beneran kok, ini adalah pesan dari suamimu tadi. Jangan sampai tidur malam malam kasian dede bayinya." Setelah Max menyebut nama Arsen baru lah Arini mengerti sekarang. "Baiklah kalau gitu Arini mau pergi tidur dulu, good night Uncle"
Arini keluar dari kamar Max dan menutup pintunya, saat Max akan merebahkan diri tiba tiba Arini menongolkan kepalanya lagi. "Uncle, awas kalau tidur sendirian jangan suka main sama guling ya? Gak baik" Arini terkikik geli kemudian langsung pergi begitu saja. Max hanya bisa mengelus dadanya.
.
.
Arsen menyuruh salah satu anggota klannya untuk melacak nomor yang kemarin sempat menghubunginya. Nomor itu adalah nomor yang sama dengan nomor yang mengirimnya pesan dan foto itu. Arsen naik ke atas rooftop hotelnya dan menatap langit malam dimana Bulan masih bersembunyi di balik awan. "Sebentar lagi aku pasti akan menemukan siapa kamu" Gumamnya.