
"Alea, sudah berapa kali Mommy bilang kamu itu jangan membuat masalah terus di sekolah. Kamu itu cewek, gak sepantasnya kamu berantem dengan cowok apalagi cuma gara gara dia gak sengaja nyenggol kamu" ucap seorang wanita yang tengah mengomeli anak perempuannya di ruang tamu. Dia baru saja pulang dari sekolah Alea karena mendapat panggilan khusus dari sang kepala sekolah. Bukannya menyesal Alea malah menyengir di hadapan Arini. "Tapi Mommy tau sendiri kan Alea tuh gak suka disenggol" jawab remaja 17 tahun itu. Arini hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putrinya yang jelas jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. "Inget ya Alea Mommy mau ini yang terakhir kalinya kamu membuat masalah. Jangan sampe Mommy denger kamu membuat keributan lagi di sekolah." ucap Arini sambil mengelus rambut Alea dengan penuh kelembutan. Arini memang tidak pernah memarahi Alea karena dia tahu Alea akan lebih parah jika dia dimarahi.
"Siap Mom" ucap Alea sambil mengangkat tangannya. Kemudian Alea langsung mengecup pipi Arini dari yang kanan hingga kiri. "Sayang Mommy" ucap Alea. Arini hanya tersenyum. Setelah itu dia membiarkan Alea pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Setelah Alea kini gantian Aiden dan Rei yang baru saja pulang sekolah. Mereka melepas sepatu dan menaruhnya di tempatnya. "Bang, soal yang tadi jangan bilang sama Mommy ya" Rei terlihat sangat memohon pada Aiden. "Hmmm" jawab Aiden dengan wajah datarnya. Rei terkikik geli melihat wajah kulkas abangnya. Dia sudah terbiasa dengan hal itu. "MOMMY KU YANG CANTIK REI PUL....." Belum sempat melanjutkan Aiden malah memasukkan gulungan kertas ke dalam mulut Rei. "Berisik" ucap Aiden sambil berlalu pergi. Rei hanya mengelus dada sambil mengambil kembali gulungan kertas itu dari mulutnya. "Dasar abang kulkas" gerutu Rei.
Aiden langsung masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di kasur tanpa berganti baju terlebih dahulu. Aiden memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan lelahnya tapi itu tidak berlangsung lama karena tiba tiba saja pintunya terbuka dan masuklah Alea ke dalam kamarnya. Alea langsung naik ke atas kasur Aiden. Dia memiringkan tubuhnya sambil menumpu kepalanya dengan tangan kanannya. "Ada apa hmm?" ucap Aiden sambil membuka matanya dan melihat ke arah Alea. Untung saja yang masuk Alea bukan Rei, kalau saja Rei yang masuk mungkin Aiden akan melemparinya dengan bantal. "Alea pengen keluar tapi sama Mommy gak boleh sendirian. Jadi Alea mau ngajak abang keluar" ucap Alea sambil tersenyum manis pada Aiden. Alea tau Aiden pasti tidak akan bisa menolak permintaannya. Aiden akan bersikap dingin pada siapapun kecuali dengan Alea. Cuma Alea yang bisa mencairkan Aiden.
"Cepet ganti baju dan tunggu abang di luar. Ingat, pakai baju yang sopan. Kalau kamu sampe make baju kurang bahan lagi abang gak mau jalan sama kamu" ucap Aiden dengan matanya yang terus menatap Alea. Alea mengangguk senang. "Siap bos" Alea langsung berdiri kemudian turun dari kasur Aiden. Belum lima detik dia langsung berbalik dan mencium pipi Aiden dengan cepat. "Jangan lama lama ya bang" ucap Alea. "Hmm" jawab Aiden.
Rei sudah menduga Alea pasti akan berteriak seperti itu. Dia tertawa lebar. Rasanya sangat puas setelah dia mengerjai adik perempuannya itu.
Saat Rei berjalan lagi dia dihadang oleh dua orang laki laki yang sekarang berdiri dengan tegak di hadapannya. "Gawat" batin Rei dalam hati. Arsen dan Aiden menatap Rei dengan tajam. "Kamu apakan Alea, Reiden Alaskara Stevano?" tanya Arsen. Kalau Arsen sudah menyebut nama lengkapnya berarti ini alarm bahaya bagi Rei. Bisa bisa dihukum lagi dia. "Enggak kok Dad tadi Alea cuma ketakutan karena kecoa aja" jawab Rei sambil tersenyum supaya Arsen percaya padanya. "Jelas jelas dia menyebut kata Abang. Apa kecoa yang dimaksud itu kamu?" Rei langsung terdiam. Bisa bisa kena mental dia kalau menjawab Aiden. Dia sudah pasrah sekarang dengan nasibnya. Salah dia sendiri sih menjahili Alea disaat kedua pawangnya masih ada.