
Rei mengantarkan Alea sampai ke dalam kelasnya. Di kelas Alea, Rei sempat bertatapan dengan Gevan sebentar karena setelahnya Gevan langsung mengalihkan tatapannya. "Ya udah abang tinggal dulu kalau ada apa apa bilang aja. Belajar yang rajin" ucap Rei sambil mengelus rambut Alea dengan gemas. Alea mengangguk kemudian berjinjit dan dengan sengaja mencium pipi Rei di hadapan semua teman sekelasnya. Bahkan Gevan pun melihatnya. "Makasih abang" Rei tersenyum setelah itu dia berbalik dan pergi meninggalkan kelas Alea. Setelah Rei pergi Alea langsung duduk di bangkunya sendiri. Sekarang dia kembali duduk di samping Gevan. Alea duduk dengan tenang sambil mengeluarkan headset dari tas nya. Alea memasangkan headset di kedua telinganya kemudian menyambungkannya di ponselnya. Alea melirik ke arah Gevan yang sedang sibuk menulis sesuatu di bukunya, biasanya Gevan selalu merusuh saat ada Alea di sanpingnya. "Van" panggil Alea pada Gevan.
Gevan hanya menoleh sebentar, tidak ada senyuman tengil di wajahnya sekarang Gevan malah berekspresi datar dan terlihat sangat biasa saja. "Apaan" jawab Gevan dengan jutek.
"Lo kenapa sih? Tumben amat lo diem"
"Lagi gak mood ngomong aja" Gevan mengabaikan Alea kemudian melanjutkan menulisnya. Karena tidak dihiraukan lagi Alea mengangkat bahunya dengan acuh tidak acuh.
Gevan memegang bolpoin nya dengan erat, sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak berinteraksi dengan Alea. Semenjak Gevan tahu mengenail silsilah keluarga Alea. Apalagi Ayah Gevan adalah rekan bisnis dari Arsen.
.
.
Rei bersiul dan berjalan menuju kelasnya tapi langkahnya berhenti ketika ada seseorang yang menghadanginya. Rei memutar bola matanya dengan malas. "Minggir lo" ucap Rei pada Siska. Ya orang yang ada di depannya saat ini adalah Siska. Siska menggelengkan kepalanya. "Gue masih sayang sama lo Rei, gue mohon kita balikan aja ya. Gue janji gak bakal selingkuh lagi" Sebenarnya Rei dan Siska memang pernah memiliki hubungan meskipun itu tidak bertahan lama karena Siska yang kepergok jalan dengan cowok lain hingga membuat Rei memutuskannya dengan sepihak. "Lo lagi ngemis atau minta dikasihani sih. Kalau iya sorry bukan disini tempatnya" jawab Rei. Rei melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya tapi Siska terus mengikutinya. Dan dengan beraninya Siska langsung menggandeng lengan Rei hingga membuat Rei berhenti melangkah. Siska tersenyum dan membatin. "Pasti dia udah maafin gue"
Rei menarik nafas yang dalam kemudian melepaskan tangan Siska dari lengannya dengan kasar. "Awwwwwww sakit Rei" ucap Siska sambil mengelus tangannya. Rei tersenyum miring kemudian memegang dagu Siska. "Sakit? Itu belum seberapa. Kalau sampe lo gangguin adek gue, gue bisa ngasih yang lebih sakit dari sini. Hati hati aja lo"
"Kalau gue nekat gimana?" Siska bersedekap dada seolah menantang Rei.
Rei mendorong Siska dan langsung pergi begitu saja. Hal itu membuat Siska semakin semangat untuk membalas dendam pada Alea. Gara gara Alea, Rei jadi semakin membencinya. Itu lah yang ada di pikirannya saat ini.
.
.
Rei masuk ke dalam kelas dengan wakahnya yang masih terlihat kesal. Hal itu tidak lepas dari perhatian Aiden. Rei langsung melempar tas nya ke bangkunya dan duduk di atasnya. "Kenapa?" tanya Aiden sambil menyalin PR nya.
"Siska berulah lagi, capek gue ngeladenin dia. Tadinya dia mau nampar Adek untung aku gagalin"
Aiden langsung menaruh buku dan bolpoin nya dan langsung pergi begitu saja tanpa berucap sepatah kata pun pada Rei. Tangannya mengepal dengan keras. Aiden berjalan menuju kelas 12 Mipa 5 kelas nya Siska. Di depan kelas 12 Mipa 5 terlihat sangat ramai. Mereka langsung terdiam setelah melihat keberadaan Aiden. Para cewek sibuk terpesona dengan Aiden. Aiden tidak mempedulikan hal itu dia langsung saja menerobos dan masuk ke dalam 12 Mipa 5 itu.
Aiden melihat Siska dan para dayangnya itu sedang bergosip. Tanpa pikir panjang lagi Aiden langsung menarik tangan Siska dan menyeretnya langsung. Siska yang belum siap dia hampir saja terjatuh kalau tidak menjaga keseimbangan. Dia sangat kaget karena tiba tiba ditarik begitu saja. "Ikut gue lo" ucap Aiden dengan nada dinginnya.
"Kamu?"