Hot Daddy

Hot Daddy
Romansa baru



Gabriel duduk di hadapan dosen barunya dengan gugup, dan Angga sebagai dosennya menyadari hal itu. Dia berpikir mungkin Gabriel  gugup karena menyukainya. Angga menahan senyum sebisa mungkin agar Gabriel tidak mencurigainya. "Ini saya sudah mengumpulkan tugas pak, tapi kenapa bapak masih memanggil saya kesini?" Gabriel terus menundukkan kepalanya dia tidak mau memandang wajah sang Dosen. "Ini tidak ada hubungannya dengan tugas Gabriel. Saya memanggilmu ke ruangan saya karena ada hal yang ingin saya bicarakan sama kamu" Angga terus menerus menatap Gabriel dia tidak pernah melepaskan pandangannya dari mahasiswinya itu. Lalu Gabriel memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan melihat wajah sang Dosen yang sangat populer di kampus karena ketampanannya. "Maaf, lalu apa yang ingin bapak bicarakan pada saya?"


"Mungkin hal ini akan mengejutkanmu, tapi disini saya mencoba untuk jujur" Angga menjedanya sejenak lalu tiba tiba dia mengatakan sesuatu yang membuat Gabriel kaget. "Saya menyukaimu Gabriel" Angga mengambil tangan Gabriel kemudian dia memegangnya erat erat. Diletakkannya tangan Gabriel di dadanya hingga Gabriel bisa merasakan detak jantung Angga. Gabriel melihat wajah Angga dengan tidak percaya. "Ya Gabriel, jantung saya selalu seperti ini ketika melihat atau berdekatan sama kamu" Karena merasa sudah tidak profesional Gabriel langsung mengambil tangannya kembali. Kemudian dia berdiri dan pergi begitu saja.


Gabriel berhenti ketika melihat Doni yang sedang menunggunya di depan. Dia ragu antara mau menghampirinya atau tidak. Tapi saat Gabriel berbalik Doni malah melihatnya duluan. Dia langsung memanggil nama Gabriel sehingga Gabriel tidak bisa menghindar lagi. Akhirnya Gabriel berbalik dan mau tidak mau dia harus menghampiri Doni. "Hai" sapa Doni ketika Gabriel menghampirinya. Gabriel hanya tersenyum canggung tanpa membalas sapaannya. Sungguh demi apapun dia tidak bisa berdekatan dengan Doni karena detak jantungnya selalu menggebu ketika bersama Doni. "Apa setelah ini kamu ada mata kuliah


lagi?"tanya Doni dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Gabriel. "Tidak ada" jawab Gabriel dengan singkat. Doni menyunggingkan senyumnya sehingga Gabriel mengalihkan pandangannya. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kamu bisa ikut denganku sekarang? Yah aku juga tidak akan memaksamu kalau kamu memang tidak mau"


"Aku bisa kok" jawab Gabriel tanpa pikir panjang lagi. "Ayo kita pergi sekarang" Gabriel mengangguk namun saat Gabriel akan pergi bersama Doni. Tangan Gabriel ditahan oleh seseorang. Gabriel langsung menoleh ke belakang. "Pak Angga?" Doni juga menoleh ke belakang, matanya langsung tertuju pada tangan Angga yang sedang memegang tangan Gabriel. "Kamu mau kemana?" tanya Angga berusaha santai padahal dia sedang menahan rasa cemburu di hatinya. Angga tidak rela melihat Gabriel bersama laki laki lain. Apalagi tadi Angga sempat melihat tatapan cinta dari mata Doni. "Tolong lepaskan tangan anda dari tangan Gabriel, disini anda hanya dosennya saja. Jadi anda tidak berhak tahu kemana pun Gabriel pergi"


Angga langsung melepaskan tangannya dari tangan Gabriel kemudian dia menatap ke arah Doni. "Saya mungkin hanya dosennya tapi saya menyukai Gabriel, saya hanya ingin mengetahui kemana wanita yang saya sukai akan pergi. Apa itu salah?" Doni menatap tajam  Angga yang dibalas juga dengan tak kalah tajamnya. Mereka saling bertatapan selama beberapa menit. "Sudah Pak, saya mau pergi sama Kak Doni dulu" Gabriel langsung menarik tangan Doni dan pergi dari hadapan Angga. Angga menghela nafasnya dengan kuat dan hanya memandang kepergian mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.


.


.


Pintu ruangan Arsen terbuka dengan lebar. Arini masuk ke dalam dengan hati hati. Bahkan Arsen masih belum menyadari keberadaan Arini. Arini tersenyum ketika melihat Arsen yang bekerja keras, akhirnya dia bisa menghilangkan sosok monster yang bersemayam dalam diri Arsen. Arini langsung memeluk Arsen dari belakang. "Udah selesai Mas?" tanya Arini. Arsen memegang tangan Arini yang melingkar di lehernya dan menciumnya. "Udah,  kamu mau jalan jalan?" Arsen menawarkan hal itu pada Arini karena dia tahu Arini mengalami kebosanan di rumah. "Memang boleh?"


"Boleh, karena aku yang akan menemanimu"


Arini langsung tersenyum dan mengecup pipi Arsen dengan cepat. "Makasih Mas, ya udah aku siap siap dulu" Arsen hanya mengangguk