
"Jadi kenapa dengan wajah lo? Habis jalan jalan sama Kak Arsen bukannya bahagia malah cemberut" tanya Via sambil mengambil tempat di samping Arini. Arini tidak menggubrisnya tapi lama kelamaan dia menoleh pada Via. "Eh Vi, Gabriel pernah cerita gak sih sama lo soal dosen barunya itu?" Via mengangkat sebelah alisnya, dia heran saja kenapa Arini bertanya tentang hal itu. "Pernah sih tapi cuma sekilas emang ada apa?" Arini menghela nafasnya kemudian dia membuka ponselnya dan menunjukkan rekaman suara yang durasinya cukup panjang. "Apa ini?" tanya Via dengan bingung. "Coba lo dengerin baik baik" Via pun menurut dia mulai memutar Audio itu dan mendengarkannya. Berbagai ekspresi yang sekarang Via tunjukkan setelah mendengar rekaman itu. "Jadi maksud lo? Pak Angga dosen baru itu adalah teman Kak Arsen?" Arini mengangguk seketika, dia masih tidak habis pikir kenapa dunia bisa sesempit ini.
"Tadi Mas Arsen mengundangnya cuma buat ngenalin pak Angga ke Gabriel tapi ternyata mereka malah sudah kenal duluan. Dan informasi penting yang wajib lo tau adalah Pak Angga jatuh cinta dengan Gabriel" Sekarang Via sudah benar benar terkejut, selama ini Gabriel tidak pernah cerita apa apa padanya. "Dari mana lo tahu kalau pak Angga jatuh cinta sama Gabriel?" tanya Via lagi. Arini hanya tersenyum kemudian dia mulai menceritakan semuanya pada Gabriel.
(Flasback)
"Tunggu tunggu sebenarnya kamu ngundang aku kesini selain untuk ngenalin pada Gabriel untuk apa lagi?" Angga menatap Arsen seakan meminta penjelasan. Kemudian Angga beralih menatap Gabriel lalu dia menyunggingkan senyum tipisnya. "Rencananya kalau bisa sih mau jodohin kalian berdua" Arini mencubit paha Arsen dengan kuat hingga membuatnya meringis kesakitan."Mas pikir ini jaman siti nurbaya pake acara jodoh jodohan segala?" Arini mendelik kesal pada Arsen yang dengan seenaknya menjodohkan sahabatnya dengan dosennya. "Tidak ada salahnya kan. Siapa tau mereka beneran berjodoh?" Arsen menatap Arini kemudian kembali melihat pada Angga. "Sebenarnya tanpa kamu perlu jodohin, Aku memang menyukainya. Ah tidak lebih tepatnya mencintai dia" Angga menatap lurus ke arah Gabriel. "Sebelum dia dibawa oleh teman cowoknya tadi aku sempat mengungkapkan perasaanku padanya"
"Bapak apaan sih? Harus banget ya ngomongin itu sekarang" Arini semakin tidak mengerti ada apa di antara mereka. Mereka seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar. "Saya hanya mengatakan yang sebenarnya Gabriel, jika kamu keberatan saya juga tetap akan mengatakannya" Gabriel semakin bersungut sungut dia menyesal karena pernah memuji ketampanan Angga dulu. Nyatanya orang yang ia puji adalah sosok yang menyebalkan sekali. "Jadi pak Angga serius menyukai sahabat saya?" kali ini Arini mencoba untuk bertanya pada Angga secara langsung. Dan jawabannya tetap sama Angga mengatakan iya untuk semua pertanyaan Arini
"Dan Gabriel kamu belum menjawab pertanyaan aku yang tadi"
"Jujur saja om, saya menyukai orang lain" Gabriel langsung mengatakan yang sejujurnya sebelum Angga semakin menyukainya. Dia harus menahan Angga agar tidak semakin dekat dengannya. "Aku tahu kamu menyukai Doni tapi apa kamu yakin jika Doni menyukaimu? Sedangkan dia saja tadi mengakuimu sebagai teman biasa. Mungkin Doni sudah mulai tertarik denganmu tapi dengan sifatnya yang begitu dia tidak akan maju maju. Doni tidak seperti Dani yang kalau menyukai seseorang langsung diungkapkan. Aku sangat mengenali bagaimana sifat mereka berdua. Dan aku rasa Doni tidak akan bisa. Dia tidak mempunyai keberanian untuk seorang wanita meskipun dia jelas jelas menyukainya."
Tanpa disadari oleh semua orang Doni mendengar semuanya, dia tidak benar benar pergi. Doni hanya pindah ke meja yang agak jauh dari mereka tapi untungnya dia masih bisa mendengarkan percakapan mereka. Doni merasa gagal ketika melihat semua dukungan padanya yang perlahan menghilang.
Sekarang Doni benar benar mengakui kalau dirinya tidak lebih dari seorang pecundang. Doni memanggil pelayan kemudian meminta Bill dan membayarnya. Setelah itu dia benar benar pergi meninggalkan Cafe itu. "Saya berharap kamu bisa memberikan saya kesempatan untuk mencintaimu lebih dalam lagi Gabriel. Itu pun jika kamu tidak keberatan dengan status saya sebagai seorang Duda." Gabriel menoleh pada Arini dan Arini menganggukkan kepalanya. "Saya akan memberikan kesempatan pada bapak tapi saya tidak bisa memastikan kalau saya bisa jatuh cinta sama bapak" Angga yang mendengar itu langsung tersenyum bahagia. "Tidak apa apa karena setelah ini saya yang akan berjuang untuk membuat kamu jatuh cinta pada saya"
(Flasback Off)
"Kalau gue jadi Gabriel sih gue lebih milih pak Angga daripada Kak Doni yang memberi harapan tapi tidak memberi kepastian."
"Gue juga pindah haluan aja deh, milih pak Angga aja meskipun dia duda. Sama kek Mas Arsen dulu"
Tiba tiba Arsen lewat di depan mereka berdua dengan keadaan bertelanjang Dada dan handuk yang melingkar di pinggangnya. "Duda itu lebih menarik sayang" Via membuka mulutnya ketika melihat Arsen dan dengan cepat Arini langsung menutup mulut dan mata Via. "Apaan sih Mas, cepat masuk ke dalam. Kalau mau pamer tubuh tuh bukan disini" Arsen hanya tertawa kemudian dia berlalu pergi. Dan Arini langsung melepaskan tangannya dari wajah Via. "Asem banget, tangan lo bau terasi" sebal Via. Arini hanya menyengir tak jelas.